{"id":253974,"date":"2024-01-04T11:15:06","date_gmt":"2024-01-04T04:15:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=253974"},"modified":"2024-01-05T18:12:20","modified_gmt":"2024-01-05T11:12:20","slug":"sinetron-indonesia-kalah-telak-dibanding-drakor-dan-dracin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sinetron-indonesia-kalah-telak-dibanding-drakor-dan-dracin\/","title":{"rendered":"Sinetron Indonesia Kalah Telak Dibanding Drakor dan Dracin, Alur Ceritanya di Luar Nalar"},"content":{"rendered":"<p><em>Nonton sinetron Indonesia bikin malu saja, apalagi kalau sudah dibandingkan dengan drakor dan dracin.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak terlalu suka nonton TV. Baru belakangan saya kembali nonton TV lagi karena sering membantu ibu saya menyalakan televisi. Sejak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesan-kesan-yang-saya-dapat-setelah-migrasi-ke-tv-digital\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TV berubah menjadi digital<\/a>, ibu saya sering kebingungan dan salah pencet ketika menyalakan televisi. Itu mengapa saya sering membantunya, terkadang kebablasan ikut menonton tayangan kesukaannya, sinetron.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin banyak yang mengikuti judul sinetron dan episode-episodenya, saya merasa kesal dengan sinetron Indonesia benar-benar buruk. Alur ceritanya benar-benar di luar nalar dan produksinya seperti ala kadarnya saja. Benar-benar jauh kualitasnya dibanding <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/drama-korea-dan-hal-hal-yang-membuat-penonton-kagum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">drama korea<\/a> (drakor) dan drama china (dracin) yang saya tonton.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jumlah episode sinetron tergantung pada rating<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sinetron Indonesia itu benar-benar unik. Jumlah episodenya tidak tergantung dari alur cerita, tapi dari rating penonton. Itu mengapa tidak ada jumlah pasti episode dari suatu judul sinetron. Semakin diminati, jumlah episodenya semakin panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ambil contoh sinetron legendaris \u201cTersanjung\u201d yang jumlah episodenya mencapai ratusan. Bahkan, sinetron ini bertahan hingga 7\u00a0 musim, mulai 1998 hingga 2005. Contoh lain, \u201cTukang Bubur Naik Haji The Series\u201d dan \u201cIkatan Cinta\u201d. Tokoh utama dalam dua judul sinetron itu sudah hengkang, tapi sinetronnya masih berlanjut.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Alur cerita sinetron Indonesia berubah-ubah, tidak masuk akal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yangs udah saya singgung sebelumnya, sinetron Indonesia itu tergantung pada rating bukan alur cerita. Itu mengapa alur cerita sinetron sangat fleksibel, bisa berubah-ubah tergantung rating. Kalau alur cerita berubah dan masih nyambung sih nggak masalah ya. Sayangnya, alur cerita sinetron kerap kali ngawur demi rating. Benar-benar pembodohan penonton.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIkatan Cinta\u201d adalah salah satu contoh sinetron dengan oplot ngawur itu. Saat awal muncul, sinetron ini layak digemari karena alur ceritanya benar-benar bagus, banyak plot twist yang membuat penonton tidak bosan. Namun, cerita \u201cIkatan Cinta\u201d makin ngawur sejak skandal pemain utamanya muncul. Skandal itu membuat Arya Saloka dan Amanda Manopo hengkang dari sinetron itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alur ceritanya terasa dibuat-buat. Konflik cerita berbelok ke tokoh lain, sehingga pemeran utamanya serasa bergeser ke Elsa yang diperankan Glenca Chysara. Padahal awalnya, tokoh ini hanya sampingan dengan karakter antagonisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan alur cerita menjadi buruk juga dialami oleh &#8220;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tukang_Bubur_Naik_Haji_the_Series\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tukang Bubur Naik Haji The Series<\/a>\u201d. Sinetron yang bertahan hingga lebih dari 2.000 episode itu sempat mengalami pergeseran pemain utama dari Haji Sulam yang diperankan Mat Solar ke H. Muhidin yang dimainkan oleh Latief Sitepu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal