{"id":251861,"date":"2023-12-18T10:45:07","date_gmt":"2023-12-18T03:45:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=251861"},"modified":"2023-12-18T10:39:15","modified_gmt":"2023-12-18T03:39:15","slug":"tambang-emas-tumpang-pitu-mimpi-buruk-warga-banyuwangi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tambang-emas-tumpang-pitu-mimpi-buruk-warga-banyuwangi\/","title":{"rendered":"Tambang Emas Tumpang Pitu, Mimpi Buruk yang akan Menghantui Warga Banyuwangi di Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih membawa kemakmuran, tambang emas Tumpang Pitu di Banyuwangi malah diperkirakan akan menjadi mimpi buruk bagi warga sekitar. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Proyek tambang emas ini sebenarnya sudah banyak menuai penolakan dari masyarakat. Namun, proyek penambangan masih tetap berlanjut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tambang emas Tumpang Pitu pertama kali ditemukan pada 1997 oleh PT Aneka Tambang (Antam). Gunung yang terletak di sisi selatan Banyuwangi itu kemudian berganti kepemilikan ke PT<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Bumi Suksesindo (<\/span>BSI<span style=\"font-weight: 400;\">), anak perusahaan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">PT Merdeka Copper Gold Tbk. Bertahun-tahun ditambang, Tumpang Pitu kian memprihatinkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana tidak memprihatinkan kalau masalah lingkungan yang timbul akibat aktivitas penambangan semakin banyak. Sekitar 8 tahun lalu, sungai di sekitar kawasan Tumpang Pitu dipenuhi banjir lumpur. Bahkan, banjirnya mampu mematahkan jembatan peninggalan penjajahan Belanda yang terkenal kokoh. Petani pun terkena getahnya, sawahnya jadi terkena lumpur. Warga<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kita-yang-sedang-menghadapi-krisis-lingkungan-dan-air-bersih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> kekurangan air bersih<\/a> karena sumber air terkena lumpur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu hanya secuil dampak yang tersorot media. Di balik itu, masih banyak kerugian lain yang dialami masyarakat akibat keserakahan mengeruk Tumpang Pitu. Bukan tidak mungkin dampak ke depan akan lebih buruk daripada kejadian 8 tahun silam. Mengingat, Tumpang Pitu kini sudah diperas habis-habisan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tumpang Pitu bakal menjadi beban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal sebelum kawasan ini dieksplorasi, Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya merupakan area yang sangat vital bagi masyarakat. Bagi nelayan yang bermukim di Kecamatan Siliragung (sekitar Tumpang Pitu), Gunung Tumpang Pitu merupakan salah satu tetenger arah bagi mereka ketika berlayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, Gunung Tumpang Pitu yang dulunya masih berstatus hutan lindung merupakan rumah bagi aneka ragam hewan dan tumbuhan. Beberapa sumber mata air yang ada di sana banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Benar-benar banyak makhluk hidup menggantungkan hidup pada keberadaan gunung yang satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini boro-boro menggantungkan hidup ke Tumpang pitu, kawasan ini justru diprediksi akan menjadi mimpi buruk bagi warga Banyuwangi di masa mendatang. Saya rasa perkiraan itu tidak berlebihan. Eksplorasi yang tidak memperhitungkan dampak lingkungan memungkinkan banjir lumpur kembali terjadi. Limbah yang tidak dikelola bisa mencemari ikan-ikan di laut. Hutan yang gundul dan tanah yang rusak menyulitkan warga mencari air bersih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ujung-ujungnya, warga sekitarlah yang kerepotan. Bahkan, bukan tidak mungkin semakin banyak yang menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banyak-info-loker-bertebaran-tapi-angka-pengangguran-tetap-tinggi-kenapa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengangguran<\/a> karena pekerjaan mereka yang bergantung pada alam sekitar kian rusak.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Warga perlu bergerak<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa warga yang menyadari hal ini sempat melakukan unjuk rasa pada 2015 silam. Namun, upaya mereka berakhir dengan tembakan peluru karet oleh aparat. Tak sampai di situ, beberapa upaya kriminalisasi dari pemerintah sudah banyak memakan korban. Salah satunya, yang tak asing di telinga warga Banyuwangi adalah <a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2023\/03\/27\/09352571\/kriminalisasi-berulang-budi-pego-yang-tak-masuk-akal\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Heri Budiawan<\/a> atau lebih dikenal Budi Pego.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2018, Mahkamah Agung menjatuhi hukuman 4 tahun masa kurungan pada Budi. Budi dianggap menyebarkan paham komunisme dengan membentangkan bendera<a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/meredam-panas-palu-arit-belajar-dari-pendekar-khilafah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> palu arit<\/a> ketika unjuk rasa. Anehnya, saat persidangan, bendera palu arit yang seharusnya menjadi barang bukti justru tak pernah nampak sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegigihan mereka yang mencoba mempertahankan Tumpang Pitu patut diapresiasi. Sayangnya, kini tak banyak anak muda di Banyuwangi peduli terhadap masalah ini. Terlebih mereka yang berada di luar Kecamatan Siliragung dan sekitarnya. Masalah ini seperti angin lalu saja, padahal mimpi buruk Tumpang Pitu di masa mendatang juga bisa berdampak pada mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rino Andreanto<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunung-tumpang-pitu-banyuwangi-dikuras-demi-emas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi Dikuras demi Emas: Apa Artinya Kemajuan Ekonomi Jika Alam Hancur Lebur?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tambang emas Tumpang Pitu di Banyuwangi bisa menjadi mimpi buruk warga sekitar di masa mendatang. Warga harus pandai-pandai menyiasatinya. <\/p>\n","protected":false},"author":2370,"featured_media":252152,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[6216,22209,11889,22210],"class_list":["post-251861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-banyuwangi","tag-tamabng-emas-tumpang-pitu","tag-tambang-emas","tag-tumpang-pitu"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2370"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=251861"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251861\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252152"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=251861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=251861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=251861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}