{"id":252739,"date":"2023-12-22T11:15:52","date_gmt":"2023-12-22T04:15:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=252739"},"modified":"2023-12-22T12:50:58","modified_gmt":"2023-12-22T05:50:58","slug":"perjalanan-ke-kantor-lama-pekerja-jakarta-rentan-kena-depresi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perjalanan-ke-kantor-lama-pekerja-jakarta-rentan-kena-depresi\/","title":{"rendered":"Perjalanan ke Kantor Lebih dari 60 Menit Meningkatkan Risiko Kena Depresi. Apa Kabar Pekerja Jakarta?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lama ini sebuah riset viral di media sosial. Riset itu mengatakan, perjalanan ke kantor lebih dari 60 menit bisa meningkatkan risiko mengalami depresi. Tentu unggahan yang viral itu disukai dan dikomen oleh banyak orang. Sepertinya banyak orang relate dengan hasil riset tersebut, tidak terkecuali warga Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemacetan dan fasilitas transportasi yang kurang oke sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta. Menghabiskan waktu lebih dari 60 menit untuk perjalanan ke kantor atau tempat lain adalah hal yang biasa. Apalagi banyak pekerja Jakarta yang tinggal di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cikago-kawasan-paling-nyaman-untuk-menetap-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pinggiran kota atau kota satelit<\/a> karena harga hunian di Jakarta sudah tidak masuk akal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah biasa bukan berarti menikmatinya atau menyukainya ya. Kami juga marah-marah kok. Kalau ada pilihan lain, tentu perjalanan berjam-jam untuk berangkat atau pulang kantor tidak akan kami pilih.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Di Jakarta, perjalanan ke kantor menguras waktu dan energi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, menggunakan motor untuk mobilitas sehari-hari adalah hal yang paling masuk akal. Kalau ingin menggunakan transportasi publik, kereta misalnya, saya harus mengendarai motor selama 50 menit untuk menuju stasiun. Dengan kata lain, saya sudah menempuh separuh perjalanan menuju kantor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan transportasi lainnya adalah travel atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/naik-bus-akap-jangan-lakukan-3-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bus AKAP<\/a>. Namun, dua transportasi itu tidak ramah di kantong. Ongkosnya setara makan siang. Pulang pergi kantor menggunakan transportasi ini bisa bikin kantong jebol.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak adanya pilihan transportasi yang sesuai itu memaksa saya membawa kendaraan pribadi setiap hari. Iya, saya adalah salah satu penyumbang kemacetan di Jakarta, tapi mau bagaimana lagi? Cara ini yang paling memungkinkan walaupun setiap hari saya harus mencadangkan energi lebih untuk berkendara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, dilema semacam ini tidak saya alami sendiri. Pekerja Jakarta lain bahkan harus meluangkan waktu sebelum subuh supaya sampai ke kantor tepat waktu. Benar-benar perjalanan yang menguras waktu dan energi!<\/span><\/p>\n<h2><b>Perlu waktu setidaknya 2 jam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu perjalanan yang lama karena kemacetan adalah salah satu problem di Jakarta yang tidak kunjung menemukan titik terang. Sepertinya, masalah ini malah semakin ruwet dengan jumlah penduduk dan kendaraan di Jakarta yang terus bertambah. Tingginya volume kendaraan tidak sebanding dengan luas jalanan yang terbatas membuat jarak tempuh 2 jam adalah hal yang biasa di Jakarta. Belum kalau cuaca sedang hujan, kondisinya bisa lebih parah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan <\/span><a href=\"https:\/\/www.bps.go.id\/id\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia<\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">2021, penduduk Jakarta sudah mencapai angka 10 juta jiwa. Sementara, jumlah kendaraannya tercatat\u00a0 dua kali lipat jumlah penduduknya, yakni 21,7 juta unit. Angka itu belum termasuk pekerja komuter dan kendaraan yang datang dari luar daerah.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Solusi yang tepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya persoalan kemacetan dan transportasi publik di Jakarta sudah lama disuarakan. Kemacetan sudah sudah menjadi momok Jakarta. Masalah ini begitu mengakar sehingga penyelesaiannya perlu melihat hulunya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa terlalu naif kalau solusi kemacetan Jakarta hanya berupa perbaikan transportasi publik. Itu tidak salah memang, tapi saya rasa perlu lebih melihat akar masalahnya. S<\/span>ekarang cobalah tengok transportasi publik di Jakarta yang sebenarnya jauh lebih baik dibanding daerah lain, baik sisi fasilitas maupun integrasinya. Masyarakat juga banyak yang memanfaatkannya tercermin dari KRL dan TransJakarta yang berjubel manusia di waktu-waktu tertentu.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kemacetan masih saja terjadi. Apakah<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-menikmati-transportasi-umum-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> transportasi publik<\/a> yang tersedia masih kurang? Atau ada problem lain yang sebenarnya akar dari kemacetan Jakarta? Pada akhirnya sebagai warga biasa, menghadapi persoalan kemacetan dan transportasi umum di Jakarta memang hanya bisa pasrah. Kembali lagi ke awal tulisan ini, bukannya normalisasi kemacetan tiap perjalanan ke kantor ya. Hanya saja, saya ingin berdamai dengan kondisi yang tidak normal ini demi meringankan mental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Muhamad Yoga Prastyo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/naik-krl-transit-manggarai-harus-bayar-pakai-mental-health\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Merasakan Tua di Jalan: Naik KRL Transit Manggarai Harus Bayar Pakai Mental Health<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perjalanan ke kantor yang memakan waktu lama meningkatkan risiko terkena depresi. Ini perlu diwaspadai oleh pekerja Jakarta.<\/p>\n","protected":false},"author":1266,"featured_media":252790,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2589,529,22289,4489,22288,1623],"class_list":["post-252739","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-depresi","tag-jakarta","tag-jalanan-jakarta","tag-macet","tag-perjalanan-ke-kantor","tag-transportasi-publik"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/252739","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1266"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=252739"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/252739\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252790"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=252739"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=252739"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=252739"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}