{"id":251239,"date":"2023-12-12T09:10:44","date_gmt":"2023-12-12T02:10:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=251239"},"modified":"2023-12-12T09:10:44","modified_gmt":"2023-12-12T02:10:44","slug":"bahasa-jawa-surabaya-yang-sulit-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-surabaya-yang-sulit-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/","title":{"rendered":"10 Bahasa Jawa Suroboyoan yang Paling Unik dan Sulit Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Para Perantau di Surabaya Wajib Tahu!"},"content":{"rendered":"<p><em>Ada banyak Bahasa Jawa Surabaya yang unik dan sangat sulit diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Berikut 10 di antaranya.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di artikel saya sebelumnya tentang deretan kosakata daerah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-malang-bingung-bahasa-mahasiswa-plat-ag\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">plat AG<\/a>, menuai banyak perhatian teman-teman mahasiswa dari daerah Malang, Jombang, khususnya Surabaya. Mereka memberi apresiasi lantaran artikel tersebut bisa sedikit meringankan saat berdialog dengan teman mahasiswa dari daerah plat AG.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, selain mengapresiasi, mereka juga turut meminta tolong ke saya agar membuatkan daftar Bahasa Jawa dialek Suroboyoan. Katanya, supaya seimbang, supaya teman mahasiswa dari daerah plat AG yang kuliah di Surabaya, juga turut belajar perbendaharaan kata Suroboyoan. Mereka juga bilang, bahwa masih banyak bahasa Suroboyoan yang unik dan sulit diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut daftarnya:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Bahasa Jawa Surabaya \u201cdapak\u201d yang mempunyai 2 makna<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cdapak\u201d biasanya dipakai ketika ada pertanyaan yang harus dikonfirmasi dengan perasaan kecewa. Jika dimaknai ke dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa Suroboyoan satu ini sebenarnya bisa saja dimengerti dalam 2 arti, yakni \u2018jangankan\u2019 dan \u2018maka dari itu\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi perlu diingat, menggunakan kata ini jangan sampai rancu. Jangan sampai yang harusnya untuk makna \u2018jangankan\u2019, malah konteks dialognya membutuhkan makna \u2018maka dari itu\u2019. Supaya tidak sampai keliru, saya beri contoh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYok opo, wingi jare sido dolen karo gebetanmu?\u201d (Gimana, kemarin katanya jadi main sama gebetanmu?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDapak dolen, chat ku ae gak dibales, kok\u201d (Jangankan jadi main, chat saya saja tidak dibalas, kok.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu contoh penggunaan kata \u201cdapak\u201d dalam makna \u2018jangankan\u2019. Lalu untuk penggunaan yang maknanya \u2018karena itu, contohnya seperti ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYok opo iki rek, mosok wes tanggal tuek, bayaran sek gurung cair.\u201d (Gimana ini, kawan, masak sudah tanggal tua, gajian belum cair.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDapak gak ngunu, padahal kate digae <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-magelang-jangan-keluar-rumah-lebih-dari-jam-9-malam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">malam mingguan<\/a> lho\u201d (Maka dari itu, padahal mau dibuat malam mingguan, lho.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, kalau penggunaan kata \u201cdapak\u201d dalam arti \u2018maka dari itu\u2019, ada tambahan kata \u201cgak ngunu\u201d. Sementara penggunaan kata \u201cdapak\u201d dalam arti \u2018jangankan, tidak ada tambahan kata lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Mblindis, merujuk ke orang yang hanya memakai celana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata dalam Bahasa Jawa Surabaya selanjutnya adalah \u201cmblindis\u201d. Jika ditafsirkan ke dalam Bahasa Indonesia secara sederhana, kata satu ini bisa bermakna \u2018tidak pakai baju\u2019. Tapi, kata \u201cmblindis\u201d bukanlah kata yang akan dipakai orang Surabaya ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panasnya-surabaya-tak-hanya-bikin-gerah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mau mandi<\/a>. Sebab, \u2018tidak pakai baju\u2019 di sini menggambarkan orang yang hanya memakai celana saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam dialek Suroboyoan, kata \u201cmblindis\u201d akan dipakai ketika seseorang merasa badannya gerah karena suhu yang cukup panas. Makanya kenapa, yang dicopot hanya bajunya saja, bukan sekaligus celananya. Contoh kalimatnya begini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWadoh, puanas e dino iki, tak mblindis ae lah\u201d (Waduh, panas sekali hari ini, aku copot baju saja, lah.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Andus, yang maknanya sangat tidak sederhana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara sederhana, kata \u201candus\u201d dalam Bahasa Indonesia artinya adalah \u2018sangat bersemangat melakukan sesuatu\u2019. Namun, dalam Bahasa Jawa Surabaya,, maknanya tidak sesederhana itu. Sebab, kata ini cenderung dipakai untuk mendeskripsikan perbandingan kelakuan seseorang yang lain, yang tidak terlalu bersemangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal si A dalam hal menulis, sangat bersemangat. Semantara itu, dalam hal bersih-bersih, tidak bersemangat. Contoh kalimat untuk kata ini sebagai berikut:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDeloken, lek dikongkon nulis ae andus, lek dikongkon resik-resik omah muales.\u201d (Lihatlah, kalau disuruh menulis saja sangat bersemangat, tapi kalau disuruh bersih-bersih rumah sangat malas.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Gak gedugo, dalam Bahasa Indonesia maknanya sederhana saja\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah Bahasa Jawa Surabaya selanjutnya adalah \u201cgak gedugo\u201d. Kata ini dipakai ketika menegasikan sesuatu yang tidak recommended untuk diperhatikan secara kasar. Atau juga bisa digunakan saat ada seseorang yang kelakuannya menjijikkan ataupun tercela. Contoh kalimatnya begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku gak gedugo tuku mangan seng panggone rusuh.\u201d (Aku tidak akan beli makan yang tempatnya kumuh.