{"id":243868,"date":"2023-11-25T11:30:54","date_gmt":"2023-11-25T04:30:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=243868"},"modified":"2023-11-26T07:37:43","modified_gmt":"2023-11-26T00:37:43","slug":"bahasa-sunda-yang-susah-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-sunda-yang-susah-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/","title":{"rendered":"15 Kosakata Bahasa Sunda yang Susah Diartikan ke Bahasa Indonesia. Orang Sunda Juga Bingung Menjelaskannya"},"content":{"rendered":"<p><em>Sebagai orang Sunda, saya juga bingung mau mengartikan kosakata bahasa Sunda ini untuk kalian, Gaes.<\/em><\/p>\n<p>Indonesia memiliki begitu banyak bahasa daerah. Menurut data Badan Bahasa Kemendikbud RI, ada sebanyak 781 bahasa daerah yang digunakan di Indonesia. Bisa dibayangkan kan berapa banyak kosakata atau istilah yang lahir dari masing-masing bahasa daerah tersebut? Dan itu nggak semuanya bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, lho. Inilah yang pernah dibahas oleh Mbak Dyan Arfiana Ayu Puspita dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-bahasa-tegal-yang-susah-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mbak Liza Rizki Amalia<\/a> lewat artikel mereka di Terminal Mojok beberapa waktu yang lalu.<\/p>\n<p>Begitu juga dengan bahasa Sunda, bahasa yang gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ada beberapa kosakata yang bukan cuma nggak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi juga susah dijelaskan artinya secara gamblang oleh orang Sunda itu sendiri. Biar kamu nggak penasaran, saya coba jelaskan\u2014meski dengan susah payah\u2014beberapa kosakata bahasa Sunda yang memang susah untuk dijelaskan itu.<\/p>\n<h2><strong>#1 Atuh<\/strong><\/h2>\n<p>Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/orang-sunda\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang Sunda<\/a> tapi sebetulnya nggak punya arti apa pun. Fungsinya hanya sebagai pelengkap kalimat supaya percakapan jadi lebih akrab. Contohnya kalimat \u201csok atuh geura balik\u201d dengan \u201csok geura balik\u201d itu kurang lebih punya arti yang sama, yaitu \u201ccepat pulang sana\u201d. Jadi kalau ada yang nanya arti dari kata \u201catuh\u201d, pastinya saya bingung bagaimana menjelaskannya.<\/p>\n<h2><strong>#2 Jabaning<\/strong><\/h2>\n<p>Ini juga termasuk kosakata bahasa Sunda yang susah untuk dijelaskan. Biasanya, kata \u201cjabaning\u201d ini digunakan ketika menghadapi situasi yang nggak diharapkan dan diperparah oleh situasi yang lain. Contohnya kalimatnya begini: Duh, aya razia pulisi, jabaning urang teu mawa SIM (Duh, ada razia polisi, mana saya nggak bawa SIM). Semoga bisa dipahami, ya.<\/p>\n<h2><strong>#3 Uyuhan<\/strong><\/h2>\n<p>\u201cManeh mah kuliah bari riweuh gawe, uyuhan bisa lulus oge\u201d artinya kurang lebih \u201ckamu itu kuliah sambil sibuk kerja, sudah syukur alhamdulillah bisa lulus juga\u201d. Saya terjemahkan seperti itu karena saya susah mencari padanan kata yang sesuai dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/bahasa-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Indonesia.<\/a> Intinya, kata \u201cuyuhan\u201d dalam bahasa Sunda ini mungkin bisa berarti \u201cmasih mending\u201d atau digunakan ketika seseorang bisa melampaui ekspektasi.<\/p>\n<h2><strong>#4 Hag siah<\/strong><\/h2>\n<p>Kalau ini sih istilah yang biasa digunakan untuk menakut-nakuti seseorang supaya merasa bersalah. Saya sering memadankan istilah ini dengan istilah \u201cnah lho\u201d atau \u201chayo lho\u201d dalam bahasa Indonesia. Contohnya kalimat \u201chag siah, bukuna soek!\u201d yang artinya kurang lebih \u201chayo lho kamu, bukunya sobek!\u201d. Ngerti kan, ya?