{"id":240526,"date":"2023-11-05T14:28:07","date_gmt":"2023-11-05T07:28:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=240526"},"modified":"2026-01-03T20:56:06","modified_gmt":"2026-01-03T13:56:06","slug":"dear-pemkab-gunungkidul-stop-membangun-embung-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-pemkab-gunungkidul-stop-membangun-embung-lagi\/","title":{"rendered":"Dear Pemkab Gunungkidul, Berhenti Membangun Embung kalau Ujung-ujungnya Mangkrak dan Rusak!"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tujuan utama membangun embung cuma jadi tempat wisata, sebaiknya hentikan saja. Gunungkidul sudah overdosis wisata jadi-jadian. <\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah kekeringan tampaknya (masih) jadi \u201ctradisi\u201d yang masih lestari di tanah kelahiran saya, Gunungkidul. Ya, suka tidak suka, sebagian warga yang tinggal di Bumi Handayani setiap musim kemarau tiba terpaksa harus membeli air bersih dari mobil tangki keliling. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per 5.000 liter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa wilayah yang kena dampak seperti Kapanewon Tepus, Girisubo, Ngawen, Panggang, dan Saptosari, dari tahun ke tahun sudah terlalu akrab dengan situasi ini. Tentu saja, dampak kekeringan bikin kebutuhan sehari-hari warga semakin meningkat. Pasalnya, selain harus membeli air bersih, di saat yang bersamaan, kini para petani Gunungkidul juga harus rela beli pakan ternak dengan harga relatif tinggi karena di ladang sudah nggak ada tanda-tanda kehidupan tanaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, kita tahu, Kabupaten Gunungkidul dan masalah kekeringan adalah satu kesatuan yang teramat sulit dipisahkan. Sebenarnya saya ((sempat)) optimis kalau Gunungkidul bakal terbebas dari bencana kekeringan. Rasa optimis itu muncul ketika para pemangku wilayah beberapa tahun lalu ramai-ramai membangun embung di sejumlah titik rawan kekeringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan nada berbunga-bunga, saat itu pihak terkait yakin betul kalau embung bisa jadi salah satu cara efektif mengatasi masalah kekeringan di Gunungkidul. Rasa bahagia warga pun membuncah mendengar harapan semanis Mixue itu. Yah, bagaimana tidak, sudah puluhan tahun warga Gunungkidul harus berdesak-desakan bawa jeriken di belakang mobil tangki. Barangkali inilah jawaban setelah penantian panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, apakah pembangunan embung yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu benar-benar mampu mengatasi masalah kekeringan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak embung yang mangkrak dan nggak terawat di Gunungkidul<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, saya tahu. Sejatinya, embung berfungsi untuk mendistribusikan dan menjamin ketersediaan air untuk keperluan tanaman atau ternak saat musim kemarau datang. Sederhananya, dengan adanya embung, nantinya ketika musim kemarau tiba, kebutuhan warga akan pasokan air bisa terpenuhi. Secara pengertian, ini tujuan sebenarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kampung saya sendiri juga ada. Jarak antara rumah saya dengan embung cukup dekat, yah sekitar 700 meter saja. Tapi, sejak diresmikan pada 2016 lalu, saya belum benar-benar merasakan manfaat nyata tempat penampungan air hujan ini. Selain melihat orang mancing saat musim hujan dan Gen Z nongkrong setiap sore sambil jajan cimol ketika kemarau datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, saat musim hujan tiba, embung menjelma menjadi tempat pemancingan. Biasanya, warga sekitar akan iuran untuk beli ikan hidup, lalu dipancing secara berjamaah. Tentu saya nggak menyalahkan orang mancing dan arahnya bukan ke situ, tapi lebih mempertanyakan apa sebenarnya esensi embung itu sendiri. Sebab, ketika musim kemarau datang pun, banyak embung di Gunungkidul yang tak terawat, mengering, dan terbengkalai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak contoh embung di Gunungkidul yang kini kondisinya awut-awutan, salah satunya<\/span><a href=\"https:\/\/gunungkidul.sorot.co\/berita-107373-embung-gunung-panggung-yang-mempesona-kini-terbengkalai.htm\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Embung Gunung Panggung<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Embung yang berada di Kalurahan Tambakromo, Kapanewon Ponjong itu dibiarkan mangkrak dan nggak terawat. Banyak ditemukan membran yang bolong-bolong sehingga menyebabkan air menyusut dan kering.