{"id":2487,"date":"2019-05-29T15:30:08","date_gmt":"2019-05-29T08:30:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2487"},"modified":"2021-10-05T13:17:04","modified_gmt":"2021-10-05T06:17:04","slug":"mahasiswa-kere-tak-harus-tampak-kere","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-kere-tak-harus-tampak-kere\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Kere Tak Harus Tampak Kere"},"content":{"rendered":"<p>Sebut saja namanya Adrian. Saya mengenal dia saat kami bersama-sama menjadi mahasiswa dan kuliah Master, 5 tahun yang lalu di Bandung. Dia benar-benar makhluk yang unik, kalau tak mau dibilang cukup gila.<\/p>\n<p>Adrian sangat lah cerdas\u2014saya tentu tak ada apa-apanya\u2014bahasa inggrisnya lancar, logika berpikirnya sangat runtut, emampuan matematika tingkat dewa, pemuja <em>deadline<\/em> (anti mepet mepet club), dan gaya berbusana ala anak Grunge 90an. Kurang apalagi coba?<\/p>\n<p>Bahkan ada satu mata kuliah di mana hampir seisi kelas tidak ada yang berhasil menampilkan performa yang baik sepanjang semester\u2014Adrian konsisten menampilkan impresi menawan di setiap minggunya. Bahkan sang Profesor sampai begitu terpesona dengannya.<\/p>\n<p>Teman-teman sekelas rata-rata menyukainya, walau mungkin ada beberapa kompetitor saja yang agak kesal dengannya. Saya tentu saja bukanlah kompetitornya\u2014apalah saya ini, hanya remah <em>rempeyek<\/em> saja.<\/p>\n<p>Saya dan beberapa teman menjadi cukup akrab dengan Adrian. Satu hal yang cukup aneh adalah Adrian selalu menolak ajakan teman-teman untuk makan siang bareng. Tadinya saya pikir mungkin karena dia masih kenyang atau mungkin karena bawa bekal makan siang dari rumah.<\/p>\n<p>Saya tak terlalu menganggap aneh karena saya dan seorang teman lainnya juga kadang bawa bekal nasi dari rumah. Ya, kami adalah jenis mahasiswa yang anti gengsi. Bahkan saya sudah melakukan itu sejak jaman SMA\u2014di saat cowok-cowok remaja kebanyakan sibuk menampilkan sisi <em>cool<\/em>-nya, saya sedang sibuk menikmati nasi bungkus plus kerupuk di teras depan kelas. Ah, sungguh nikmatnya.<\/p>\n<p>Kembali lagi ke Adrian. Siang itu kami sama-sama sedang <em>ngaso<\/em> sambil menunggu jadwal kuliah berikutnya. Saya dan teman saya mulai membuka bungkusan bekal makan siang kami, ketika Adrian muncul dengan segelas Energen yang baru diseduhnya.<\/p>\n<p><em>Oh, mungkin dia lagi pengen minum Energen aja kali siang-siang gini<\/em>\u2014itu yang ada di benak saya sebelum saya menemukannya di siang-siang selanjutnya tetap ditemani dengan segelas Energen, padahal saya tahu dia belum makan siang. Ya, karena kami hampir setiap hari seharian ada di ruang komputer yang sama, makanya saya tahu kegiatan dia.<\/p>\n<p>Adrian akhirnya bercerita jujur bahwa memang Energen itu adalah bekal makan siangnya. <em>Oh my God, my Goodness, my Lord<\/em>\u2014mungkin reaksi kaget saya agak berlebihan bagi sebagian orang, tapi ini terjadi di tahun 2014 di kampus yang (katanya) terbaik di negeri ini dan pelakunya adalah mahasiswa S2.<\/p>\n<p>Adrian bahkan terkadang dalam sehari hanya makan sekali saja. Di sinilah Energen membuktikan slogannya sebagai minuman penambah energi. Karena saya lihat Adrian tetap bisa fokus dan berenergi sepanjang hari dengan intensitas pekerjaan yang berat.<\/p>\n<p>Ternyata dia pun seringkali harus pergi dan pulang ke kampus dengan jalan kaki. Tidak terlalu jauh sih, mungkin cuma 4-5 kilometer jaraknya. Tapi bagi mahasiswa yang tetap naik kendaraan bermotor meski kos di seberang kampus sih, jelas jarak itu begitu jauh.