{"id":253890,"date":"2024-01-02T10:17:04","date_gmt":"2024-01-02T03:17:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=253890"},"modified":"2024-01-02T12:36:53","modified_gmt":"2024-01-02T05:36:53","slug":"jual-cincin-ibu-demi-menyuguh-dosen-penguji","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jual-cincin-ibu-demi-menyuguh-dosen-penguji\/","title":{"rendered":"Kisah Pilu dari Mahasiswa yang Harus Menjual Cincin Ibunya demi Menyiapkan Suguhan untuk Dosen Penguji Sidang Skripsi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kesempatan ini saya ingin mengapresiasi tulisan Mas Achmad Fauzan Syaikhoni di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terminal Mojok<\/a>. Tulisan Mas Achmad Fauzan berjudul \u201cKampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji. Tulisan tersebut telah membuat saya berpikir bahwa sudah semestinya dunia akademik tidak tercoreng dengan adanya gratifikasi dalam bentuk apapun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi adalah mantan mahasiswa yang pernah kuliah menjalani 2 kali perkuliahan yakni D3 dan S1. Kedua jenjang studi tersebut mensyaratkan tugas akhir untuk lulus. Dan pastinya, setiap seminar proposal maupun seminar hasil, ada budget yang harus saya keluarkan dalam rangka \u201cgastrodiplomasi\u201d berupa snack dan air mineral untuk dosen penguji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, saya melakukan wawancara dengan beberapa rekan kerja di klinik. Inilah kisah perjuangan mereka saat melangsungkan sidang tugas akhir, baik KTI maupun skripsi. Demi menjaga privasi, nama narasumber dan kampus akan saya samarkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Macaroni schotel Salsabila (dokter umum) untuk dosen penguji<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum menjalani koas, seorang calon dokter juga memiliki kewajiban menuntaskan skripsi untuk mendapatkan gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Ketika ditanya bagaimana pengalaman menyuguh kepada dosen penguji, Salsabila mengaku bahwa dirinya membawa macaroni schotel buatan ibunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebenarnya dari pihak kampus sudah melarang mahasiswa untuk membawa makanan saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buket-balon-hadiah-sidang-skripsi-paling-nggak-bermanfaat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sidang skripsi<\/a>. Tapi mamahku keukeuh nyuruh aku bawa macaroni schotel, kata mamah, ini sebagai bentuk terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membimbing dan menguji,\u201d tutur alumni FK di salah satu universitas negeri di Semarang tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salsabila juga mengaku. Misal dosen penguji menolak suguhannya, dia akan membagikan macaroni schotel kepada teman-temannya. Tetapi kenyataan berkata lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaat sidang selesai, ada dosen penguji yang bertanya, \u2018Ini isinya apa?\u2019\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tahu kalau isinya macaroni schotel, eh dibawa juga itu makanan, kata Salsabila.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jual-cincin-ibu-demi-menyuguh-dosen-penguji\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Dari snack, telur asin, sampai kudu jual cincin demi suguhan dosen penguji.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Snack dari Nabilah (dokter umum)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya saya ngobrol singkat dengan Nabilah, seorang dokter umum yang sempat menempuh perkuliahan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-uin-saizu-purwokerto-yang-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwokerto<\/a>. Ketika saya tanya perihal suguhan untuk dosen penguji, dirinya juga mengaku bahwa saat sidang skripsi, dia juga membawa snack dan makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Mas. Waktu sidang saya juga bawa snack sama air mineral, terus nasi kotak juga.\u201d Ungkap Nabilah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya tanya kenapa harus seperti itu, Nabilah menjawab karena teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Bahkan kakak tingkatnya juga melakukan hal yang sama ketika melaksanakan sidang skripsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nabilah juga bercerita, bahwa suguhan yang dia berikan tidak berhenti saat sidang skripsi saja. Saat menjalani koas pun kudu bawa sesuatu. Bahkan ada senior atau dokter satu rumah sakit yang menyindir dan terang-terangan ingin dibelikan makanan oleh dokter muda yang sedang menjalani koas. Tentu saja tidak semua dokter senior bersikap demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja pemberian \u201csuguhan\u201d tersebut entah nantinya disebut gratifikasi atau apalah. Namun \u201csuguhan\u201d tersebut sudah dinormalisasi. Oleh karena itu, ketika hendak menjadi dokter, harus siap juga untuk mengeluarkan uang yang tidak tercatat pada tagihan resmi keuangan akademik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Setyo (staf IT) yang kaget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ditanya perihal \u201csuguhan\u201d saat sidang skripsi, Setyo justru menunjukkan raut muka terkejut. Dirinya mengaku hanya menjalankan sidang tanpa membawa jajanan atau makanan untuk dosen penguji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa cuma kampusku yang tidak memberi suguhan kepada dosen penguji?