{"id":241603,"date":"2023-11-12T14:09:57","date_gmt":"2023-11-12T07:09:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=241603"},"modified":"2026-01-07T15:30:45","modified_gmt":"2026-01-07T08:30:45","slug":"wws-77-kedai-penyelamat-mahasiswa-di-kantin-takor-fisip-ui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wws-77-kedai-penyelamat-mahasiswa-di-kantin-takor-fisip-ui\/","title":{"rendered":"WWS 77, Kedai Penyelamat Mahasiswa di Kantin Takor FISIP UI"},"content":{"rendered":"<p><em>Mahasiswa UI pasti tak asing dengan WWS 77, kedai penyelamat mahasiswa kere hore yang ada di Takor<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini, jika menulis artikel tentang kantin di UI, saya selalu berbicara mengenai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-makanan-di-kantin-budaya-ui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kantin Sastra<\/a> (Kansas). Nah, pada tulisan ini, saya akan membahas tentang kantin lain yang juga berada di kawasan Universitas Indonesia, yakni Takor. Di sana, terdapat sebuah kedai bernama WWS 77 yang boleh dibilang merupakan penyelamat bagi banyak mahasiswa UI. Mengapa saya bisa berkata seperti itu?<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa itu Takor?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi anak-anak UI, Takor adalah sebuah nama yang pasti sudah cukup akrab di telinga. Walaupun mungkin belum berkesempatan untuk menginjakkan kaki di sana, tetapi saya yakin, mayoritas orang yang berkuliah di UI pasti pernah mendengar namanya. Jadi, apa, sih Takor itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara singkat, Takor adalah kependekan dari Taman Korea. Secara lebih jelas, Takor adalah nama dari sebuah kantin yang berlokasi di FISIP Universitas Indonesia, Depok. Berdasarkan informasi yang saya baca, alasan mengapa dinamai Taman Korea adalah karena dahulu tempat ini sempat didanai oleh Yong Ma, sebuah perusahaan dari Korea.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, selain disebut Takor, kantin yang satu ini juga memiliki sebutan lain, yaitu Balsem. Mengapa dibilang begitu? Apakah karena kantin ini panas seperti balsem Geliga? Ya, nggak, dong. Penyebabnya adalah karena lokasinya yang dikelilingi oleh \u201csemak belukar\u201d sehingga orang-orang kerap memanggilnya \u201cbalsem\u201d atau balik semak. Bagi saya, adanya \u201csemak belukar\u201d berupa pepohonan rindang dan unsur kehijau-hijauan membuat suasana kantinnya menjadi semakin asri dan nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya, serupa seperti kebanyakan kantin di UI, Takor juga memiliki keunikan dan filosofi yang menarik dari segi penamaan. Hal inilah yang membuatnya jadi memorable dan langsung bikin orang \u201cngeh\u201d ketika mendengar namanya. Namun, apakah kantin ini hanya menang dari aspek nama yang unik dan lokasi yang adem saja? Bagaimana dengan kualitas makanan yang tersedia di sana?<\/span><\/p>\n<h2><b>WWS 77, murah tetapi tidak murahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, meskipun telah melaksanakan kuliah offline selama sekitar setahun, tetapi saya baru sempat datang ke Takor UI sebanyak satu kali. Kunjungan itu pun baru terjadi beberapa hari yang lalu. Telat banget, ya, saya. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saat itu saya dan seorang teman bermaksud untuk melaksanakan \u201cwisata kuliner\u201d dengan mengunjungi kantin di fakultas lain. Maklum, kami tengah berada di fase bosan dengan makanan yang ada di kantin fakultas kami sendiri. Pilihan kami akhirnya jatuh ke Takor. Begitu sampai di sana, saya sesungguhnya ingin menyantap ayam lodho, sebuah menu yang memang cukup banyak direkomendasikan oleh kawan-kawan saya. Namun sayangnya, kedai yang menjual makanan tersebut sedang out of stock dan membuat saya terpaksa beralih ke hidangan lain. Detik itu juga, entah mengapa pandangan saya seketika tertuju pada sebuah kedai dengan plang nama bertuliskan WWS 77.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Letak WWS 77<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">WWS 77 terletak di area tengah Takor UI, tepatnya di antara tenant yang menjual nasi rempah dan soto lamongan. Gampang, kok, mencarinya. Tak usah khawatir kalian akan kesusahan mencari keberadaan kantin ini. Nah, menu yang dijual di sana adalah rice bowl dengan lauk ayam yang mempunyai beragam varian. Varian yang paling murah adalah chicken rice bowl mayo yang hanya dipatok dengan harga Rp15.000,-.