menurut saya, kedua sinetron tadi bisa lho berhenti pas semua konflik utamanya selesai. Tidak perlu diulur-ulur dan bikin konflik baru. Para penonton pun bakal mengenangnya sebagai sinetron yang bagus, bukan sekadar tonton dengan episode panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Sering berhenti tayang mendadak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ratingnya bagus, jumlah episode sinetron hingga alur ceritanya berbelit-belit. Lalu, bagaimana kalau ratingnya buruk? Tentu saja sinetronnya akan berhenti tayang mendadak. Iya, mendadak banget tanpa pemberitahuan sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat masih SMA saya pernah mengikuti satu judul sinetron. Menurut saya, sinetron itu bagus-bagus saja karena tokoh dan konflik ceritanya sangat relate dengan saya yang masih remaja. Saya sempat tidak menonton selama tiga hari berturut-turut karena sibuk. Sedihnya, ketika ingin nonton lagi, sinetron kesayangan saya sudah diganti dengan tayangan lain. Tanpa ada pemberitahuan apa pun!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seingat saya, pada saat itu sinetron baru masuk pada episode tiga puluhan. Terlalu dini untuk berhenti tayang, apalagi sinetron Indonesia episodenya bisa mencapai ribuan. Setelah saya renungkan lagi, mungkin sinetron itu tidak begitu laris. Ibu saya sebagai penonton setia sinetron menilai tayangan yang saya sukai kurang mantap plotnya. Sinetron kok tidak ada perselingkuhan dan kisah cinta antara orang kaya dan miskin.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Sisipan iklan yang norak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah bukan rahasia lagi, berbagai produk bisa iklan melalui cerita sinetron. Kalau iklan dimasukkan secara halus sih nggak masalah ya. Persoalannya, iklan-iklan di sinetron itu sangat norak dan mengganggu alur cerita. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah suatu ketika, saya menonton sinetron dengan konflik cerita sedang panas-panasnya. Eh, malah latar tempatnya tiba-tiba berganti ke ruang lain dengan sekelompok orang sedang makan cemilan tertentu. Pokoknya kelihatan maksa banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh membandingkan dengan iklan di drakor dan dracin, mereka menyisipkan iklan secara lebih elegan, tidak terang-terangan. Sisipan iklan sama sekali tidak mengganggu alur dan mood cerita. Misalnya, ketika berangkat kerja tokoh utama mampir ke kedai kopi merek tertentu. Beda cerita dengan sinetron Indonesia, produknya punya waktu tayang sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa hal yang membuat sinetron Indonesia kalah telak dibanding drakor dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-drama-cina-kalah-hype-ketimbang-drama-korea\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dracin<\/a>. Kalau saya amat-amati, akar permasalahannya terletak pada sinetron Indonesia yang terlalu mengabdi pada rating. Alur cerita dan proses produksinya sangat terpengaruh pada rating.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Siti Halwah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/syuting-di-eropa-nggak-bikin-sinetron-indonesia-naik-kelas\/\"> <b>Syuting di Eropa Nggak Bikin Sinetron Indonesia Naik Kelas<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sinetron Indonesia kalah telak dibandingkan drakor dan dracin. Alur cerita sinetron kerap tidak nyambung karena bergantung pada rating.<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":254221,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[22441,1307,22442,9059,9649,11089,1134,5634,22443,22444],"class_list":["post-253974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-drachin","tag-drakor","tag-drakor-korea","tag-drama-china","tag-ikatan-cinta","tag-nonton-tv","tag-sinetron","tag-sinetron-indonesia","tag-tersanjung","tag-yukang-bubur-naik-haji"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=253974"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253974\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/254221"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=253974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=253974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=253974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}