{"id":254292,"date":"2024-01-04T16:30:21","date_gmt":"2024-01-04T09:30:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=254292"},"modified":"2024-01-04T15:53:37","modified_gmt":"2024-01-04T08:53:37","slug":"kenapa-baliho-di-jogja-tak-kunjung-ditertibkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-baliho-di-jogja-tak-kunjung-ditertibkan\/","title":{"rendered":"Sudah Memakan Korban Berkali-kali, tapi Kenapa Baliho di Jogja Tak Kunjung Ditertibkan? Susah atau Memang Nggak Mau Susah?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali melihat baliho di Jogja yang bejibun adalah sebuah kewajaran. Menyaksikan secara langsung betapa keberadaan baliho mengerubungi setiap sudut daerah (termasuk daerah wisata) di Jogja membuat saya berpikir, ada baiknya daerah ini segera diberi predikat daerah khusus baliho saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja di masa kampanye adalah belantara baliho. Rasanya tidak ada ruang aman dan lengang yang tidak ada balihonya. Baliho layaknya simbol bahwa Jogja siap dan akan selalu siap dengan event politik lima tahunan itu. Satu yang pasti, bahwa baliho ini tidak saja dimulai saat pemilu datang, ia jauh sebelum itu. Bahkan sebelum marak baliho paling terkenal pada 2022 lalu, Kepak Sayap Kebhinekaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Baliho di Jogja sudah menelan korban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanggal 2 Januari kemarin, akun @JogjaUpdate memposting kejadian naas yang menimpa salah satu warga Jogja. Postingan tersebut seperti ini, \u201cTrotoar Jogja isinya iklan semua. Fokus liatin ke bawah jadi kejedot ujung iklan yang tajem. Tidak lupa pose dengan papan iklannya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Trotoar Jogja isinya iklan semua<br \/>\nfokus liatin ke bawah jadi kejedot ujung iklan yang tajem<br \/>\nTidak lupa pose dengan papan iklannya <a href=\"https:\/\/twitter.com\/PujiWidodo?ref_src=twsrc%5Etfw\">@PujiWidodo<\/a><a href=\"https:\/\/t.co\/wHE7kudRUG\">pic.twitter.com\/wHE7kudRUG<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/hMUI8DKOTz\">pic.twitter.com\/hMUI8DKOTz<\/a><\/p>\n<p>\u2014 jogjaupdate.com (@JogjaUpdate) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/JogjaUpdate\/status\/1742078272547225940?ref_src=twsrc%5Etfw\">January 2, 2024<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Postingan yang menyertakan tiga foto berbeda itu menunjukkan (Gambar 1) sebuah baliho yang sepertinya difoto dari belakang, (gambar 2) pelipis seseorang dengan luka kira-kira sejempol, serta seseorang berpose di samping sebuah baliho, sepertinya tempat blio kejedot ujung baliho dan menyebabkan luka di pelipisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Postingan yang dikirim oleh akun Twitter bernama <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">@PujiWidodo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> itu segera mendapat atensi warga. Hampir semua yang komen membenarkan bahwa baliho di Jogja itu jumlahnya sudah di luar nalar, bahkan cenderung mengganggu dan membahayakan. Ada juga yang sarkas perkara baliho yang (katanya) penempatannya memang seharusnya di trotoar jalan Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja ini sebenarnya agak aneh perkara baliho. Jika ada yang berani speak up dan bilang bahwa Jogja itu daerah baliho saya akan sangat sepakat. Tidak sekali dua kali baliho ini menjadi bahan perbincangan perkara mengganggu bahkan membahayakan. Pada Desember 2016 lalu misalnya, seorang<\/span><a href=\"https:\/\/news.republika.co.id\/berita\/oifggo361\/warga-sleman-tewas-tertimpa-baliho-paslon-pilkada-yogyakarta\"> <span style=\"font-weight: 400;\">warga Sleman meninggal akibat tertimpa sebuah baliho<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> paslon Pilkada di Terban, Gondomanan, Kota Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berlalu waktu, kejadian-kejadian membahayakan seperti baliho ambruk dan mengganggu lalu lintas seperti berita langganan. Di awal tahun 2022 saja, berita tentang berita baliho ambruk di Jogja bertebaran dari Januari Hingga Maret. Walau tidak (atau belum) ada korban jiwa seperti kejadian 2016, sepertinya Jogja tidak berbenah. Bayangkan, 2016 hingga 2022 itu adalah waktu yang cukup lama, ENAM TAHUN!!<\/span><\/p>\n<h2><b>Seberapa sulitkah menertibkan baliho?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berita baliho raksasa ambruk di perempatan<\/span><a href=\"https:\/\/jogja.suara.com\/read\/2022\/02\/10\/081500\/sulitnya-menertibkan-baliho-ilegal-di-jogja-pemiliknya-sulit-dilacak-hingga-bikin-pemkab-boncos\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Gejayan-Condong Catur pada awal 2022 lalu sempat menjadi viral<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Bayangkan sebuah baliho segede gaban ambruk di tengah jalan, seketika itu juga lalu lintas terganggu. Polisi dan pemerintah setempat bergerak cepat. Sehari saja jalanan sudah steril dan bisa dilalui kendaraan lagi. Perkaranya, polisi dan pemerintahan tidak berhasil menemukan si pemilik baliho. Katanya, baliho itu ilegal. Menjadi pertanyaan penting, kok bisa baliho yang gedenya nggak kira-kira itu tidak berizin alias ilegal? Aneh banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, saya mungkin akan percaya saja jika yang tidak berizin itu semacam spanduk-spanduk kecil yang saat ini berterbaran tidak karuan di seantero Jogja. Selain karena proses pemasangan tidak akan lama (semalam juga jadi itu satu ruas jalan), spanduk-spanduk kecil itu cuma butuh potongan bambu dan tali rafia atau kawat saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja akan sangat beda dengan treat untuk baliho yang ukurannya bisa sampai 3 m \u00d7 10 m. Belum lagi pemasangannya yang harus memanjat tiang-tiang tumpuan baliho yang tinggi banget itu. Peluang untuk tidak dilihat orang lain (termasuk yang berwenang) sangatlah kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan itu saja, menyoal perkara izin ini, beberapa baliho di Jogja bahkan menempatkan kontak jika sedang lowong. Ini berarti\u00a0 bahwa siapa pun bisa menghubungi si empunya papan reklame atau baliho tersebut. Sangat sederhana sebenarnya. Perkaranya jelas ada di niat pihak berwenang dan para pemangku kebijakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, jangan heran jika pada akhirnya pertanyaan seberapa sulitkah menertibkan baliho Ini akan langgeng dan sepertinya memang tidak akan ada jawabannya entah sampai kapan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Taufik<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/baliho-caleg-sudah-bertebaran-udah-nyolong-start-isinya-pun-nggak-kreatif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baliho Caleg Sudah Bertebaran: Udah Nyolong Start, Isinya pun Nggak Kreatif<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Butuh berapa korban lagi?<\/p>\n","protected":false},"author":50,"featured_media":254301,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[181,115,704,15204],"class_list":["post-254292","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-baliho","tag-jogja","tag-korban","tag-sampah-visual"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254292","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/50"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=254292"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254292\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/254301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=254292"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=254292"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=254292"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}