{"id":251340,"date":"2023-12-12T14:23:39","date_gmt":"2023-12-12T07:23:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=251340"},"modified":"2025-10-01T15:58:46","modified_gmt":"2025-10-01T08:58:46","slug":"culture-shock-mahasiswa-hukum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-mahasiswa-hukum\/","title":{"rendered":"Culture Shock Mahasiswa Hukum: Kuliah Serba Hafalan hingga Gaya Hidup yang Hedon"},"content":{"rendered":"<p><em>Jadi mahasiswa hukum itu nggak mudah. Nggak tiba-tiba bakal jadi Hotman, tahapannya panjang, dan banyak culture shock yang begitu uwaw<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat melihat betapa elegannya Harvey Specter berjalan dan betapa glamornya hidup <a href=\"https:\/\/mojok.co\/tag\/hotman-paris-hutapea\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hotman Paris<\/a>, saya yakin, kalian bakal kepikiran bahwa salah satu cara menjadi kaya adalah dengan menjadi pengacara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu yang kalian lihat itu hasil dari jerih payah tahunan yang dilalui. Bang Hotman dan Harvey\u2014meski fiksi\u2014melewati jalan yang panjang. Sejak kuliah hukum hingga menjadi pengacara, tentu banyak lika-liku yang mereka hadapi. Salah satunya culture shock.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan, adik saya kuliah hukum. Dan beberapa hal inilah yang bikin dia kaget, karena memang ya semengagetkan itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak istilah dalam bahasa Belanda dalam hukum<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Culture shock pertama yaitu yang berkaitan dengan materi kuliah. Di semester awal, mahasiswa Fakultas Hukum akan disuguhi dengan berbagai mata kuliah umum seperti Pengantar Ilmu Hukum, Sosiologi Hukum, Ilmu Negara, dan sebagainya. Saat perkuliahan itulah, kamu akan banyak mendengar banyak istilah-istilah dalam bahasa Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak perlu heran. Hukum di Indonesia itu kan berasal dari Hukum Belanda (asas konkordansi). Jadi, sudah sewajarnya banyak istilah-istilah dalam bahasa Belanda yang akan muncul di setiap mata kuliah. Tinggal kamu kuat-kuatin aja untuk memahaminya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hafalan, hafalan, dan hafalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muatan materi yang kebanyakan hafalan logis adalah perbedaan mendasar antara ilmu hukum dengan ilmu lainnya. Jangan kuatir, kamu tidak akan diminta untuk menghafal isi Undang-Undang secara keseluruhan. Undang-undang itu kan sangat banyak. Tidak mungkin bisa dihafal semuanya. Belum lagi KUHP dan <a href=\"https:\/\/kejari-sukoharjo.go.id\/file\/a6d2803a1ea733394063e8f006d31912.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KUHPerdata.<\/a> KUHPerdata saja isinya 1993 Pasal. Yakali bisa hafal~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tidak wajib hafal isi Undang-Undang, tapi hal tersebut tidak lantas mengingkari fakta bahwa menjadi mahasiswa hukum berarti kamu harus siap untuk selalu hafalan, hafalan, dan hafalan. Termasuk, menghafalkan alur sejarah hukum dari zaman Romawi\/Yunani sampai sekarang dan pendapat para ahli yang banyak banget itu. Hmm, muntah nggak, tuh?<\/span><\/p>\n<h2><b>Update berita terkini dan rajin baca itu wajib<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, kuliah hukum juga harus update berita terkini. Berita-berita tersebut, sering kali diangkat dosen untuk dijadikan bahan diskusi. Teknik mengajar dua arah antara dosen dan mahasiswa sudah jadi kebiasaan anak hukum menjalani kuliah. Dengan cara itulah, mahasiswa dilatih untuk berpikiran kritis, terbuka dan memandang suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak cukup hanya sekadar update berita terkini saja. Mahasiswa hukum juga harus banyak membaca jurnal-jurnal hukum, artikel, perjanjian\/konvensi hukum, dsb. Kudu kuat sebab bahasa buku-buku tersebut cenderung kaku. Formal puoll.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lingkungan mahasiswa hukum yang hedon<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, culture shock yang dialami mahasiswa hukum anyaran yaitu yang berkaitan dengan lingkungan pergaulan mahasiswanya. Berdasarkan pengalaman adik saya, banyak mahasiswa Fakultas Hukum yang pergaulannya boleh dibilang cukup bebas dan cenderung ke arah hedon. Alih-alih nongkrong di perpus atau warung pinggir jalan, mahasiswa hukum lebih suka nongkrong di tempat-tempat yang high class. Tak heran jika banyak yang berpendapat bahwa mahasiswa hukum itu kaya raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, mahasiswa hukum yang datang dari kalangan jelata juga banyak. Nah, yang jelata inilah yang harus pandai-pandai menjaga diri biar tidak terjebak party sana-sini. Gawat kalau sampai beasiswa Bidikmisi habis sekadar untuk ngopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana? Apakah setelah membaca tulisan ini kamu tetap berkeinginan untuk masuk Fakultas Hukum? Jika memang sudah yakin, maka lanjutkanlah. Siapa tahu bisa benar-benar jadi the next Hotman Paris Hutapea! Semangat!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-mahasiswa-hukum-itu-ternyata-nggak-sekeren-yang-orang-lain-pikirkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jadi Mahasiswa Hukum Itu Ternyata Nggak Sekeren yang Orang Lain Pikirkan<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tapi liat Harvey emang keren gitu sih.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":251474,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[17152,2921,22154],"class_list":["post-251340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-belanda","tag-culture-shock","tag-mahasiswa-hukum"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=251340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/251474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=251340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=251340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=251340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}