{"id":251959,"date":"2023-12-17T12:31:55","date_gmt":"2023-12-17T05:31:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=251959"},"modified":"2023-12-19T09:09:29","modified_gmt":"2023-12-19T02:09:29","slug":"jurusan-ilmu-komunikasi-masa-depannya-memang-nggak-jelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-ilmu-komunikasi-masa-depannya-memang-nggak-jelas\/","title":{"rendered":"Jurusan Ilmu Komunikasi Masa Depannya Memang Nggak Jelas, kok, Nggak Usah Denial"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membaca tulisan Mbak<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-ilmu-komunikasi-overrated-dan-nggak-jelas\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Gita Daeviana<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang nggak terima kalau jurusan Ilmu Komunikasi dianggap overrated, saya merasa terpanggil untuk membuat tulisan balasannya. Sebagai alumnus Ilmu Komunikasi dari salah satu kampus yang berada di Pulau Garam, saya menyatakeun bahwa lulusan Ilmu Komunikasi memang nggak pernah memiliki \u201cmasa depan yang jelas\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Memang tak bisa dimungkiri bahwa kemampuan komunikasi sangat dibutuhkan, terlebih pada masa di mana informasi tumpah ruah di jagat maya seperti saat ini. Profesi yang mengedepankan &#8220;komunikasi&#8221; yang bagus, entah secara interpersonal maupun massa pun laris di mana-mana. \u201cDipakai\u201d di mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi justru hal itulah yang mendasari mengapa jurusan Ilmu Komunikasi tidak punya masa depan yang jelas. Sebab seluruh pekerjaan, terlebih di era sekarang, memang membutuhkan keahlian komunikasi yang mumpuni. Saya ulangi dan kasih tanda petik, &#8220;seluruh pekerjaan&#8221; memang membutuhkan keahlian berkomunikasi. Maka, lulusan Ilmu Komunikasi ini pun bisa diterima di berbagai bidang pekerjaan. Apa sudah nangkep maksud \u201cmasa depan yang nggak jelas\u201d?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-ilmu-komunikasi-overrated-dan-nggak-jelas\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Susah mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang diminati.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>Terlalu banyak bidang yang bisa diisi oleh Ilmu Komunikasi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti jurusan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pgsd\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PGSD<\/a> yang amat nyata (hampir seluruhnya) punya masa depan yang jelas, yakni menjadi guru sekolah dasar. Nah, Ilmu Komunikasi ini dikatakan punya masa depan nggak jelas. Ya, karena terlalu banyak bidang yang bisa diisi oleh alumnus Ilmu Komunikasi. Mirip dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-inggris-itu-overrated-iyain-aja-biar-cepet\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jurusan Sastra Inggris<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah benar yang dikatakan oleh Mbak Gita Daeviana, bahwa Ilmu Komunikasi bisa kerja di bidang broadcasting, jurnalistik, <a href=\"https:\/\/www.lspr.ac.id\/apa-itu-public-relations\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">public relation<\/a>, dan advertising. Atau kalau mau saya tambahi sedikit, bisa juga jadi fotografer, event planner, sinematografer, dan desainer grafis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan jika kamu mau sejenak menengok selebaran brosur online lowongan pekerjaan yang tersebar di internet, pekerjaan di bidang content writer; copywriter; hingga content creator, di kualifikasi pendidikannya tertulis: S1 Ilmu Komunikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waduh, apa benar sebanyak itu? Iya. Sebab saya mendapati dengan mata kepala saya sendiri, teman-teman alumnus Ilmu Komunikasi punya pekerjaan yang \u201cnggak jelas\u201d alias beda-beda tiap individunya. Maka, sangat lumrah apabila minat untuk masuk jurusan Ilmu Komunikasi di berbagai kampus membludak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, sebagaimana kutipan-kutipan yang berseliweran di media sosial beberapa tahun lalu, bahwa hidup tidak sesimpel cocote motivator. Sama halnya dengan apa yang saya tuliskan di sini: masuk jurusan Ilmu Komunikasi dan langsung dapat pekerjaan di bidang yang telah saya tulis di atas tentu tidak mudah!<\/span><\/p>\n<h2><strong>Cakupan terlalu luas<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa tidak mudah? Karena cakupan bidang yang harus ditelan saat duduk di bangku perkuliahan itu terlalu luas. Dari public relation yang harus cakap ngomong hingga editing video yang harus telaten mantengin Adobe Premiere. Semuanya dipelajarin. Bukankah itu bagus? Untuk mempelajari dasarnya saja memang bagus. Tetapi kalau untuk jenjang karier di salah satu bidang yang saya tulis di atas, bakal sulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu cara agar lulusan Ilmu Komunikasi ini bisa mentereng dan menduduki salah satu posisi pekerjaan yang saya sebutkan di atas ialah, menjadi ahli (expert). Terfokus. Sangat penting untuk mengetahui sendiri kapasitas dan minatmu di salah satu mata kuliah Ilmu Komunikasi. Agar kelak ketika lulus, kamu tidak jadi seorang generalis yang tersingkir di arena pertarungan lowongan kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, masa depan lulusan Ilmu Komunikasi memang nggak jelas. Sebab masuk kerja di bidang sana oke dan masuk kerja di bidang sini juga oke. Tetapi, ya, itu tadi. Jangan sampai banyaknya pilihan tersebut malah bikin kamu jadi seorang generalis yang tak punya minat dan ambisi di suatu bidang. Sampai-sampai ketika sudah jadi alumnus malah beneran \u201cnggak jelas\u201d masa depannya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Achmad Uzair Assyaakir<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-jurusan-ilmu-komunikasi-yang-disangka-belajar-ngomong-doang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuliah Jurusan Ilmu Komunikasi yang Disangka Belajar Ngomong Doang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Udahhh terima aja nasibnya.<\/p>\n","protected":false},"author":2187,"featured_media":252014,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[5711,4134,360],"class_list":["post-251959","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurusan-ilmu-komunikasi","tag-lapangan-kerja","tag-masa-depan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251959","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2187"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=251959"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251959\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=251959"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=251959"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=251959"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}