{"id":246763,"date":"2023-12-04T14:50:45","date_gmt":"2023-12-04T07:50:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=246763"},"modified":"2023-12-04T14:42:37","modified_gmt":"2023-12-04T07:42:37","slug":"penggunaan-umpatan-anjing-dalam-bahasa-sunda-sehari-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penggunaan-umpatan-anjing-dalam-bahasa-sunda-sehari-hari\/","title":{"rendered":"Penggunaan Umpatan \u201cAnjing\u201d Berdasarkan Tingkatan Emosi dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p><i>Umpatan &#8220;anjing&#8221; dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari nyatanya punya tingkatan emosi yang berbeda.<\/i><\/p>\n<p>Saya pikir, semua orang sepakat kalau kata umpatan \u201canjing\u201d merupakan kata yang sangat kasar dalam sebuah percakapan. Umpatan ini biasa diucapkan ketika seseorang merasa marah, kesal, dan emosi terhadap suatu kejadian yang menimpanya. Dalam bahasa daerah mana pun, umpatan \u201canjing\u201d ini sepertinya kerap dilontarkan seseorang ketika emosinya sedang meletup-letup.<\/p>\n<p>Begitu pula halnya dalam bahasa Sunda, bahasa yang saya gunakan dalam percakapan sehari-hari. Meski banyak yang bilang bahwa penggunaan umpatan \u201canjing\u201d <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penggunaan-kata-anjing-dan-goblog-untuk-percakapan-bahasa-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">(dan juga \u201cgoblog\u201d)<\/a> dalam percakapan bahasa Sunda merupakan simbol keakraban dan bersifat candaan, tapi menurut saya tetap saja kasar. Bukannya apa-apa, kata-kata tadi kan tidak sesuai dengan stereotipe orang Sunda yang terkenal ramah dan sopan.<\/p>\n<p>Memang tidak bisa dimungkiri bahwa saya kerap menjumpai orang Sunda yang mengucapkan umpatan \u201canjing\u201d itu. Mulai dari yang secara gamblang menyebutkan kata \u201canjing\u201d, sampai yang disamarkan bunyinya menjadi \u201canying\u201d, \u201canjir\u201d, atau \u201cajig\u201d. Dan setelah saya selidiki dan pahami secara mendalam, ternyata perbedaan itu disebabkan oleh tingkatan emosi si pengucapnya.<\/p>\n<h2><strong>Ajig, umpatan bahasa Sunda yang berada di tingkat emosi paling rendah<\/strong><\/h2>\n<p>Kata \u201cajig\u201d ini saya tempatkan berada di tingkat paling rendah dalam hal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/emosi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">emosi<\/a> pengucapnya. Biasanya, kata ini diucapkan ketika seseorang merasa gemas atau gereget terhadap suatu kejadian. Mungkin ada rasa kesal, tapi lebih cenderung bercanda sifatnya.<\/p>\n<p>Contohnya, ketika seseorang merasa malu karena terpeleset di depan orang banyak, kemungkinan dia akan bilang begini, \u201cTadi aing tisoledat di hareupeun kantin. Duh, aing era, ajiiig!\u201d yang artinya \u201cTadi saya terpeleset di depan kantin. Duh, saya maluuu!\u201d. Ketika mendengar kata \u201cajig\u201d di akhir kalimat, biasanya disambut dengan gelak tawa si pendengar.<\/p>\n<h2><strong>Anjir, umpatan bahasa Sunda yang bisa digunakan sebagai ungkapan kagum, terkejut, dan heran<\/strong><\/h2>\n<p>Kata \u201canjir\u201d (atau biasa disingkat \u201cnjir\u201d) ini biasanya diucapkan oleh orang-orang yang tidak terbiasa mengucapkan kata-kata kasar dalam percakapan. Jadi masih agak segan dan malu-malu gitu, lah. Misalnya pada kalimat \u201cAnjir, teu rido aing mah!\u201d yang artinya \u201cAnjir, saya nggak rela!\u201d yang menggambarkan kekesalan seseorang tapi emosinya masih relatif stabil.<\/p>\n<p>Selain itu, umpatan satu ini juga lebih luas penggunaannya dalam percakapan bahasa Sunda. Jadi tidak hanya berfungsi sebagai umpatan atau meluapkan emosi saja, tetapi juga dipakai sebagai kata sapaan, menyatakan kekaguman atau rasa heran, dan juga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ungkapan-bahasa-sunda-yang-wajib-diketahui-penutur-non-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ungkapan kaget atau terkejut<\/a>.