<\/p>\n<h2><strong>#5 Euleuh<\/strong><\/h2>\n<p>Orang Sunda biasanya mengungkapkan rasa heran, terkejut, atau kagum dengan kata \u201ceuleuh\u201d ini. Menurut saya, kata ini lebih cocok dipadankan dengan bahasa slang seperti \u201clah\u201d, \u201cyaelah\u201d, atau \u201chalah\u201d. Misalnya, kalau ada orang Sunda ngomong \u201ceuleuh, naha bisa kitu?\u201d itu artinya seperti \u201clah, kok bisa gitu, sih?\u201d.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-sunda-yang-susah-diterjemahkan-ke-bahasa-indonesia\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Cukclak mengacu pada bunyi tetesan air hujan&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>#6 Cukclak<\/strong><\/h2>\n<p>Kata \u201ccukclak\u201d sebetulnya mengacu pada bunyi tetesan air hujan sesaat sebelum turun hujan deras. Jadi kalau ada orang Sunda bilang \u201chayu geura balik, ieu geus cukclak!\u201d, itu artinya dia mengajakmu cepat-cepat pulang karena sudah ada tetesan air hujan yang jatuh dari langit. Yang pasti bukan gerimis, karena \u201ccukclak\u201d dalam bahasa Sunda ini berarti butiran air hujannya lebih besar dengan intensitas yang cepat.<\/p>\n<h2><strong>#7 Buricak burinong<\/strong><\/h2>\n<p>Istilah bahasa Sunda ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang menarik perhatian karena warna-warni yang menyilaukan mata. Misalnya, \u201ceta dandanan maneh meni buricak burinong kitu\u201d yang artinya \u201cdandanan kamu kok warna-warni ngejreng begitu?\u201d. Istilah ini semacam \u201ckelap-kelip\u201d atau \u201cgemerlap warna-warni\u201d dalam bahasa Indonesia, meski sebetulnya artinya bukan itu juga sih.<\/p>\n<h2><strong>#8 Cileupeung<\/strong><\/h2>\n<p>Kata \u201ccileupeung\u201d biasanya digunakan sebagai <a href=\"https:\/\/seleb.tempo.co\/read\/336703\/umpatan-sunda-dalam-syair-deden-sambas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">umpatan,<\/a> tapi lebih halus dibandingkan dengan kata umpatan yang lain dalam bahasa Sunda seperti kehed (sialan) atau belegug (bodoh). &#8220;Cileupeung&#8221; itu lebih ke bodoh karena sok tahu, ngeyel, dan nggak mau dikasih tahu.<\/p>\n<p>Contoh: Dibejaan tong balik kalahka balik, dasar cileupeung! (Dikasih tahu jangan pulang malah pulang, dasar bodoh!).<\/p>\n<h2><strong>#9 Tikojot<\/strong><\/h2>\n<p>Misalkan kamu sedang jalan kaki, lalu tiba-tiba terjatuh gara-gara kaki nyangkut atau menginjak tali sepatu sendiri, kira-kira apa bahasa Indonesianya? Nggak ada, kan? Nah, kalau dalam bahasa Sunda, itu namanya \u201ctikojot\u201d. Memang tergolong lucu sih, tapi menjelaskan artinya itu nggak selucu namanya. Seriusan.<\/p>\n<h2><strong>#10 Euy<\/strong><\/h2>\n<p>Kalau kata ini sih sudah ciri khas percakapan orang Sunda. Sebetulnya kata ini bisa berarti \u201cya\u201d. Kalau biasanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/orang-jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang Jawa<\/a> menjawab panggilan dengan kata \u201cdalem\u201d, nah orang Sunda menjawabnya dengan kata \u201ceuy\u201d ini. Tapi ternyata kata ini juga sering disisipkan dalam percakapan sebagai sapaan akrab tanpa arti apapun. Misalnya, \u201crek kamana, euy?\u201d yang artinya \u201cmau ke mana, nih?\u201d<\/p>\n<h2><strong>#11 Merekedeweng<\/strong><\/h2>\n<p>Sebetulnya susah mencari definisi yang pas untuk kata \u201cmerekedeweng\u201d dalam bahasa Sunda ini. Oh ya, huruf \u201ce\u201d pada kata itu dibaca tipis seperti huruf \u201ce\u201d pada kata \u201cpetani\u201d. Kalau boleh saya artikan sendiri, &#8220;merekedeweng&#8221; itu adalah hasil kawin silang antara egois, keras kepala, dan nggak mau dikasih tahu. Pokoknya begitu lah ya, susah saya menjelaskannya. Wqwqwq.