{"id":243504,"date":"2023-11-23T11:19:02","date_gmt":"2023-11-23T04:19:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=243504"},"modified":"2023-11-23T11:19:02","modified_gmt":"2023-11-23T04:19:02","slug":"grendeng-macet-konsekuensi-kemajuan-purwokerto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/grendeng-macet-konsekuensi-kemajuan-purwokerto\/","title":{"rendered":"Grendeng, Pusat Kemacetan di Purwokerto, Konsekuensi dari Peningkatan Jumlah Mahasiswa Tanpa Antisipasi"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah-masalah yang ada di Grendeng, adalah masalah yang Purwokerto harus hadapi, sebagai konsekuensi kemajuan<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jumlah mahasiswa di Purwokerto yang semakin bertambah mengubah wajah kota ini secara perlahan. Kontrakan dan kos-kosan mulai berdiri, penjaja makanan mulai mengerubungi, dan usaha-usaha baru mulai muncul dan berdiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu\u00a0 daerah yang dijadikan sebagai &#8220;markas&#8221; para mahasiswa selama mukim di kota satria adalah Purwokerto Utara. Di daerah ini ada dua kampus yang menjadi universitas terbesar di Kabupaten Banyumas. Yaps, Unsoed dan UIN Saizu. Dua kampus tersebut memiliki jumlah mahasiswa yang hampir menyentuh angka 40 persen dari keseluruhan jumlah mahasiswa yang menetap di Purwokerto. Maka, tak heran jika Purwokerto Utara menjadi wilayah yang tak pernah senyap oleh aktivitas para kaum pelajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Purwokerto Utara sendiri, ada sebuah kelurahan yang kini mulai padat oleh berbagai fasilitas dan tempat hiburan yang (saya rasa) ditujukan untuk para pendatang. Yaps, Grendeng. Nama daerah ini sudah tidak asing lagi bagi kaum terpelajar yang melalang buana di kota penghasil mendoan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, pertambahan penduduk, terlebih tanpa antisipasi, selalu punya konsekuensi yang tak bisa dihindari: kemacetan dan konsentrasi penduduk yang tidak proporsional. Dan Grendeng ini contoh terbaik dari konsekuensi tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saat kakak saya menempuh studi di Unsoed, daerah ini masih belum sepadat dan seramai sekarang. Namun, kini kondisinya sungguh berbeda. Jumlah mahasiswa yang semakin meluap, membuat pembangunan di daerah ini semakin masif. Berbagai masalah pun bermunculan seketika. Salah satunya adalah kemacetan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pedagang kaki lima, antara rezeki dan konsekuensi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertumbuhan jumlah mahasiswa tak melulu direspons dengan kos-kosan saja. Tapi, juga pertambahan pedagang kaki lima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau di Jogja, Purwokerto, atau mana saja, yang namanya mahasiswa pasti suka jajan. Pedagang kaki lima jadi jawaban para mahasiswa tersebut. Masalahnya adalah, konsekuensi dari pedagang kaki lima, terlebih yang tak diregulasi, adalah kemacetan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, para pedagang kaki lima yang berjualan di jalan ini sudah dibuatkan lapak khusus untuk menjajakan dagangannya. Namun, terkadang ada beberapa pedagang yang menggunakan kendaraan bermotor dan memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Belum lagi mahasiswa yang sedang jajan tapi tidak menepikan kendaraannya. Ya efeknya jelas kan, macet. Nggak mungkin efeknya dapet TV OLED.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan sempit, ide yang sempit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tadi bilang kalau konsekuensi pertumbuhan penduduk tanpa antisipasi adalah kemacetan kan? Nah, inilah maksud dari \u201ctanpa antisipasi\u201d yang saya maksud.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan jalan kampus Purwokerto itu sempit. Nggak luas, dan nggak proporsional melihat pertumbuhan mahasiswanya yang terus meningkat. Luas jalan yang hanya sanggup dilalui dua mobil, itu pun pake mengalah, tentu saja tak ideal. Kondisi jalannya pun nggak bisa dibilang bagus. Ah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, tidak sampai di situ. Jalan ini juga dilengkapi dengan polisi tidur. Ya, saya paham fungsi dan niatnya. Tapi, kalau jalannya saja sudah bergelombang, apa iya harus tetep ada polisi tidurnya? Kalau harus ada, maka jalannya dibenerin dulu dong. Masa sudah jalan bergelombang, ditambah polisi tidur juga, logikanya di mana?<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada orang bodoh di Purwokerto<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wilayah Grendeng yang menjadi pusat kemacetan selanjutnya adalah Jalan Gunung Slamet. Lokasinya pun tak jauh dari Jalan Kampus. Sumber kemacetan yang sering saya temui adalah para pengendara roda empat yang memarkirkan kendaraannya di bahu jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, mobil parkir semena-mena. Begitu familiar. Saya kira orang bodoh memang rata ada di tiap kota, tak terkecuali Purwokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir seperempat bahu jalan digunakan untuk parkir kendaraan. Jalan yang hanya muat dilalui oleh dua kendaraan tersebut pun akhirnya sering macet. Pengendara dari kedua arah terkadang rela bergantian saat melewati jalan ini tatkala ada mobil yang terparkir di bahu jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu kalian pasti bertanya-tanya, sudah tahu jalan sempit, kok masih nekat parkir. Tapi, pertanyaan tersebut hanya berlaku untuk orang yang punya otak. Sedangkan, pelaku parkir, tidak punya otak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah-masalah yang ada di Grendeng, adalah masalah yang Purwokerto harus hadapi, sebagai konsekuensi kemajuan. Daerah lain, lambat laun, akan menjadi Grendeng, dan sekarang terserah Pemerintah Purwokerto, mau membiarkan, atau bertindak sebagaimana mestinya pemerintah bertindak?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"http:\/\/Purwokerto, Tempat Tinggal Terbaik di Jawa Tengah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwokerto, Tempat Tinggal Terbaik di Jawa Tengah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Konsekuensi tanpa antisipasi, artinya menuju mati.<\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":242181,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[21725,911,34,8526],"class_list":["post-243504","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-grendeng","tag-kemacetan","tag-mahasiswa","tag-purwokerto"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243504","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=243504"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243504\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/242181"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=243504"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=243504"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=243504"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}