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Didinya ka mana wae, Njir? (Kamu ke mana aja, sih?)<\/em><br \/>\n<em>Anjir, hade kitu euy! (Wah, keren banget, sih!)<\/em><br \/>\n<em>Njir, naha bisa kitu? (Lho, kok bisa gitu?)<\/em><\/p>\n<h2><strong>Anying, menyatakan kekesalan dengan emosi yang mulai naik<\/strong><\/h2>\n<p>Setingkat di atas kata \u201canjir\u201d tadi, ada kata \u201canying\u201d. Meski terdengar lucu, umpatan bahasa Sunda satu ini justru diucapkan ketika seseorang benar-benar kesal terhadap sesuatu yang dialaminya. Biasanya, kata ini diucapkan ketika emosi seseorang sudah mulai naik dan meninggi.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Si anying teh ngareureuwas aing wae! (Kamu tuh ngagetin saya terus!)<\/em><br \/>\n<em>Anying teh gara-gara sia atuh da! (Ini semua gara-gara kamu, sih!)<\/em><\/p>\n<p>Jadi, kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/orang-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang Sunda<\/a> sudah mulai kesal, maksudnya benar-benar kesal tapi tidak bisa marah, ya keluarlah kata-kata \u201canying\u201d ini. Tidak terlalu kasar, tapi tidak terlalu lembut juga, sih. Kalau pakai kata \u201canjir\u201d kayaknya kurang pas, kalau pakai kata \u201canjing\u201d malah ketinggian. Kurang lebih begitu.<\/p>\n<h2><strong>Anjing, umpatan dengan tingkat tertinggi ketika seseorang sedang emosi<\/strong><\/h2>\n<p>Nah, ketika ada orang Sunda dengan tegas dan jelas mengucapkan kata umpatan \u201canjing\u201d dalam sebuah percakapan, itu tandanya dia sedang marah besar. Kesalnya sudah sampai ubun-ubun dan tidak tertahankan. Biasanya, kalau umpatan ini terlontar dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari, selalu dipadankan dengan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jabar\/jabar-gaskeun\/d-6326647\/20-kosakata-kasar-dalam-bahasa-sunda-jangan-sembarangan-ucapkan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kata \u201csiah\u201d<\/a> atau \u201cgoblog\u201d biar makin cetar luapan emosinya.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p><em>Anjing teh goblog! Sia macem-macem ka aing?! (Heh! Kamu macam-macam dengan saya?!)<\/em><br \/>\n<em>Eh, anjing siah! Indit ka ditu! (Heh, kamu! Pergi sana!)<\/em><\/p>\n<p>Kalimat-kalimat di atas memang menunjukkan emosi yang tinggi dan amarah yang besar. Pokoknya kalau kamu ketemu orang Sunda dengan kata-kata seperti tadi, mending menyingkir saja.<\/p>\n<p>Itulah penggunaan umpatan \u201canjing\u201d beserta turunannya dalam percakapan bahasa Sunda sehari-hari. Artikel ini bukan bermaksud mengajarkan cara berbicara kasar dalam bahasa Sunda lho, ya. Tapi sebagai panduan saja biar kamu tahu seseorang itu sedang marah, kesal, atau biasa saja, khususnya ketika kamu berinteraksi dengan orang Sunda.<\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-sunda-yang-susah-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">15 Kosakata Bahasa Sunda yang Susah Diartikan ke Bahasa Indonesia. Orang Sunda Juga Bingung Menjelaskannya<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Umpatan &#8220;anjing&#8221; dalam bahasa Sunda ternyata memiliki tingkatan berdasarkan emosi penuturnya. Coba pahami dulu ngobrol sama orang Sunda.<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":246788,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3132,6512,4610,5640,6047,7012,1152,9336],"class_list":["post-246763","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-anjing","tag-bahasa-sunda","tag-emosi","tag-jawa-barat","tag-orang-sunda","tag-suku-sunda","tag-sunda","tag-umpatan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=246763"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246763\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/246788"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=246763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=246763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=246763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}