\u201d Tanya Setyo heran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Yati (perawat) yang menyiapkan telur asin khas Brebes tapi belinya di Purwokerto<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yati, alumni AKPER swasta yang ada di Banyumas, adalah perawat senior di klinik. Dia juga memiliki cerita terkait dengan suguhan untuk dosen penguji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu saya ambil tema tugas akhir tentang keperawatan Jiwa di RSJ yang ada di Klaten. Jadi, salah satu pengujinya adalah clinical instructor asal Klaten yang datang ke Banyumas untuk menguji,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jauh sebelum ujian, pimpinan kampus justru meminta kepada para mahasiswa, termasuk Yati, untuk membawa buah tangan. Oleh-oleh tersebut akan diberikan kepada dosen penguji yang datang dari luar kota. Selain menyediakan snack dan air mineral, Yati membawa telur asin sebagai buah tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelain snack, saya juga nyiapin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-ide-olahan-telur-yang-praktis-dan-nggak-ribet-cocok-buat-anak-kos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">telur asin<\/a> khas Brebes, tapi telur asinnya beli di Purwokerto,\u201d kenangnya sambil tertawa kecil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Priyantika (perawat)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beragam cerita di atas, cerita dari Priyantika yang paling membuat saya bengong selama 5 detik saking herannya. Jadi, sebelum ujian skripsi, ibu dari Priyantika sampai menjual cincin agar anaknya bisa memberikan suguhan kepada dosen penguji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPokoknya banyak uang yang harus saya keluarkan. Mulai dari bayar pendaftaran ujian sidang skripsi, sampai menyediakan snack dan makanan untuk dosen penguji,\u201d tutur Priyantika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Priyantika mengaku bahwa dirinya menyiapkan banyak makanan. Antara lain: snack kotak berisi 3 macam kudapan, bebek goreng seharga Rp25 ribu, dan air minum 2 macam (Pulpy dan air mineral). Padahal, saat itu, ada 4 dosen penguji, sehingga Priyantika harus menyiapkan 4 snack, 4 porsi Bebek Goreng + nasi, 4\u00a0 botol air mineral dan 4 botol Pulpy.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUdah bayar untuk bisa daftar sidang, saya masih harus menyediakan konsumsi untuk dosen pembimbing. Karena uangnya kurang, ibu saya terpaksa jual cincin agar saya bisa membeli semua \u201cubo rampe\u201d guna keperluan sidang skripsinya,\u201d tukas Priyantika.<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya yang memberatkan mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah di atas membuktikan bahwa budaya \u201cnyuguh\u201d saat ujian skripsi memberatkan Mahasiswa. Selain memberatkan, hal tersebut juga termasuk pelanggaran terhadap surat edaran dari Kemendikbudristek No. 108\/B\/SE\/2017 yang isinya adalah larangan bagi pendidik maupun stakeholder di perguruan tinggi untuk menerima hadiah dari mahasiswa, tentu saja aturan ini berlaku sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika budaya ini terus berlanjut, bayangkan saja jika nanti saat prosesi sidang seminar skripsi, ada penyidik KPK yang nyamar jadi mahasiswa. Terus setelah seminar selesai, alih-alih mahasiswa calon sarjana itu menerima selempang bertuliskan gelar akademik dari bestie seangkatannya, justru malah dapat rompi orange atas dugaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-box-untuk-dosen-penguji-sebuah-gratifikasi-atau-penghormatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gratifikasi<\/a> kepada dosen penguji. Lah endingnya malah wisuda virtual dari dalam jeruji tahanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum juga ngurus SKCK untuk nyari kerja, malah udah masuk penjara gara-gara terbukti melakukan gratifikasi. Duh Melas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dhimas Raditya Lustiono<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampus-bermasalah-dosen-penguji-diberi-makanan-oleh-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah ini membuktikan bahwa budaya \u201cnyuguh\u201d untuk dosen penguji saat ujian skripsi memberatkan Mahasiswa. Budaya ini harus segera dihilangkan!<\/p>\n","protected":false},"author":770,"featured_media":253924,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[2856,469,2223,22420,8526,4652,236,22421,22419],"class_list":["post-253890","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-brebes","tag-dosen","tag-dosen-penguji","tag-gratifikasi-sidang-skripsi","tag-purwokerto","tag-semarang","tag-skripsi","tag-snack-ujian","tag-suguhan-sidang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/770"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=253890"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253890\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/253924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=253890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=253890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=253890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}