{"id":252554,"date":"2023-12-21T09:19:15","date_gmt":"2023-12-21T02:19:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=252554"},"modified":"2023-12-20T23:20:21","modified_gmt":"2023-12-20T16:20:21","slug":"kla-project-band-yang-bisa-bikin-lagu-galau-nggak-cengeng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kla-project-band-yang-bisa-bikin-lagu-galau-nggak-cengeng\/","title":{"rendered":"KLa Project Adalah Satu-Satunya Band yang Bisa Bikin Lagu Patah Hati yang Nggak Terdengar Cengeng"},"content":{"rendered":"<p><em>Bagi saya, KLa Project itu jagonya bikin lagu galau, tapi nggak terdengar cengeng. Kalimatnya puitis, mengiris, tapi nggak terasa sadis<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat sedang patah hati, saya senang memutar lagu-lagu galau untuk menemani kesedihan saya dengan harapan saya jadi merasa lebih plong. Ironisnya, biasanya, kesedihan saya malah semakin menjadi-jadi. Sebenarnya, bagus, sih, kalau ada lagu yang berhasil bikin saya menangis. Itu berarti penulisan liriknya ciamik dan ngena. Namun, saya merasa bahwa industri musik Indonesia sudah demikian dipenuhi oleh lagu-lagu yang memainkan emosi pendengar tanpa ada unsur estetika mendalam dalam liriknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu adalah puisi. Dan syarat utama puisi, menurut beberapa ahli seperti Sumadi dan Putu Arya Tirtawirya, adalah penyampaian makna secara tidak langsung. Jadi, kalau makna yang ingin disampaikan adalah sakit karena ditinggal pas sayang-sayangnya, puisi yang baik tidak akan memuat kata-kata \u201cditinggal pas sayang-sayangnya\u201d. Puisi yang baik akan mencoba menyampaikan suatu makna secara kiasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah letak kehebatan KLa Project. Sejak awal ketenarannya, band yang terdiri dari Katon Bagaskara, Romulo Radjadin, dan Adi Adrian itu mendapat ilham untuk berkarya dari penyair kondang seperti Chairil Anwar dan Khalil Gibran. Jarang-jarang, lho, ada band yang terinspirasi dari sastrawan yang sering muncul di buku bahasa Indonesia anak SMA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kehebatan Katon sebagai vokalis dan pembuat lagu adalah kemampuannya menyihir curhatan teman-temannya yang patah hati menjadi lagu-lagu yang emosional. Selain lebih bermakna karena dekat dengan kehidupan sehari-hari dan banyak orang yang bisa relate, ini juga menandakan kebaikan hati Katon. Setiap temannya curhat, pasti dulu Katon setia mendengarkan. Nggak adu nasib dan bilang \u201clu masih mending, lah gua\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jatuh cinta seperti api<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat saja lirik lagu \u201cTerpuruk \u2018Ku Di Sini\u201d (1994). KLa menggunakan kata-kata \u201cterpuruk\u201d untuk melukiskan patah hati sebagai perasaan jatuh ke jurang yang paling dalam dan nggak bisa keluar. Dalam menggambarkan perasaan ditinggal pas sayang-sayangnya, KLa menggunakan perumpamaan:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah kau tuangkan cinta ke dalam tungku yang tengah panas menyala?<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah kau padamkan bara tatkala hangat mulai membuai jiwa?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gila, \u2018kan. Katon mengibaratkan jatuh cinta sebagai api. Ketika ada orang yang baik sama kita, itu ibarat si doi menuangkan cinta sehingga hati kita terbakar. Eh, pas hangatnya sudah mulai terasa, alias sudah mulai baper, dia malah memadamkan api itu secara tiba-tiba.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terhempas bimbang sikapmu<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menggigil palung hati<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Di pelukan bimbang jawabmu<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Si doi meninggalkan kita tanpa alasan yang jelas. Kita sibuk memikirkan kenapa dia tiba-tiba menjauh. Dingin sikap si doi membuat kita \u201cmenggigil\u201d sampai ke \u201cpalung hati\u201d yang paling dalam. Kita sudah malas jatuh cinta, tetapi kebingungan ketika ada \u201cdi pelukan\u201d bimbang jawabannya. Cinta itu menyakitkan, tapi hidup tanpa cinta jauh lebih menyakitkan, jadi susah lepas, deh.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Patah hati yang nggak bikin jenuh<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu-lagu KLa Project memang kebanyakan soal patah hati. Namun, tema yang sama tidak membuat pendengar merasa jenuh karena setiap lagu ditulis dengan perasaan yang berbeda-beda. \u2018Kan, patah hati banyak jenisnya, tuh. Ada patah hati karena ditinggal pas sayang-sayangnya. Lalu, ada patah hati si doi jalan sama yang lain. Ada patah hati karena si doi makan bubur ayam diaduk, sedangkan kamu makan bubur ayam nggak diaduk. KLa Project jago menggambarkan perbedaan-perbedaan halus itu dalam setiap karyanya melalui perumpamaan yang bikin kita mikir, \u201cAnjir, kok bisa kepikiran\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, lagu Gerimis (1996):<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sekejap badai datang mengoyak kedamaian<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Segala musnah<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu gerimis<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Langit pun menangis<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam