{"id":242077,"date":"2023-11-15T13:49:53","date_gmt":"2023-11-15T06:49:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=242077"},"modified":"2023-11-15T13:49:53","modified_gmt":"2023-11-15T06:49:53","slug":"trotoar-di-indonesia-sangat-tidak-manusiawi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/trotoar-di-indonesia-sangat-tidak-manusiawi\/","title":{"rendered":"Trotoar di Indonesia Sangat Tidak Manusiawi untuk Wisatawan yang Bawa Koper"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi wisatawan berbajet sederhana, tentu menjadi hal biasa ketika menuju hotel atau akan berpindah moda transportasi, harus menyeret koper ke mana-mana. Trotoar, mau tak mau, jadi kunci bagi para wisatawan jenis ini. Jelas dong, karena ya, mau jalan di mana lagi kalau nggak di trotoar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah terbiasa menyeret koper ke mana-mana, baik dalam dan luar negeri. Jadi, saya lumayan familiar dengan kondisi trotoar beberapa negara. Misal Singapura dan Malaysia (khususnya <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Kuala_Lumpur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuala Lumpur<\/a>), adalah negara yang saya anggap desain trotoarnya amat memanusiakan manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trotoar yang dibuat berukuran lebar, sekitar 3 meter dan rata dengan dipasang jalur bagi kaum disabilitas yang akan melintasi trotoar tersebut. Pokoknya desainnya sesuai dengan kebutuhan rakyatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana di Indonesia? Memang saat ini, di kota-kota besar baik trotoarnya mulai membaik, tapi jumlah troroarnya masih minim. Ada beberapa hal yang bikin trotoar di Indonesia tidak ramah wisatawan berkoper.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketinggian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba lihat, trotoar di Indonesia tingginya lumayan, dan ini menyulitkan bagi penggunanya. Misal, lansia dan para penyandang disabilitas. Para wisatawan yang membawa koper pun ikutan kesulitan. Ya memang bisa diangkat, tapi nggak diangkat terus juga kan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir memang trotoar di Indonesia tidak dibuat untuk rakyat, tapi untuk hiasan. Makanya, melewati trotoar di Indonesia tuh nggak nyaman. Wong memang bukan untuk pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sempit, koper susah lewat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar kota-kota besar, agak susah menemukan trotoar yang lebar. Itu pun nggak banyak jumlahnya. Jelas hal ini menyusahkan para wisatawan yang bawa koper. Ya susah lah kalau nggak lebar, mau bawa kopernya gimana coba?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nanti kena pejalan kaki lain, nanti jalannya nggak nyaman. Hash ribet.<\/span><\/p>\n<h2><b>Trotoar yang tidak rata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini nih yang paling ultimate. Sejauh ini, saya nggak nemu trotoar di Indonesia yang rata. Entah dibikin kasar, bermotif, atau malah rusak. Bayangin, bagaimana bawa kopernya kalau trotoarnya aja nggak rata?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara trotoar ini, jujur saja, nggak bisa dianggap remeh. Negara yang baik harusnya berorientasi pada pejalan kaki. Sebab, dalam hierarkinya, justru pejalan kaki yang ada di atas. Maka dari itu, tidak bisa lagi membangun trotoar dengan prinsip asal jadi. Masak ya puas bikin trotoar yang nggak nyaman?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Santhos Wachjoe P<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ormawa-itu-memang-bukan-keluarga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ormawa Itu Memang Bukan Keluarga, Ngapain Ngebet Dibikin kayak Keluarga sih?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya pikir memang trotoar di Indonesia tidak dibuat untuk rakyat, tapi untuk hiasan. <\/p>\n","protected":false},"author":2380,"featured_media":242241,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[31,17587,1458,9830],"class_list":["post-242077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-indonesia","tag-koper","tag-trotoar","tag-wisatawan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/242077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2380"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=242077"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/242077\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/242241"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=242077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=242077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=242077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}