<\/p>\n<p>Ternyata seperti dugaan saya, Adrian sedang mengalami kesulitan finansial sejak sekitar 1 tahun terakhir. Untuk biaya kuliah untungnya Adrian rutin mendapat beasiswa karena prestasinya\u2014bukan karena status ekonominya. Karena di jurusan yang kami ambil tidak menyediakan beasiswa untuk kesulitan finansial. Ya, <em>you know<\/em>-lah jurusan apa itu. <del>Inisialnya aja ya, S B M. Inisial kampusnya I T B. <em>Ups!<\/em><\/del><\/p>\n<p>Adrian hanya bercerita jujur kepada saya dan beberapa teman dekat saja\u2014kepada sesama kaum burjois (penggemar burjo) seperti kami saja. Karena sebagian besar mahasiswa di jurusan ini berasal dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sindiran-sindiran-untuk-para-sosialis-yang-berkelakuan-borjuis-daBt\">kasta <em>borjuis<\/em> tertinggi di negeri ini.<\/a><\/p>\n<p>Seringkali <a href=\"https:\/\/mojok.co\/hsw\/konsultasi\/celengan\/faedah-keterbukaan-finansial\/\">orang-orang dengan masalah finansial<\/a> di kampus yang kita temui tidak berwujud seperti Adrian. Maksudnya, kebanyakan dari mereka sudah terlihat mencolok dari penampilan fisiknya. <em>Monmaap nih ya, nggak maksud nyinggung lho~<\/em><\/p>\n<p>Sementara Adrian tampak normal seperti mahasiswa kebanyakan di jurusan kami\u2014iya, di jurusan kami. Tempat di mana akan sangat mudah terlihat apabila kita &#8220;berbeda&#8221; -secara kemapuan finasial\u2014dia tidak pakai baju bermerek kok. Cuma ya tidak tampak <del>kampungan<\/del> ketinggalan jaman saja tampilan busananya.<\/p>\n<p>Saya tentu saja salut dengan Adrian yang selalu memupuk semangat belajarnya yang tinggi dengan tidak menunjukkan kesulitan yang dialaminya kepada orang sekitar. Bahkan hampir tak ada yang tahu bahwa Adrian selalu makan siang dengan bekal Energennya itu. Adrian tetaplah tampak sebagai mahasiswa yang keren di balik segala kerumitan hidupnya.<\/p>\n<p>Adrian pula lah yang berjasa mengajak saya untuk ikut mendaftar beasiswa ke luar negeri. Padahal saya sebenarnya tidak percaya diri untuk ikut mendaftar. Tapi Adrian berhasil meyakinkan saya untuk coba mendaftar. Satu tahun setelahnya kami benar-benar kuliah ke luar negeri\u2014sama-sama di benua Eropa tapi berbeda negara.<\/p>\n<p>Kisah soal Adrian menjalani kuliah di luar negeri\u2014dengan segala kesulitan finansialnya yang belum juga teratasi\u2014tentunya jauh lebih unik lagi. Tunggu saja kisah sekuel dari artikel ini. Sampai jumpa lagi ya. <em>Bhay!<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya tak terlalu menganggap aneh karena saya dan seorang teman lainnya juga kadang bawa bekal nasi dari rumah. Kami adalah jenis mahasiswa yang anti gengsi.<\/p>\n","protected":false},"author":52,"featured_media":2493,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[674,34,673],"class_list":["post-2487","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-kesulitan-finansial","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-kere"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2487","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/52"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2487"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2487\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2487"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2487"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2487"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}