{"id":246195,"date":"2023-12-04T12:40:38","date_gmt":"2023-12-04T05:40:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=246195"},"modified":"2023-12-04T12:41:19","modified_gmt":"2023-12-04T05:41:19","slug":"iklan-horor-sukses-bikin-saya-langganan-spotify-premium","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/iklan-horor-sukses-bikin-saya-langganan-spotify-premium\/","title":{"rendered":"Iklan Podcast Horor Sukses Bikin Saya Langganan Spotify Premium"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAkhirnya nyampelah kita di sadel, TARIKKK-TARIKKK, nah itu kan bentuknya udah nggak karu-karuan.\u201d Penggalan iklan tersebut tentu tidak asing bagi telinga pengguna bukan Spotify Premium alias gratisan. Sederhana, tapi bikin marah. Tidak selesai dengan iklan pendakian horor, bahkan sekarang iklan podcast horor Spotify bertambah dengan judul \u201cTEROR POCONG\u201d yang lebih mengganggu dan secara eksplisit menyebutkan pocong di iklannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pengguna gratisan, saya tidak mempermasalahkan adanya iklan di sebuah layanan media. Namun jika yang diiklankan adalah sesuatu yang mengganggu dan tidak disukai oleh pengguna, rasanya sah-sah saja jika pengguna protes. Pertanyaan saya adalah kenapa harus <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/podcast\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">podcast<\/a> horor yang diiklankan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Iklan horor di Spotify mengganggu dan bikin kepikiran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mendengar sesuatu yang dirasa berbahaya seperti cerita horor, secara tidak sadar sistem hormon tubuh akan memproses sedemikian rupa yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Masalahnya, masing-masing orang memiliki penerimaan berbeda terhadap sesuatu yang mengancam seperti cerita horor ini. Ada orang yang santai, tapi ada juga yang meresponsnya secara berlebihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, saya adalah orang yang skeptis dengan cerita-cerita seperti itu. Tapi jika dihadapkan dengan situasi horor yang digambarkan, saya juga takut. Yang bikin jengkel adalah iklan podcast horor di Spotify ini sering muncul di waktu yang tidak tepat. Seperti ketika kita mendengarkan musik di tengah malam, atau ketika berkendara melewati jalan yang sepi dan gelap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan ketika lagi enak-enaknya menyanyikan lagu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/lebih-merdu-bernyanyi-di-kamar-mandi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ghea Indrawari<\/a> \u201cJiwa yang Bersedih\u201d, eh tiba-tiba muncul iklan Spotify \u201cTEROR POCONG\u201d. Bukannya dibikin larut dalam kesedihan, malah dibikin takut sepanjang jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak semua orang suka horor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Spotify mengiklankan hal berbau horor karena berpikir bahwa orang Indonesia banyak yang suka. Wajar saja, karena apa yang viral saat ini kebanyakan adalah sesuatu yang berbau horor. Bahkan di 10 besar peringkat podcast teratas Spotify pasti ada podcast bertema horor. Apalagi jika melihat statistik pendengar podcast di dunia, Indonesia mencapai 30 persen lebih. Orang Spotify pasti menilai, \u201cWah, pasar bagus, nih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, apakah semua orang pasti menyukai horor? Kan tidak. Ada banyak genre lain yang memiliki potensi pendengar tinggi seperti komedi, atau podcast dengan tema obrolan ringan. Lagi pula di Spotify lebih banyak orang yang ingin mendengarkan musik, kenapa tidak mengiklankan hal-hal yang berbau musik saja? Misalnya iklan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-band-indonesia-yang-semakin-tenar-setelah-ganti-vokalis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">band Indonesia<\/a> yang baru saja mengeluarkan album baru.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa tidak mengiklankan sesuatu yang disukai pengguna?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk perusahaan sekelas Spotify, saya rasa mereka memiliki sumber daya yang cukup besar untuk memperbaiki <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Algoritma\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">algoritma<\/a> iklan mereka. Saya sempat berpikir, kenapa iklan yang disajikan ke pengguna tidak disesuaikan dengan kesukaan pengguna. Misalnya, pengguna A menyukai komedi, maka iklan yang disajikan adalah hal-hal yang berbau komedi. Atau pengguna B suka horor, maka iklan yang disajikan adalah sesuatu yang berbau horor. Mungkin dengan demikian jumlah pendengar dan pengguna platform streaming musik bisa bertambah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi setelah saya analisis, sepertinya ada tujuan lain mengapa Spotify banyak mengiklankan hal-hal yang berbau horor. Seperti yang saya sebutkan tadi.<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/cerita-horor\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Cerita horor<\/a> dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman. Maka dengan demikian banyak orang yang terpaksa beralih ke layanan Spotify Premium untuk menghilangkan iklan yang mengganggu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika alasan Spotify memasang iklan horor untuk menambah jumlah pengguna Spotify Premium, rasanya dengan strategi marketing seperti itu menunjukkan bahwa Spotify ini benar-benar kapitalis. Karena berkat iklan yang mengganggu itu akhirnya saya memutuskan untuk berlangganan Spotify Premium. Jadi, selamat buat Spotify, strategi marketing kalian berhasil.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Kuncoro Purnama Aji<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/spotify-wrapped-ajang-nostalgia-playlist\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pamer Spotify Wrapped Bukan Berarti Norak dan FOMO, Justru Jadi Ajang Nostalgia Playlist dan Kisah di Baliknya<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesel nggak sih kalau lagi asik-asik dengar lagu, eh, tiba-tiba muncul iklan horor di Spotify. Auto langganan Spotify Premium, deh.<\/p>\n","protected":false},"author":1325,"featured_media":246770,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[20323],"tags":[1304,29,880,21975,248,20249,3316,21976,347,13331],"class_list":["post-246195","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-teknologi","tag-cerita-horor","tag-horor","tag-iklan","tag-iklan-spotify","tag-musik","tag-paket-langganan-spotify","tag-podcast","tag-podcast-horor","tag-spotify","tag-spotify-premium"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246195","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1325"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=246195"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/246195\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/246770"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=246195"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=246195"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=246195"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}