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nominal tersebut tergolong terjangkau dan tidak begitu mencekik dompet. Selain opsi tersebut, ada pula banyak pilihan lain. Di antaranya chicken rice bowl egg, chicken rice bowl cheese, chicken rice bowl sambal matah, dan sebagainya. Semuanya dapat dibeli dengan kisaran harga Rp15.000,- sampai Rp21.000,-. Jadi, sesuaikan saja dengan selera dan tebal dompet kalian. Kalau saya, menu yang saya pesan adalah yang pertama kali saya sebutkan di atas. Maklum, kemarin kemampuan dompet saya hanya sebatas itu. Wkwkwk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, chicken rice bowl mayo ala WWS 77 adalah salah satu definisi dari ungkapan \u201cmurah, tetapi tidak murahan\u201d. Ukuran porsi rice bowl-nya bisa dibilang cukup besar. Nasi yang terdapat di dalamnya pulen dan hangat\u2014hal ini selalu menjadi concern saya setiap kali membeli makanan yang ada nasinya. Chicken mayo-nya pun bertekstur garing di luar, tetapi lembut di dalam. Kombinasinya dengan saus mayo terasa sangat cocok di lidah saya. Maka dari itu, secara keseluruhan, hidangan yang disajikan sangatlah lezat dan pasti akan membuat saya kembali lagi di lain kesempatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penyelamat mahasiswa UI dengan niat mulia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehabis puas mengisi perut, saya terdorong untuk melakukan bercakap-cakap dengan sang penjual. Entah mengapa, keramahan sikapnya membuat saya tertarik melakukan itu. Kebetulan, kala itu sang ibu yang menjaga kedai WWS 77 UI sedang santai dan tidak keberatan untuk saya ajak mengobrol. Melalui obrolan singkat kami, saya jadi tahu beberapa hal mengenainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti fakta bahwa ia telah berjualan sebelum pandemi dan dahulu ia menjual menu masakan Manado, tetapi harus mengalami pengubahan karena kurangnya peminat. Penamaan WWS 77 sendiri memiliki makna \u201cKawan-kawan Sesama 77\u201d, mengacu pada teman-teman sesama anak Kriminologi\u2014kedai tersebut seakan \u201cdiabdikan\u201d oleh para alumni jurusan <a href=\"https:\/\/criminology.fisip.ui.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kriminologi<\/a> Angkatan 1977 untuk para mahasiswa FISIP di era sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, semua itu bukanlah bagian paling menarik dari percakapan kami. Bagian yang paling menggugah hati saya adalah niat sang ibu yang begitu mulia dalam menjajakan dagangannya. Sebab, WWS 77 benar-benar kedai idaman bagi para mahasiswa. Boleh mengambil nasi sepuasnya, mendapatkan minum air putih gratis di setiap pembelian, bebas menambah saus mayones sesuai selera, dan lain-lain. Kata sang ibu, dalam berjualan, ia cenderung tidak pernah memfokuskan diri pada pencarian untung. Ia pun tidak pernah meminta pamrih atas berbagai kemurahan hatinya dalam menjajakan dagangannya. Bagi saya, hal ini sangatlah menarik dan inspiratif.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terkenal di kalangan mahasiswa UI<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, ternyata kebaikan yang dimiliki oleh sang ibu penjaga kedai WWS 77 sudah terkenal di kalangan mahasiswa UI. Beberapa kali saya melihat di Twitter (atau X, terserah kalian menyebutnya apa) cuitan-cuitan yang berisikan kebaikan wanita tersebut. Ada mahasiswa yang bercerita bahwa sang ibu pernah mau bersusah payah memasakkan air hangat untuk ia minum ketika seluruh penjual minuman di Takor telah tutup. Ada yang diberikan snack ringan ketika sang ibu tengah melaksanakan kegiatan Jumat berkah, dan kebaikan-kebaikan lain tang tak cukup saya tulis di sini. Kurang baik apa lagi, coba?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, kepopuleran WWS 77 di kalangan mahasiswa UI sudah mencapai level yang tinggi. Hal ini tak terlepas dari kebaikan sang ibu penjualnya. Selain tentu juga karena kualitas makanan yang memang nikmat. Oleh karena itu, rasanya tak salah jika saya menyebut WWS 77 sebagai kedai penyelamat mahasiswa UI.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mie-ayam-sengketa-kuliner-legendaris-mahasiswa-ui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mie Ayam Sengketa, Kuliner Legendaris yang Wajib Dicoba Mahasiswa Universitas Indonesia<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa UI pasti tak asing dengan WWS 77, kedai penyelamat mahasiswa kere hore yang ada di Takor.<\/p>\n","protected":false},"author":1696,"featured_media":241671,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[21493,21490,21491,196,21492],"class_list":["post-241603","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kansas-ui","tag-kantin-ui","tag-takor","tag-ui","tag-wws-77"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/241603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1696"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=241603"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/241603\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/241671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=241603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=241603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=241603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}