{"id":244796,"date":"2023-11-30T13:09:12","date_gmt":"2023-11-30T06:09:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=244796"},"modified":"2023-11-30T14:23:04","modified_gmt":"2023-11-30T07:23:04","slug":"harga-ikan-di-lamongan-terjun-bebas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harga-ikan-di-lamongan-terjun-bebas\/","title":{"rendered":"Harga Ikan di Lamongan Terjun Bebas, Solusinya Adalah Makan Ikan. Bagus, Bagus Buanget, Solutif!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir-akhir ini tema perbincangan \u201cwarung kopi\u201d di daerah saya adalah seputar harga ikan di Lamongan yang bikin pusing. Iya, harga ikan sekarang sungguh tidak masuk akal. Bukan cuma turun, tapi ndlosor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan aja, ikan yang awalnya 7 ribu, sekarang jadi 3 ribu rupiah. Cumi-cumi yang biasanya 65 ribu, sekarang dihargai 28 ribu saja. Edyan, kan? Penurunan harga ini bahkan lebih parah ketimbang ketika korona dua tahun ke belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BTW, itu harga borongan atau harga ikan di Lamongan yang saya ceritakan adalah harga jual nelayan, bukan harga pasaran. Jadi di pasar harga ikan masih terbilang normal. Nggak ndlosor banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang seorang nelayan pun sambat jika ia sekarang lebih memilih di rumah saja. Sebab, melaut pun nggak malah untung, malah rugi parah. Selain itu, bahan bakar solar pun sering telat datang. Harga bumbu dan bahan pokok untuk perbekalan melaut juga naik. Jadi pasti rugi kalau pergi melaut sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia membandingkan, jika kondisi normal, tangkapan ikan 13 ton itu dapat 80 juta. Sekarang cuma dapat 45 juta saja. Padahal harga bahan bakar (solar) yang diperlukan untuk melaut ini sekitar 28 juta untuk 18 drum. Belum kebutuhan lainnya yang harganya setara dengan bahan bakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, sebagai gambaran, nelayan di tempat kami ini\u2014di Lamongan\u2014memakai perahu yang agak besar. Berlayar sekitar 2 mingguan. Dan tangkapannya memang banyak. Jadi bukan nelayan yang melaut pagi hari dan pulang ketika petang.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Harga ikan di Lamongan sudah nggak masuk akal<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya melanjutkan ceritanya. Para nelayan yang baru pulang melaut kemarin langsung lemas setelah tahu harga ikan di Lamongan sudah nggak masuk akal. Padahal mereka ini dapat ikan dengan muatan penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWes piye maneh mas\u201d. Ucap teman saya sambil memelas. \u201cBelum lagi mikir anak yang daftar ulang sekolah esok\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kemudian bertanya, terus jika rugi, apakah awak kapal nggak dapat bayaran? Ia mengatakan tetap dapat tapi \u201csiratan\u201d. Atau sekadar dapat uang ganti. sekitar 1 juta, bahkan ada yang 500 ribu saja. Di kondisi normal, bisa dua kali lipatnya. Bahkan lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memang bukan nelayan yang terkena imbas secara langsung. Tapi, saya ini tinggal di Pantura Lamongan yang mana salah satu pondasi dalam perekonomian adalah para nelayan ini. Iya, perputaran uang selalu diawali dari sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja masalah ini nggak bisa diatasi dengan sekadar \u201cjadi pengusaha\u201d. Atau joget-joget pargoy. Saya pun cuma bisa mengatakan kepada teman saya ini untuk tetap sabar dan terus berjuang.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Makan ikan adalah solusinya<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin, Selasa (28\/11\/2023) di Aula Mim 04 Blimbing, Paciran, Lamongan. Pimpinan Rating Muhammadiyah Blimbing menyelenggarakan talk show dengan mengusung tema \u201cBBM Langka, Harga Ikan Turun, Masyarakat Nelayan Bingung\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup tertarik untuk menyimak bagaimana hasil dari obrolan tersebut. Akan tetapi ketika mencoba mencari tahu, saya justru malah kecewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip dari <a href=\"https:\/\/www.rri.co.id\/daerah\/462001\/harga-ikan-anjlok-dinas-perikanan-lamongan-serukan-progam-gemarikan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>RRI,<\/em><\/a> Yuli Wahyuono, selaku Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan mengatakan bahwa tak hanya harga ikan di Lamongan yang turun, tak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia yang diakibatkan dari adanya perang Ukraina dan Rusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pasar ikan yang ada di Eropa dan Amerika juga melimpah. Dan ini tidak bisa diselesaikan oleh bupati maupun gubernur, yang bisa hanyalah Pemerintah Pusat,&#8221; jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih mengutip <em>RRI,<\/em> untuk mengantisipasi hal itu, Yuli serukan kembali progam Gemarikan alias Gemar Makan Ikan agar diterapkan di lingkungan keluarga hingga sekolah. Selain mengandung gizi baik, harga ikan juga relatif murah untuk bisa dikonsumsi setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana? Sudah menemukan solusi yang presisi dari talk show tersebut?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memang bukan orang yang paham betul persoalan ikan ini. Hanya saja solusi yang blio tawarkan ini kok nggak mashok yaaa. Sebab, yang punya masalah kan nelayan, kenapa masyarakat malah disuruh makan ikan?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Lempar tangan pemerintah<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sungguh geleng-geleng. Bahkan blio mengatakan kalau masalah ini nggak bisa diselesaikan bupati atau gubernur, tapi harus pemerintah pusat. Sungguh, kalimat yang terasa kurang solutif. Saya jadi teringat ucapan mantan gubernur yang bilang kalau masalah banjir di Jakarta akan lebih mudah diselesaikan jika menjadi presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, perlu diakui kalau di semua daerah memang mengalami penurunan harga ikan, tapi bukan lantas nggak ada solusi sama sekali dong! Paling tidak ada solusi jangka pendek sembari menunggu pemerintah pusat bertindak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih contoh. Awal tahun kemarin, ketika banjir melanda beberapa daerah di Lamongan, Karang Taruna Desa Kendalkemlagi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, menyediakan bengkel gratis untuk kendaraan roda dua yang mogok akibat banjir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini yang saya maksud dengan solusi jangka pendek. Karang Taruna tersebut paham tidak bisa melakukan apa pun terhadap kondisi jalan, akan tetapi mereka punya solusi jangka pendek. Bukan sekadar mengatakan kalau ini harusnya diselesaikan pemerintah pusat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, pada akhirnya nelayan Pantura Lamongan hanya bisa kebingungan. Dan pemerintah daerahnya hanya bisa lempar tangan. Begitu seterusnya sampai Elon Musk jadi Bupati Lamongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehat-sehat para nelayan di mana saja kalian berada.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nelayan-profesi-paling-makmur-di-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nelayan, Profesi Paling Makmur di Lamongan, Awak Kapal Gajinya Minimal 3 Juta!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pusing.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":244818,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17711,21890,2250,3065],"class_list":["post-244796","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-harga-ikan","tag-harga-ikan-di-lamongan","tag-lamongan","tag-nelayan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/244796","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=244796"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/244796\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/244818"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=244796"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=244796"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=244796"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}