{"id":243337,"date":"2024-02-03T15:10:49","date_gmt":"2024-02-03T08:10:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=243337"},"modified":"2024-02-03T15:04:16","modified_gmt":"2024-02-03T08:04:16","slug":"kabupaten-karanganyar-potensinya-besar-tapi-terlalu-bergantung-pada-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-karanganyar-potensinya-besar-tapi-terlalu-bergantung-pada-solo\/","title":{"rendered":"Karanganyar, Kota Satelit Penuh Potensi yang Sayangnya Terlalu Bergantung pada Solo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten Karanganyar itu bisa dibilang daerah yang serba salah. Dibilang terkenal ya nggak, tapi dibilang nggak terkenal, agak gimana gitu. Sebagai contoh, banyak orang tahu Tawangmangu, tapi tak begitu tahu Karanganyar. Ya mirip-mirip bule tahu Bali tapi tak tahu mana Indonesia. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan salah satu daerah di Karanganyar, Colomadu, dianggap bagian dari Solo. Kok bisa? Ya karena nggak \u201cterlihat\u201d Karanganyar gitu. Sebab ya, pembangunan Karanganyar yang nggak merata bikin daerah yang keliatan maju, dianggap bagian dari Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bagaimana bisa, daerah yang mepet Solo, malah pembangunannya nggak maju?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bedah sikit.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota satelit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten Karanganyar adalah salah kota satelit dari Kota Solo. Sebagaimana kota satelit pada umumnya, tentu kotanya agak kalah ketimbang yang ditunjang. Agak kalahnya di mana? Ya dari infrastruktur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya kalau bicara potensi wisata, Karanganyar ini jelas nggak bisa dibilang kalah. Wong punya Tawangmangu, loh. Yang bikin kalah ya infrastruktur. Sebagai contoh ya, orang Karanganyar, kalau mau belanja, ya ke Solo. Cari barang, ya ke Solo. Cari jodoh? Berdoa dulu kepada Tuhan, baru ke Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kurang tahu kenapa pembangunan kota ini nggak semasif Solo. Tapi ya, setau saya, kota satelit memang nggak akan semaju kota yang ditopang sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memangnya ada satelit yang sama besar dengan planetnya?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Posisi yang bikin seret prestasi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar, satelit nggak akan lebih besar dari planetnya. Tapi untuk Kabupaten Karanganyar, masalahnya nggak sesimpel itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Letak geografisnya yang terlalu dekat dengan Solo bikin kota ini kayak punya ketergantungan gitu dengan Solo. Sebagai contoh, ngapain punya pusat perbelanjaan lengkap kalau ke Solo aja bisa? Ngapain perbaiki jalan kalau kalian mainnya ke Solo?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juga, ngapain bikin hiburan kalau kalian cari hiburannya ke Solo?<\/span><\/p>\n<h2><b>Investor yang ogah masuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenci-bencinya kalian pada investor, tetaplah investor inilah yang bikin kemungkinan-kemungkinan jadi terbuka. Dan bagi saya, inilah yang jadi masalah di Karanganyar. Kayaknya banyak investor yang masih ragu menanamkan modalnya di kota ini. Kalau di Tawangmangu, mungkin banyak. Tapi kan kota ini luas, nggak cuman Tawangmangu doang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, banyak orang nggak tahu, kalau ketiadaan investor, kadang, jadi masalah yang amat besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sarana transportasi Kabupaten Karanganyar yang masih minim<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan ngomongin transportasi umum di Karanganyar. Soalnya ya, masih minim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Colomadu,_Karanganyar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Colomadu,<\/a> transportasi umum sudah lumayan ramai. Setidaknya sudah dilewati <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/batik-solo-trans-bukti-kota-solo-nggak-bisa-dipandang-sepele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Batik Solo Trans<\/a>. Lha kalau bagian timur, ya beda cerita. Memang isinya bis bumel dan angkutan, tapi itu kan bukan milik pemerintah. Masak ya hajat warga negara diserahkan pada swasta terus-terusan? Ra mbois.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memangnya apa hubungannya transportasi minim dengan pembangunan Karanganyar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Tanpa transportasi umum yang terintegrasi, artinya jelas pembangunannya tidak maju. Jalanan masih car oriented alias tidak berorientasi pada transportasi umum. Kalau terintegrasi, artinya, ada perencanaan jelas. Perencanaan jelas, menunjukkan kalau kotanya serius dalam membangun infrastruktur. Pokoknya, keberhasilan kota itu dilihat dari transportasinya. Kalau bagus, artinya pengelolaan kotanya berhasil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kan, banyak kota di Indonesia yang transportasinya minim, berarti banyak yang gagal dong?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya memang, baru tahu?<\/span><\/p>\n<h2><b>Karanganyar terasa ruwet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian merasa tulisan saya ruwet, ya memang. Soalnya saya menceritakan hal yang rasanya begitu kusut. Karanganyar memang terasa kusut. Ketergantungan yang ada tak sehat, tapi tak bisa lepas begitu juga dengan hal-hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga, para pemegang amanat rakyat Karanganyar bisa mencarikan solusi dan mengurai kekusutan yang ada di kota ini. Sebab, kota ini punya potensi yang begitu besar. Dan tak baik rasanya jika potensinya terbuang begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/a-city-street-with-a-bridge-over-it-PLFxY2A3W5E\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prabu Panji via Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Santhos Wachjoe P<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-yang-membuat-saya-kurang-nyaman-tinggal-di-karanganyar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Hal yang Membuat Saya Kurang Nyaman Tinggal di Karanganyar<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Duh, mumet.<\/p>\n","protected":false},"author":2380,"featured_media":243394,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[21706,11811,20525,3389,2284,17996],"class_list":["post-243337","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-colomadu","tag-karanganyar","tag-kota-satelit","tag-pembangunan","tag-solo","tag-tawangmangu"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2380"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=243337"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243337\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/243394"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=243337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=243337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=243337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}