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kondisi yang sama juga terjadi di<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Embung Batur Agung<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, Gedangrejo, Karangmojo. Embung yang dibangun pada 2017 lalu itu, terlihat lapisan geomembrane juga bocor akibat dasar yang nggak rata. Akibatnya, saat musim kemarau air sudah habis dang nggak bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Embung Gunung Panggang dan Embung Batur Agung hanya segelintir contoh dari banyaknya proyek penampungan air hujan yang nggak terawat di Gunungkidul. Bukankah ini memberi kesan kalau pemangku wilayah dan pihak-pihak terkait cuma pengin menerima anggaran proyek saja, tapi mager merawatnya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Hentikan proyek embung kalau ujung-ujungnya mangkrak dan rusak!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minimnya sosialisasi dan optimalisasi terkait fungsi embung dari pemangku wilayah kepada warga masyarakat, saya duga menjadi masalah utama banyak orang \u201cmenyalahgunakan\u201d penampungan air hujan ini. Saya yakin ini nggak hanya terjadi di Gunungkidul saja, tetapi juga di daerah lain. Di mana embung tak lebih sekedar jadi area pemancingan dan taman rekreasi bagi para wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memangnya salah kalau embung dijadikan tempat wisata?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak juga, lha wong sejak pembangunannya ((sepertinya)) memang sudah diarahkan pihak terkait jadi objek wisata kok. Jadi, iming-iming proyek pengairan air saat musim kemarau itu cuma gimmick doang dong?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya begitu. Buktinya, pas musim kemarau tiba, sejumlah embung di Gunungkidul nggak berdaya untuk mengatasi kekeringan. Artinya, pemangku wilayah dan pihak-pihak terkait cuma hobi membangun saja, tapi nggak suka merawat. Wajar sih, ya, lha wong anggarannya miliaran rupiah je. Asoy.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Rakyat nggak untung apa-apa<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membangun embung tentu sah-sah saja, apalagi kalau beneran untuk mengairi tanaman saat musim kemarau. Tapi kalau tujuan utamanya cuma jadi tempat wisata, sebaiknya hentikan saja. Gunungkidul sudah overdosis wisata jadi-jadian. Mending kalau dapat meningkatkan taraf ekonomi warga. Lha wong ujung-ujungnya para pemodal juga yang menikmati itu semua. Haish, haish, terlalu klasik, mas-mas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini Pak, Bu, dan semua pengelola embung di seluruh Indonesia, terutama di Gunungkidul. Sebelum membangun embung baru, mending anggarannya buat memperbaiki embung yang mangkrak dan nggak terawat deh, ya. Kasih sosialisasi dan bukti nyata kalau embung benar-benar bisa jadi andalan saat musim kemarau datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa cuma itu solusi terbaik kalau mau mengoptimalkan fungsi embung sebenarnya, Pak, Bu. Yah, kecuali kalau tujuan utamanya memang ((cuma)) mau menerima anggaran doang, tentu itu lain soal. Silakan, silakan, kami rakyat jelata hanya bisa mendoakan semoga usus dan lambung tetap aman. Salam.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Jevi Adhi Nugraha<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungkidul-kabupaten-gersang-yang-dulunya-dasar-laut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengenal Gunungkidul, Kabupaten (yang Dianggap) Gersang yang Ternyata Dulunya Dasar Laut<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau tujuan utama membangun embung cuma jadi tempat wisata, sebaiknya hentikan saja. Gunungkidul sudah overdosis wisata jadi-jadian.<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":240564,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[21325,5281,21326,13304],"class_list":["post-240526","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-embung","tag-gunungkidul","tag-pemkab-gunungkidul","tag-proyek-pemerintah"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/240526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=240526"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/240526\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/240564"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=240526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=240526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=240526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}