{"id":241747,"date":"2023-11-14T10:01:03","date_gmt":"2023-11-14T03:01:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=241747"},"modified":"2023-11-14T09:59:08","modified_gmt":"2023-11-14T02:59:08","slug":"kenapa-sih-hrd-yang-menyebalkan-semakin-banyak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-hrd-yang-menyebalkan-semakin-banyak\/","title":{"rendered":"Kenapa, sih, HRD yang Menyebalkan Semakin Banyak?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan, posisi HRD di ruang lingkup pekerjaan sedang ramai betul dibicarakan. Dalam beberapa bulan terakhir saja, entah sudah berapa oknum HRD dari berbagai perusahaan yang tingkah laku sekaligus balasan chatnya kepada para kandidat, bikin pusing pekerja dan para pencari kerja\u2014pada akhirnya, ceritanya pun menjadi konsumsi publik di akun menfess dan berujung dihujat berjamaah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita ingat dan runut kembali satu per satu. Mulai dari masalah tentang perpanjangan kontrak dengan syarat yang agak nganu, pro-kontra soal skor BI Checking dan background check media sosial, blacklist kandidat secara serampangan, sampai dengan HRD yang secara blak-blakan menyampaikan kepada kandidat bahwa pencari kerja itu banyak dan bukan hanya dirinya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, mungkin juga para HRD lainnya, hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Ya, gimana, ya. Kalau sampai digeneralisir, karena nila setitik rusak susu sebelanga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, para oknum HRD ini apa nggak punya rasa khawatir sama sekali, ya? Masalah yang mereka bikin, akan berpengaruh terhadap citra diri dan perusahaan. Lebih dari itu, bahkan sejak awal profesionalismenya patut dipertanyakan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Latar belakang pendidikan tak jadi persoalan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian orang berpendapat, bahwa para oknum HRD yang bikin gaduh ini bukan berasal dari<a href=\"https:\/\/campuspedia.id\/news\/mitos-atau-fakta-menjadi-hrd-harus-dari-lulusan-psikologi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> latar belakang pendidikan Psikologi<\/a>. Sehingga, mengabaikan kode etik dan kurang memahami bagaimana cara kerja di ruang lingkup HRD. Bagi saya, tidak juga. Sebab, persoalan tersebut bisa diatasi oleh perusahaan dengan cara mengadakan agenda training secara berkala, aturan baku, atau membuat SOP yang jelas. Sehingga, HRD yang bukan dari latar belakang Psikologi punya kesempatan belajar yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya, begini. Sekadar mengingatkan saja, kawan sejawat. Posisi HRD dengan pekerja lainnya di perusahaan itu setara, lho. Hal yang menjadi pembeda hanya tanggung jawab dan\/atau wewenang. Jadi, nggak perlu merendahkan satu dengan lainnya, termasuk para pelamar kerja. Hal seperti ini yang membikin posisi HRD dihujat selini masa, karena seakan-akan paling punya kuasa dan nirempati terhadap para kandidat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katakanlah sampeyan sedang capek atau mumet. Tapi, tetap saja hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan. Malah, hal tersebut sudah menjadi bagian dari secuil dinamika dalam bekerja. Dari situ, profesionalitas diuji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, setiap emosi itu valid (atau setidaknya butuh validasi). Tapi, bukan dengan cara berbicara sesukanya kepada para kandidat, lho. Baik secara langsung maupun melalui pesan singkat. Itulah kenapa, disadari atau tidak oleh sampeyan, HRD dituntut punya soft skill berupa mawas diri dan komunikasi yang mumpuni. Alasannya jelas, karena salah satu fungsi HRD adalah menjadi jembatan antara karyawan dengan perusahaan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>HRD juga karyawan biasa, tapi ya tahu batas!<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, apakah HRD harus selalu memendam atau menyembunyikan emosi dan amarah? Harus selalu punya citra baik di mata calon karyawan dan para karyawan, gitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya, tentu saja tidak. Toh, HRD juga manusia sekaligus karyawan biasa, yang bisa mumet pada waktunya. Tapi, mbok dipikir sendiri saja. Masa iya, sampeyan mau bertindak sesuka hati di bawah naungan perusahaan yang sudah jelas membayar sampeyan? Kan, ada poin-poin aturan, etika, sekaligus tanggung jawab yang mesti dipenuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba sampeyan bayangkan sebagai pencari kerja yang diproses oleh sosok HRD yang menyebalkan. Sejak awal dijadwalkan interview pukul 9. Sampeyan tiba tepat waktu, bahkan 30 menit sebelum interview dimulai. Tepat pukul 9, HRD mendatangi secara langsung kemudian menyampaikan bahwa interview diundur menjadi pukul 11. Setelah pukul 11, diundur lagi dengan alasan mendekati jam makan siang. Dst, dst.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana? Sudah familiar atau relate?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pembenaran bahwa hal tersebut dilakukan untuk menguji mental calon karyawan. Jika hal tersebut saja sudah membikin calon karyawan kabur dan mangkel, artinya sudah gagal sejak awal. Kocak betul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaiknya para HRD yang masih menerapkan hal tersebut secara serampangan mengkaji ulang. Apakah \u201cujian\u201d benar-benar efektif dan teruji? Apakah atasan sudah mengetahui? Jika salah, malah sampeyan yang kena evaluasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, HRD dan kandidat di posisi sama-sama saling membutuhkan. Jika keliru, akan berpengaruh kepada branding perusahaan dan buang-buang kandidat potensial. Perlu disadari bahwa, saat ini, menemukan pekerjaan dan menemukan kandidat yang tepat untuk menempati suatu posisi, sama sulitnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, setidaknya, jika tidak atau belum bisa jadi seseorang yang menyenangkan calon karyawan, jangan menjadi sosok HRD yang menyebalkan. Gitu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Seto Wicaksono<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kepsuk\/kapan-saatnya-keluar-dari-pekerjaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makin berlipat ganda.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":241950,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[126,8997,15706,21541],"class_list":["post-241747","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-hrd","tag-oknum","tag-problematik","tag-profesionalisme"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/241747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=241747"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/241747\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/241950"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=241747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=241747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=241747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}