{"id":243319,"date":"2023-11-22T12:09:56","date_gmt":"2023-11-22T05:09:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=243319"},"modified":"2023-11-22T12:09:56","modified_gmt":"2023-11-22T05:09:56","slug":"jalan-raya-timur-wanadadi-banjarnegara-rawan-kecelakaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-raya-timur-wanadadi-banjarnegara-rawan-kecelakaan\/","title":{"rendered":"Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara Gelap Gulita di Kala Malam, Membuat Kecelakaan Seperti Menunggu Waktu Saja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minggu kemarin, saya diajak oleh kakak untuk bermain futsal bersama di Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Saya mengiyakan ajakan tersebut lantaran tak ada kesibukan lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebetulan, waktu booking lapangan mulai pukul 21:00 sampai 23:00. Jadi, kami janjian untuk berangkat pukul 20:15 karena lokasi lapangan yang lumayan jauh. Jarak antara rumah kami (<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/abc-swalayan-andalan-warga-purbalingga-yang-nggak-ada-mall\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Purbalingga<\/a> bagian timur) dengan lapangan futsal di Kecamatan Bawang, Banjarnegara berjarak sekitar 16 kilometer dengan waktu tempuh 30 menit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, untuk menuju lokasi tersebut ada 2 akses. Akses yang pertama melewati jalan utama via Binorong. Dan, akses yang kedua, melewati Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih menggunakan jalur utama yang ramai, kami lebih memilih untuk melewati Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara. Saat perjalanan berangkat, tidak ada halangan yang berarti. Namun, kondisinya berbeda saat perjalanan pulang. Jalan yang berada di sebelah utara Bendungan Mrica ini menjelma menjadi jalur gelap gulita yang menyeramkan bagi siapa saja yang melewatinya. Kok bisa?<\/span><\/p>\n<h2><b>Lampu penerangan yang minim di sepanjang Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kontur jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Rakit dan Kecamatan Wanadadi ini memang rata dan relatif bagus. Bahkan, jalan yang menuju ke arah timur dari Perempatan Tapen cenderung indah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa? Karena di sepanjang jalan, kalian akan disuguhkan pemandangan serba hijau dari tanaman yang tumbuh di sekitar bendungan. Selain itu, di sebelah kanan jalan ada tembok besar nan tinggi yang menjadi pembatas <a href=\"https:\/\/visit.banjarnegarakab.go.id\/waduk-mrica-banjarnegara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bendungan Mrica<\/a>. Saya sering menghabiskan sore hari di sepanjang jalan tersebut untuk menikmati senja dan menyeruput secangkir kopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, suasana indah tersebut tidak berlaku saat kalian melewati Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara pada malam hari. Keadaannya sungguh sangat berbeda 180 derajat. Apalagi jika melewati jalan ini di atas pukul 22:00. Sudah pasti kalian bakal jarang berpapasan dengan pengendara lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya melewati jalan ini. Namun, saya hampir nggak pernah melintasi jalanan yang masuk ke wilayah Kecamatan Wanadadi tersebut di malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat perjalan berangkat pada pukul 20:15, saya masih berpapasan dengan motor dan mobil. Kondisi ini berbeda saat perjalanan pulang pada pukul 23:15. Sepanjang jalan, saya hanya berpapasan dengan beberapa kendaraan saja. Di sinilah saya mulai merasakan keganjilan saat membelah jalanan dengan aspal yang mulus ini. Keganjilan tersebut berasal dari penerangan jalan yang minim.<\/span><\/p>\n<h2><b>Minimnya penerangan jalan berpotensi membahayakan pengendara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat melintasi Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara arah barat, kalian akan melewati Perempatan Tapen. Setelah jalan sekitar 850 meter ke timur, tidak ada satu saja permukiman warga. Selain tidak ada pikuk perkampungan, minimnya lampu penerangan menjadi momok yang menakutkan. Pengendara akan menemui keramaian lagi\u00a0 setelah melewati Pusat Kuliner Seakong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nihilnya penerangan menjadi penghambat. Bukan karena takut pada demit, melainkan karena sering ada hewan yang menyeberang. Hal ini terbukti saat seekor kucing berlari dengan kencang dari arah utara ke timur dan mengagetkan kakak saya yang saat itu mengemudi. Kami terpaksa menggunakan lampu jarak jauh supaya jarak pandang selama perjalanan pulang lebih nyaman.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak ada pembatas jalan dan garis jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal lagi yang membuat saya merasa resah saat melintasi Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara adalah tidak adanya pembatas jalan. Sebenarnya, keberadaan pembatas jalan bisa membantu pengendara meski tidak ada lampu penerangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, apa daya? Pembatas jalan juga tidak ada. Bukan hanya itu, garis tengah dan pinggir jalan juga tidak ada. Padahal, garis tengah jalan bisa menjadi pengontrol pengendara agar tidak mengambil jalur lawan arah seenaknya sendiri. Garis pinggir yang bisa menjadi pembatas jalan pun terpantau tidak ada sama sekali, Lur!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga pemerintah setempat segera memberikan tindakan nyata yang bisa memberikan kemudahan akses bagi pengendara yang melintasi Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara. Sebelum semuanya terlambat dan menimbulkan kecelakaan akibat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-kusumanegara-wujud-ruwetnya-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penerangan jalan yang minim<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gombong-jalur-penghubung-banjarnegara-kebumen-yang-berbahaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gombong, Jalur Penghubung Banjarnegara-Kebumen yang Berbahaya<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Raya Timur Wanadadi Banjarnegara di kala malam itu gelap dan menyeramkan. Kecelakaan seperti tinggal menunggu waktu saja untuk terjadi.<\/p>\n","protected":false},"author":1840,"featured_media":243347,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[8107,21691,21690,21689,10004],"class_list":["post-243319","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-banjarnegara","tag-bendungan-mrica","tag-bendungan-mrica-banjarnegara","tag-jalan-raya-timur-wanadadi-banjarnegara","tag-jawa-tengah"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243319","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1840"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=243319"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/243319\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/243347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=243319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=243319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=243319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}