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku gak gedugo pacaran karo arek seng gak tau ados.\u201d (Aku tidak mau sama pacaran sama orang yang tidak pernah mandi.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Nglencer, Bahasa Jawa Surabaya merujuk ke jarak bepergian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata Bahasa Jawa Surabaya satu ini jika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana, maknanya adalah \u2018bepergian jauh\u2019. Tapi, dalam dialek Suroboyoan, maknanya tidak sekadar bepergian jauh saja. Sebab kata ini juga sering digunakan ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ucapan-idul-fitri-tak-perlu-bertele-tele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hari raya Idul fitri<\/a>, tepatnya saat mau bersilaturahmi ke tetangga sekalipun jaraknya dekat rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimatnya seperti ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAyo nglencer nang Jogja\u201d (Ayo, bepergian ke Jogja). Atau, \u201cAyo nglencer nang tonggo-tonggo sekitar omah.\u201d (Ayo silaturahmi ke tetangga dekat rumah).<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Cuwawakan, merujuk ke sesuatu yang keterlaluan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Bahasa Indonesia ada \u201cbercandanya keterlaluan\u201d, Bahasa Jawa Suroboyoan ada \u201ccuwawakan\u201d. Tapi, seperti saya katakan di awal tadi, dialek Suroboyoan maknanya tidak sesempit ketika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana. Makna \u201cbercandanya keterlaluan\u201d pada kata \u201ccuwawakan\u201d ini punya dua spesifikasi, yakni \u2018bicara dan tertawa yang terlalu keras\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kalimatnya begini: \u201cAwakmu kok cuwawakan ngunu seh.\u201d (Kamu kok bercandanya dengan cara bicara dan tertawa terlalu keras, sih.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Medhag, Bahasa Jawa Surabaya yang artinya itu sebetulnya sederhana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata dalam dialek Suroboyoan selanjutnya adalah \u201cmedhag\u201d, yang artinya \u2018tidak pernah digunakan\u2019. Kata satu ini biasanya digunakan ketika ada barang yang terlalu lama disimpan dan tidak pernah dipakai. Berikut contoh kalimatnya:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIko lho, sepeda ontelmu medhag sampek rausuh.\u201d (Itu lho, sepeda ontelmu tidak pernah digunakan sampai keadaannya kotor sekali.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Atek, yang menjadi konjungsi dalam dialek Suroboyoan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata Suroboyoan satu ini jika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia maknanya persis <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-6512542\/pengertian-konjungsi-jenis-jenis-dan-contoh-kalimatnya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">konjungsi<\/a> seperti \u2018dan\/dengan\u2019. Hanya, dalam dialek Suroboyoan, makna \u2018dan\/dengan\u2019 ini cenderung ke arah konjungsi yang melengkapi objek kalimat. Contoh kalimatnya begini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPak, tuku tahu tek atek endog e pisan ya, Pak\u201d (Pak, beli tahu tek sama telornya sekaligus ya, Pak.)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kadang kata \u201catek\u201d ini juga bermakna \u2018usah\/perlu\u2019. Dan kata \u201catek\u201d yang punya makna demikian selalu ada tambahan kata \u201cgak\u201d. Sehingga contoh kalimatnya begini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLek jik cilik, gak atek pacaran.\u201d (Kalau masih kecil, tidak usah pacaran.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Laopo, yang maknanya nggak sesederhana itu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata dalam dialek Bahasa Jawa Suroboyoan selanjutnya adalah \u201claopo\u201d. Jika ditafsirkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana, maknanya adalah \u2018kenapa\u2019. Tapi, dalam dialek Suroboyoan, makna kata tanya \u2018kenapa\u2019 pada kata \u201claopo\u201d ini lebih menekan karena keheranan. Contoh ungkapannya bisa seperti ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLaopo kon iku.\u201d (Kenapa, sih, kamu sampai begitu.)<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Koyok yok-yok o, yang kamu banget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Suroboyoan yang terakhir adalah \u201ckoyok yok-yok o\u201d. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia secara sederhana, maknanya \u2018kebanyakan gaya\u2019. Cuman, dalam Bahasa Jawa Surabaya, makna \u2018kebanyakan gaya\u2019 terasa lebih dalam dan spesifik. Bisa dikatakan, kata \u201ckoyok yok-yok o\u201d adalah kebanyakan gaya yang bermuatan sombong dan arogan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah deretan Bahasa Jawa Suroboyoan yang paling unik dan sulit ditafsirkan ke Bahasa Indonesia. Silakan dibaca lagi sampai paham maksud dari bahasanya. Sebab kalau kalian perantau, beberapa bahasa tadi cukup sering digunakan orang-orang Surabaya dan sekitarnya ketika berdialog. Terlebih lagi, deretan bahasa tersebut cukup sulit bahkan nyaris mustahil jika harus mencari padanan bahasa indonesianya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-orang-grobogan-yang-tidak-dimengerti-orang-kudus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">8 Kosakata Bahasa Jawa Orang Grobogan yang Nggak Dimengerti Orang Kudus, padahal Wilayahnya Tetanggaan<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak Bahasa Jawa Surabaya yang unik dan sangat sulit diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Berikut 10 di antaranya. Ada yang kamu tahu?  <\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":251408,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1164,763,13336,13335,405],"class_list":["post-251239","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-surabaya","tag-bahasa-suroboyoan","tag-surabaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251239","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=251239"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251239\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/251408"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=251239"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=251239"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=251239"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}