{"id":252110,"date":"2023-12-18T09:30:17","date_gmt":"2023-12-18T02:30:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=252110"},"modified":"2023-12-18T09:30:17","modified_gmt":"2023-12-18T02:30:17","slug":"koperasi-hari-ini-yang-bikin-prihatin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/koperasi-hari-ini-yang-bikin-prihatin\/","title":{"rendered":"Sebagai Mantan Pengurus Kopma, Saya Prihatin dengan Koperasi Hari Ini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awal masa perkuliahan, saya mendaftar di banyak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ormawa-itu-tempat-melatih-kesabaran-bukan-berorganisasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ormawa<\/a>. Tetapi, saya hanya mampu bertahan di beberapa ormawa saja sampai masa akhir perkuliahan. Salah satunya adalah koperasi mahasiswa (kopma). Bahkan, saya sempat menjadi pengurus di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mantan pengurus kopma, kadang saya masih mengikuti berita terkait koperasi hingga hari ini. Namun, sayangnya, tak sedikit berita yang bikin prihatin. Sikap senada juga ditunjukkan Pak Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM. Mengutip kumparan.com, beliau sempat mengaku babak belur mengurus koperasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau tau kenapa bisa begitu? berikut bagaimana kondisi koperasi hari ini:<\/span><\/p>\n<h2><b>Anggota nggak paham konsep koperasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah mengapa banyak anggota bermasalah yang nggak ngerti konsep koperasi. Entah karena tidak mendapatkan pendidikan koperasi yang cukup sejak awal. Atau, anggotanya memang benar-benar bebal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contoh mispersepsi anggota bermasalah adalah menganggap dirinya investor, bukan anggota yang merupakan bagian dari koperasi. Hal ini membuat si anggota tak mempunyai rasa memiliki. Maunya hanya dapat untung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sebatas lembaga simpan pinjam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di pandangan masyarakat awam, koperasi hari ini sebatas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seharusnya-utang-piutang-masuk-dalam-kurikulum-pendidikan-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lembaga simpan pinjam<\/a>. Pandangan masyarakat ini memang nggak salah, sih. Pasalnya, memang ada Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Hanya, pandangan tersebut terlalu sempit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, koperasi lebih dari sekadar tempat simpan pinjam. Jenis usahanya ada beragam. Mulai dari koperasi produsen, konsumen, sampai jasa. Cuma yang paling populer di masyarakat memang soal simpan pinjam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dianggap lintah darat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepopuleran KSP bukan tanpa sebab. Kemudahan mengakses pinjaman jadi alasan utama KSP terkenal. Syarat dan ketentuan pinjaman di KSP umumnya lebih mudah ketimbang perbankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, tidak ada makan siang yang gratis. Sama halnya dengan pinjol, KSP memberikan pinjaman yang mudah dengan bunga yang lumayan tinggi. Minimal lebih tinggi dari standar bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai-sampai ada temannya teman saya, yang menganggap KSP ini <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lorong-waktu-episode-10-musim-1-cara-terbaik-melawan-lintah-darat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lintah darat<\/a>. Soalnya, debitur koperasi yang merupakan keluarganya dikenakan bunga sangat tinggi. Bukan hanya bunga, si debitur kena penalti dan denda pula, total keseluruhannya hampir menyentuh setengah pinjamannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak kasus KSP<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar kalau Menteri Koperasi dan UKM merasa babak belur mengurus koperasi. Bagaimana tidak? Lha wong kasusnya cukup banyak. Dan, masih ada yang belum menemui titik terang sampai detik ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada 8 kasus koperasi yang saya ketahui dari media. Tapi, kayaknya nggak perlu kita jabarkan semuanya. Karena jadi kepanjangan. Cukup salah satunya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kasus KSP terbesar adalah <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-6724313\/tok-ma-vonis-bos-ksp-indosurya-18-tahun-penjara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Indosurya<\/a>. Saya yakin kamu juga pernah mendengar beritanya. Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana KSP Indosurya ini nilainya tak main-main. Kabarnya, kerugian nasabah menyentuh angka Rp106 triliun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buset, duit semua tuh, bukan daun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Diduga menerima dana dari penyalahgunaan fasilitas pinjaman BPR untuk kampanye<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip tempo.co, PPATK menyatakan adanya aliran dana kampanye yang berasal dari penyalahgunaan fasilitas pinjaman BPR. Kasus ini juga sudah disampaikan ke Bawaslu dan KPU. Sebagai wasit dari pelaksanaan kompetisi pemilihan orang nomor satu di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diduga aliran dana tersebut berpindah-pindah ke beberapa rekening perusahaan dan individu. Bahkan, diduga mengalir ke salah satu koperasi. Tidak hanya sampai di situ. Kabarnya, sebagian perusahaan yang menerima aliran dana itu terafiliasi dengan koperasi tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aliran dananya tak bisa dibilang sedikit. Nilainya menyentuh Rp94 miliar. Yang paling apes lagi adalah kenapa nama koperasi lagi-lagi terseret dalam pusaran kasus besar ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu sekiranya beragam hal yang membuat saya prihatin. Koperasi layaknya sebuah tools. Bila yang mengoperasikan tools ini benar, hasilnya akan baik. Bila mengoperasikan tools ini ngawur, tentu hasilnya juga tidak akan baik-baik saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Arief Widodo\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-menjadi-tukang-tagih-di-koperasi-swasta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Saya Menjadi Tukang Tagih di Koperasi Swasta<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kondisi koperasi saat ini membuat saya prihatin. Banyak orang menganggapnya lintah darat hingga sebatas soal simpan pinjam saja.<\/p>\n","protected":false},"author":1760,"featured_media":252131,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[22204,22206,8661,22205,22203,7981,22207],"class_list":["post-252110","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-kasus-koperasi","tag-kasus-ksp","tag-koperasi","tag-koperasi-simpan-pinjam","tag-kopma","tag-ksp","tag-ksp-indosurya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/252110","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1760"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=252110"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/252110\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252131"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=252110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=252110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=252110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}