{"id":253410,"date":"2023-12-28T14:55:00","date_gmt":"2023-12-28T07:55:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=253410"},"modified":"2023-12-28T14:56:01","modified_gmt":"2023-12-28T07:56:01","slug":"study-tour-sekarang-lebih-banyak-jalan-jalan-daripada-studinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/study-tour-sekarang-lebih-banyak-jalan-jalan-daripada-studinya\/","title":{"rendered":"Namanya doang Study Tour, Aslinya Lebih Banyak Jalan-jalan daripada Studinya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Study tour atau karyawisata menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh siswa sekolah. Study tour memberi kesempatan siswa menambah wawasan dengan mengujungi tempat-tempat di luar sekolah. Kegiatan ini dinilai seru karena mirip piknik bersama teman satu angkatan. Itu mengapa kegiatan karyawisata begitu ditunggu-tunggu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Study tour dianggap banyak membawa dampak positif. Belajar di luar ruang kelas bisa menjadi refreshing di tengah kegiatan belajar\u00a0 mengajar. Selain itu, kegiatan ini bisa menyadarkan para siswa bahwa belajar tidak melulu di ruang kelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, saya amati study tour sekarang ini semakin melenceng dari tujuannya. Sekolah-sekolah yang menggelar karyawisata hanya sekadar tradisi, tidak benar-benar memikirkan nilai-nilai yang bakal didapat dari kegiatan itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sekolah-butuh-banyak-uang-selain-wisuda-wisudaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">study tour tidak gratis<\/a>. Tiap siswa yang ingin mengikutinya harus membayar sejumlah uang tertentu. Bahkan, biaya karyawisata biasanya dijadikan seperti tabungan yang dicicil selama satu tahun ajaran. Intinya biaya study tour tidaklah mudah, sangat disayangkan kalau tidak digarap dengan tidak serius.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih fokus jalan-jalan daripada pembelajaran yang didapat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cermati, study tour sekarang ini hanyalah kedok dari jalan-jalan bersama teman-teman angkatan saja. Saya tidak melihat ada pembelajaran atau ilmu baru yang didapatkan setelah kegiatan itu. Setelah kegiatan, anak-anak sekolah hanya menceritakan keseruan ketika berwisata dan oleh-oleh yang didapat. Sangat jarang yang membahas soal pengetahuan baru yang didapat selama perjalanan. Kalaupun ada, porsinya sangat sedikit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berganti-ganti tujuan tempat karyawisata juga menjadi bukti bahwa kegiatan ini cuma fokus pada jalan-jalan saja. Dalihnya, siswa akan bosan kalau tempat kunjungannya sama. Menurut saya itu a<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lasan klise. Kalau memang fokus pada studinya, seharusnya tujuan yang sama tidak menjadi masalah. Toh,\u00a0 hasil pengamatan dari peserta didik pasti berbeda karena situasi sosial dan budaya di tempat karyawisata mengalami perubahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang menandakan bahwa study tour ini cuma fokus pada turnya saja adalah tidak ada follow up setelah kegiatan. Tidak ada tindakan lanjut untuk membuat karya tulis atau hal lain yang serius. Paling mentok cuma disuruh bikin laporan yang bisa menyalin dari Google dan <a href=\"https:\/\/diskominfo.kedirikab.go.id\/baca\/apa-itu-chat-gpt\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Chat GPT<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Study tour yang terjadi hari-hari ini saya lihat jauh dari kesan studi. Lebih banyak yang menekankan pada jalan-jalan dan senang-senangnya. Tidak salah sih, tapi komposisi kegiatannya perlu diperhatikan. Begitu juga refleksi setelah kegiatan yang berlangsung\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Study tour memberatkan dari sisi ekonomi\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saya singgung sebelumnya, study tour menelan biaya yang tidak sedikit. Biasanya memang ada bantuan dari sekolah atau sponsor, tapi jumlahnya tidak banyak dibanding total kebutuhan. Oleh karena itu, setiap peserta harus iuran untuk menutup kekurangannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa sekolah tidak mewajibkan siswanya mengikuti kegiatan ini. Namun, tidak sedikit pula yang mewajibkannya. Entah atas dasarnya apa. Biasanya mereka sudah mencicil biaya yang dibutuhkan dalam bentuk tabungan. Sekalipun sudah menabung, tetap setiap orang tua memiliki kondisi ekonomi yang berbeda. Tidak sedikit yang merasa keberatan selama proses menabung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila study tour tidak diwajibkan, tetap perlu dipikirkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/kasus-bunuh-diri-siswa-smp-depresi-dan-media-sosial-yang-membuatnya-kompleks\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kondisi psikologis siswa<\/a> yang tidak mengikuti karyawisata. Orang tua tetap berupaya mendaftarkan anaknya walau secara ekonomi sebenarnya keberatan. Mau bagaimana lagi, daripada anaknya merasa tersingkir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya dilihat dari sisi ekonomi, kegiatan yang satu ini memerlukan biaya yang besar dan mungkin saja memberatkan sebagian orang. Sangat disayangkan kalau biaya yang sudah diupayakan dengan susah payah itu hanya untuk kegiatan yang nirmakna.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih baik ditinjau ulang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan-alasan di atas setidaknya bisa menjelaskan kenapa study tour lebih baik ditinjau ulang. Apalagi di tengah teknologi dan banjir informasi seperti sekarang ini. Apakah karyawisata ke daerah-daerah yang jauh tetap diperlukan, sementara segala informasi kini dapat dengan mudah didapatkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu-satunya dampak positif dari karyawisata hanyalah membangun hubungan dan kenangan bersama teman-teman seangkatan. Pergi bersama teman-teman tanpa orang tua bisa melatih kemampuan sosial para siswa. Namun, kalau dipikir-pikir, kemampuan semacam ini juga bisa diperoleh dengan bentuk kegiatan lain yang lebih ramah di kantong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kondisi-kondisi di atas, saya merasa study tour anak sekolah lebih banyak sisi tidak bermanfaat. Apalagi study tour-nya hanya sekadar tradisi, tidak serius memikirkan nilai-nilai atau pembelajaran di baliknya. Kalau sudah begitu, apa tidak lebih baik dihapuskan saja? Minimal ditinjau ulang apakah study tour masih relevan sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Femas Anggit Wahyu Nugroho<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mari-kita-mengenang-masa-masa-study-tour-saat-sekolah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>Mari Kita Mengenang Masa-masa Study Tour saat Sekolah<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Study tour kini lebih banyak jalan-jalannya daripada pembelajarannya. Lebih baik kegiatan sekolah ini ditinjau ulang.  <\/p>\n","protected":false},"author":2384,"featured_media":253445,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[77,22366,14201,20441,7159,3224],"class_list":["post-253410","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-anak-sekolah","tag-karyawisata","tag-piknik","tag-studi","tag-study-tour","tag-wisata"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253410","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2384"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=253410"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/253410\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/253445"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=253410"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=253410"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=253410"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}