{"id":24643,"date":"2020-01-08T14:30:41","date_gmt":"2020-01-08T07:30:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=24643"},"modified":"2020-01-08T14:38:02","modified_gmt":"2020-01-08T07:38:02","slug":"siapa-sih-sebenarnya-yang-layak-menyandang-status-open-minded-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siapa-sih-sebenarnya-yang-layak-menyandang-status-open-minded-itu\/","title":{"rendered":"Siapa sih Sebenarnya yang Layak Menyandang Status Open-minded Itu?"},"content":{"rendered":"<p>Satu hal yang kerap membuat saya bertanya-tanya, ada orang yang seenaknya bisa melabeli orang lain <em>close-minded<\/em> (berfikiran tertutup). Giliran kita balas argumentasi dia dengan cara pandang kita, dia malah tak mau menerima. Dan tetap ngeyel pada pendiriannya yang telah kita temukan celah bolongnya. Sebenarnya siapa <em>sih<\/em> yang tengah terjangkiti <em>close-minded?<\/em><\/p>\n<p>Obrolan kita seketika menjadi tak adil demikian rupa. Seolah-seolah klaim diri adalah <em>open-minded,<\/em> lalu orang lain <em>close-minded<\/em> hanyalah soal: siapa cepat menuduh, dia yang menang. Dialog tertutup sampai di situ. Dan kita, saling mengklaim diri paling <em>open-minded,<\/em> orang lain kaku.<\/p>\n<p>Ada pula yang aneh. Mereka melabeli orang lain <em>close-minded<\/em> hanya karena orang lain kokoh pada prinsip hidupnya. Yang mungkin diadaptasi dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/kisah-pindah-agama-kegelisahan-iman-itu-normal-efSK\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">prinsip agama<\/a> dan budaya sosial tempat dia hidup. Lebih parah, mereka menyebut orang lain intoleran pada hal-hal yang prinsipil dan tak bisa diganggu-gugat.<\/p>\n<p>Apakah <em>open-minded<\/em> harus menjadi seorang liberal, misalnya? Lalu mengabaikan prinsip-prinisip hidup yang orang lain yakini? Sementara mereka yang menuding <em>close-minded<\/em> juga memaksakan prinsip dari filosofi hidup yang dia yakini. Kenapa kita saling ganggu dengan cara yang tidak elegan begini? Katanya kita nggak boleh mengganggu ruang <em>private<\/em> orang lain, kok Anda melabeli kami <em>close-minded<\/em> karena membela hak-hak <em>private<\/em> kami?!<\/p>\n<p>Masalah ini lebih sensitif kalau sudah masuk ke urusan agama. Tapi saya tak mau tergiring terlalu jauh. Cukup pada hal-hal yang &#8220;bisa disampaikan&#8221; saja. Perkara agama itu bisa pelik kalau terlalu melebar. Apalagi mengahadapi pembaca yang relatif <em>close-minded,<\/em> huft.<\/p>\n<p>Menurut saya, istilah <em>open-minded<\/em> saat ini mengalami reduksi makna. Meskipun tidak parah dan mewabah ke semua lapisan, tapi ada saja oknum tertentu yang memonopolinya untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-tidak-suka-dengan-postingan-saya-tinggal-unfollow-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">men<em>-judge<\/em><\/a> pihak lain yang &#8220;tidak sama&#8221; dengannya.<\/p>\n<p>Di mana-mana, orang macam ini, akan menuding orang lain anti-pluralitas. Tak bisa berdialog. Berbagai macam sebutan lain disematkan untuk menunjukkan bahwa orang lain berfikiran tertutup.<\/p>\n<p>Untuk itu, di sini saya mencoba untuk meluruskan kembali hakikat dari <em>open-minded<\/em> tersebut. Tentunya saya tidak perlu memulainya dari definisi yah. Langsung <em>to the point<\/em> saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><strong>Pertama,<\/strong><\/em> yang harus dipahami, berfikiran terbuka merupakan ciri pribadi yang demokratis, dan salah satu keterampilan sosial yang harus dimiliki di era milenial. Sebab, berfikiran terbuka adalah prasyarat seseorang atau sekelompok masyarakat untuk masuk menjadi bagian dari modernitas. Ini modal menjadi manusia abad 21.<\/p>\n<p>Berfikiran terbuka juga wujud terakses dengan baiknya ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses pendidikan yang baik akan mewariskan keterampilan ini.<\/p>\n<p><em><strong>Kedua,<\/strong><\/em> berfikiran terbuka adalah antitesis terhadap sikap ketertutupan berfikir. Cara berfikir akan terwujud dalam sikap. Ciri utama <em>close-minded<\/em> biasanya ditunjukkan seseorang ketika merespon sebuah informasi yang tak sejalan dengan keyakinan dirinya. Baik keyakinan yang berhubungan dengan agama, perkara filosofis, atau hal ihwal saintifik dan analisis teori lainnya.