empat baris saja, KLa menceritakan perjalanan suatu pasangan yang awalnya tenang-tenang saja, lalu jadi sering bertengkar, lalu terpaksa berpisah. KLa juga memasukkan nasihat tidak langsung bagi pasangan yang tengah menghadapi masalah serupa: \u201csemua hanya satu ujian \u2018tuk cinta dan bukan alasan untuk berpisah\u201d. Sepahit apa pun patah hati, KLa mampu menyelipkan pesan moral yang membuat pendengar yakin bahwa cinta memang mampu bertahan jika komunikasi dijalin dengan baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu landmark lain adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-lagu-tentang-jogja-paling-memorable-sepanjang-masa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Yogyakarta<\/a> (1990). Walaupun dewasa ini, Yogyakarta tidak seromantis lagu KLa karena UMR-nya rendah dan klithih merajalela, tidak ada salahnya mengagungkan Yogyakarta melalui puisi yang mengiris hati: \u201cmusisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu\u201d. Bahkan, orang yang nggak pernah ke Yogya jadi ikutan galau gara-gara potongan lirik itu. Beuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu-lagu di atas mengisahkan patah hati dengan gaya musik yang cenderung upbeat. Orang yang memiliki mindset \u201clagu galau harus disertai dengan instrumental galau pula\u201d dapat mendengarkan \u201cSemoga\u201d (1990) dengan iringan piano yang pelan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>KLa Project tak melulu tentang patah hati<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain patah hati, KLa juga mengangkat banyak tema lain. Bagi pejuang LDR (Long Distance Relationship, bukan Long Different Religion, eh), KLa menyajikan optimisme polos dalam \u201cBelahan Jiwa\u201d (1992): \u201cmemendam tanya segara berucap, belahan jiwa, apa kabarmu?\u201d Sementara itu, \u201cTentang Kita\u201d (1989) melukiskan keluguan cinta pertama: \u201csekian jauh menilai, kadar cinta tergali milikmu sejati\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ada juga lagu-lagu yang berbahasa Inggris, seperti \u201cFeel Something\u201d (1994) dan \u201cGonna Be Your Lover Tonight\u201d (1994), atau instrumental ala orkes tanpa lirik seperti \u201cHeidelberg. Oct \u201892\u201d (1994). Lagu \u201cRadio\u201d (1992) memiliki vibes yang mirip dengan \u201cOemar Bakrie\u201d-nya Iwan Fals, cocok didengarkan pagi hari sebelum berangkat jadi budak korporat. Pecinta lingkungan akan senang mendengarkan lagu \u201cPasir Putih\u201d (1992) yang menyerukan pentingnya menjaga kebersihan pantai. Agaknya lagu KLa yang satu ini cocok dijadikan iklan layanan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Variasi tema lagu-lagu KLa Project dilengkapi dengan variasi aransemen musik KLa saat manggung. Dalam konser Passion, Love &amp; Culture 2016, misalnya, KLa membawakan lagu \u201cTerpuruk \u2018Ku Di Sini\u201d dengan iringan alat musik tradisional Dayak. Berbeda lagi dengan penampilan KLa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sabtu (28\/10\/2023). Intro terompet legendaris di lagu \u201cTerpuruk \u2018Ku Di Sini\u201d digantikan dengan saxophone sehingga penonton seolah sedang antre buat ambil rendang di kondangan orang.<\/span><\/p>\n<h2><strong>KLa Project, cara galau tanpa terlihat cengeng<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan sebagaimana semua perpisahan terjadi secara dingin dan mendadak, tanpa persiapan, KLa menutup lagu ini dengan sangat magis: membeku dan sara\u2026 tak terkira\u2026 Sebenarnya, saya juga kurang tahu \u201csara\u201d itu apa. Setahu saya, singkatan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan. Tapi, jadinya nggak nyambung. Ya udah, lah, ya. Seperti puisi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Chairil_Anwar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Chairil Anwar<\/a>, nggak semua kata dalam lirik lagu KLa Project bisa dipahami atau bisa dicari di aplikasi KBBI karena memang tidak lazim dipakai dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Justru itu, lagu-lagu KLa amat berseni. Nggak perlu memahami liriknya, cukup mendengarkan dan menghanyutkan diri dalam rasa galau yang dikemas dengan sangat profesional, indah, dan nggak cengeng.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dinar Maharani Hasnadi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/urusan-backing-vocal-dewa-19-lilo-kla-project-juaranya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Urusan Backing Vocal Dewa 19, Lilo KLa Project Juaranya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulang ke kotamu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2500,"featured_media":252567,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[22267,6083,3782,509],"class_list":["post-252554","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-katon","tag-kla-project","tag-lagu-galau","tag-yogyakarta"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/252554","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2500"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=252554"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/252554\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=252554"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=252554"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=252554"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}