<\/p>\n<h2><strong>#12 Kalikiben<\/strong><\/h2>\n<p>Huruf \u201ce\u201d pada kata \u201ckalikiben\u201d dibaca tipis seperti pada kata \u201cmerekedeweng\u201d tadi. Istilah ini sebetulnya nama suatu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/penyakit\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gejala penyakit<\/a>, tapi saya belum nemu padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Pokoknya kalikiben itu gejala nyeri di ulu hati akibat olahraga berat setelah selesai makan. Yaaa semacam gejala maag gitu lah, tapi bukan maag.<\/p>\n<h2><strong>#13 Teh<\/strong><\/h2>\n<p>Kata \u201cteh&#8221; di sini bukan berarti daun teh atau Teteh (kakak perempuan) dalam bahasa Sunda, ya. \u201cTeh\u201d ini biasanya disisipkan dalam percakapan orang Sunda, misalnya \u201citu teh apa?\u201d yang artinya \u201citu apa, sih?\u201d.<\/p>\n<p>Kata ini nggak punya arti apa pun. Fungsinya hanya sebagai penegas dalam sebuah percakapan. Jujur, saya teh bingung kalau ditanya apa arti \u201cteh&#8221; dalam percakapan orang Sunda.<\/p>\n<h2><strong>#14 Mah<\/strong><\/h2>\n<p>Selain kata \u201cteh&#8221; tadi, orang Sunda juga sering menyisipkan kata \u201cmah\u201d dalam percakapan kami. Bahasa Sunda satu ini juga nggak punya arti apa-apa, sih. Fungsinya hanya untuk membandingkan dengan sesuatu. Sebagai contoh, kalimat \u201csi eta mah emang kitu jelemana\u201d (dia memang begitu orangnya) menggambarkan perbandingan antara orang yang bicara dengan orang yang dibicarakan. Semoga kamu nggak bingung, ya.<\/p>\n<h2><strong>#15 Tiseureuleu<\/strong><\/h2>\n<p>Istilah ini menggambarkan kondisi di mana seseorang terpeleset tapi nggak sampai jatuh. Jadi, orang itu masih bisa jaga keseimbangan gitu. Beda halnya kalau sampai orang itu jatuh, itu istilahnya ganti jadi \u201ctisoledat\u201d.<\/p>\n<p>Nah, kata \u201ctiseureuleu\u201d maupun \u201ctisoledat\u201d dalam bahasa Sunda ini belum saya temukan padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Satu-satunya kata yang mendekati ya \u201cterpeleset\u201d tadi, tapi ya nggak sampai di situ saja.<\/p>\n<p>Sebetulnya masih banyak lagi kosakata dalam bahasa Sunda yang memang susah dijelaskan secara gamblang dalam bahasa Indonesia. Tapi ya cukup segitu saja dulu, deh.<\/p>\n<p>Kalau kamu lagi gabut, coba deh tanyakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/kosakata\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kosakata<\/a> atau istilah tadi ke kerabat, teman, atau tetangga yang asli Sunda. Pasti mereka bakalan bengong. Bukan karena nggak tahu artinya, tapi bingung bagaimana cara menjelaskannya ke kamu.<\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/15-istilah-bahasa-sunda-yang-sering-digunakan-sehari-hari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">15 Istilah Bahasa Sunda yang Sering Digunakan Sehari-hari<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Sunda memiliki banyak kosakata yang sulit diartikan ke dalam bahasa Indonesia. Orang Sunda sendiri juga bingung menjelaskannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":243872,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17219,761,1164,6512,13142,11066,6047,13098,13882],"class_list":["post-243868","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-arti","tag-bahasa","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-sunda","tag-istilah","tag-kosakata","tag-orang-sunda","tag-pilihan-redaksi","tag-terjemahan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243868","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=243868"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243868\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/243872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=243868"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=243868"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=243868"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}