<\/p>\n<p><em>Close-minded<\/em> berbeda dengan mempertahankan argumentasi dalam diskusi. Mempertahankan pendapat itu hak yang harus dijunjung tinggi. Bedanya, <em>close-minded<\/em> lebih ke &#8220;tidak mau menerima perbedaan dan keberagaman&#8221;.<br \/>\nPertanyaannya, selama ini siapa yang suka mengusik keberagaman? Dialah sejatinya <em>close-minded<\/em> (hadeeeh, ini saya jadi main tuduh lagi nih, <em>hehe).<\/em><\/p>\n<p>Selain menolak keberagaman perspektif\/ideologi, ciri orang <em>close-minded<\/em> ialah senang menghakimi (menuding) orang lain dengan label negatif. Ini dilakukan sebagai upaya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kho\/esai\/sebagai-partai-anak-muda-harusnya-psi-jangan-keseringan-negative-campaign\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>black campaign<\/em><\/a> pihak lawan agar mendapat citra buruk dari publik.<\/p>\n<p>Ciri berikutnya yang <em><strong>ketiga,<\/strong><\/em> anti-kritik. Mereka bukan saja tak mau menjadi objek kritik, bahkan tidak menyukai pihak-pihak lain dikritik, meskipun tidak ada hubungan dengan hajat hidup mereka. Sikap ini lebih condong untuk tidak mau membiarkan orang lain tampak terlihat pintar, eksis, dan kritis dibanding dirinya. Padahal, maksud dari munculnya kritik bukan untuk terlihat pintar dan eksis, melainkan untuk meluruskan cara berfikir dan menunjukkan jalan secara teoritis.<\/p>\n<p>Sikap anti-kritik ini, berlanjut menjadi anti-teori, dan pada akhirnya berubah bentuk menjadi anti-intektualisme.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><strong>Keempat,<\/strong><\/em> ciri lainnya, lemah telinga. Tak mau mendengarkan adalah penyakit kebanyakan orang. Semua ingin didengar, walau hanya omong kosong belaka. Kebiasaan ini membuat informasi yang ingin disampaikan tidak utuh, terputus. Dialog terhenti.<\/p>\n<p>Untuk itu, agar tak sama-sama <em>close-minded,<\/em> sebaiknya kita berhati-hati pada diri sendiri terlebih dahulu, baru kepada pihak lain. Hindari perdebatan bila memang tidak terlalu mendesak dan tak menyentuh persoalan prinsipil.<\/p>\n<p>Dalam Ilmu Psikologi, berfikiran sempit adalah sifat alamiah manusia. Sebab, kita cenderung menciptakan stereotipe, yaitu penilaian terhadap orang lain berdasarkan persepsi diri kita sendiri, dan mengelompokkan orang tersebut ke dalam kategori tertentu. Secara otomatis, ini akan menjadi tindakan dan keputusan kita dalam proses interaksi sosial.<\/p>\n<p>Tapi itu semua bisa diolah bila kita sadari kelemahan diri sebagai manusia yang punya banyak keterbatasan. Salah satunya lemah untuk menaklukkan ego. Kita selalu memaksa diri agar selalu (dianggap) benar. Yah, macam kamu-kamu itu, kaum <em>close-minded<\/em> yang maunya benar sendiri! <em>Hihihi.<\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebebasan-berpendapat-di-media-sosial-jangan-bedakan-antara-media-sosial-dan-kehidupan-nyata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Jangan Bedakan Antara Media Sosial dan Kehidupan Nyata<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ahmad-risani\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ahmad Risani<\/a> lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah open-minded harus menjadi seorang liberal, misalnya? Lalu mengabaikan prinsip-prinisip hidup yang orang lain yakini?<\/p>\n","protected":false},"author":529,"featured_media":24749,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[5122,2717,5121],"class_list":["post-24643","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-close-minded","tag-diskusi","tag-open-minded"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24643","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24643"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24643\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24749"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24643"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24643"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24643"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}