{"id":240492,"date":"2023-11-05T15:45:53","date_gmt":"2023-11-05T08:45:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=240492"},"modified":"2023-11-05T15:26:50","modified_gmt":"2023-11-05T08:26:50","slug":"toko-buku-di-banyuwangi-jumlahnya-sedikit-beda-dengan-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/toko-buku-di-banyuwangi-jumlahnya-sedikit-beda-dengan-jogja\/","title":{"rendered":"Mencari Toko Buku di Banyuwangi seperti Jarum di Tumpukan Jerami, Sulit!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toko Buku di Banyuwangi jumlahnya sangat sedikit. Itu mengapa ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merantau-ke-jogja-menyadarkan-saya-tentang-privilese-hidup-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">merantau ke Jogja<\/a>, saya mengalami culture shock. Mengakses buku atau bacaan lain di Jogja begitu mudah. Toko buku dan perpustakaan bertebaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota asal saya, Banyuwangi, akses buku dan bacaan cukup sulit. Bahkan, pernah ada suatu masa, orang Banyuwangi rela keluar kota hanya untuk membeli buku. Jogja menjadi salah satu kota yang menjadi tujuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kurangnya minat baca warga Banyuwangi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga yang punya minat rendah untuk membaca mungkin menjadi salah satu alasan toko buku di Banyuwangi tidak begitu banyak. Siapa sih pebisnis yang mau mendirikan toko di tempat yang tidak ada peminat atau permintaannya. Seperti hukum ekonomi, supply akan mengikuti permintaan alias demand.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya menjadi permasalahan Banyuwangi, tampaknya minat baca yang rendah menjadi permasalahan satu negara atau Indonesia. Melansir dari<\/span><a href=\"http:\/\/detik.com\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">detik.com<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> UNESCO dan kemenkominfo menyatakan, jika jumlah minat baca masyarakat\u00a0 Indonesia hanya berada di angka 0,001 persen. Dengan demikian, bisa disimpulkan dari 1.000 masyarakat Indonesia hanya ada satu orang yang gemar membaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merasa minat baca yang rendah ini menjadi salah satu alasan kenapa toko buku-toko buku legendaris di Indonesia banyak yang gulung tikar. Selain tentu saja, gaya hidup masyarakat yang memang mulai bergeser menjadi serba online, termasuk dalam berbelanja buku.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Toko buku di Banyuwangi yang bisa dihitung jari, begitu juga perpustakaannya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai warga Banyuwangi memiliki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-minat-baca-kita-yang-rendah-tapi-memang-dididik-untuk-tidak-membaca\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">minat baca yang tinggi<\/a> dan punya akses terhadap buku dan bacaan yang baik, bukan tidak mungkin kabupaten ini menjadi kiblat pendidikan negara ini. Kabupaten seluas 30,13 km\u00b2 dengan kepadatan penduduk mencapai 301.9 jiwa\/km\u00b2 tentu punya potensi yang sangat besar. Sayangnya, toko buku dan perpustakaan di kabupaten seluas itu bisa dihitung jari<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mayoritas warga Banyuwangi kalau mencari buku ya cuma di Togamas dan Gramedia. Permasalahannya, dua toko buku ini nggak tersebar di semua kecamatan di Banyuwangi. Kebanyakan toko buku di Banyuwangi malah menjual buku tulis, buku gambar dan peralatan sekolah lainnya. Jarang banget, hampir nggak ada malahan, toko buku yang memang disediakan untuk orang-orang yang ingin menambah referensi bacaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan betapa repotnya warga Banyuwangi yang berada di daerah pelosok seperti Gunung Gumitir. Akses ke toko buku di kabupaten yang sama saja akan memakan waktu dan energi. Alternatif yang paling masuk akal mengakses buku dan bacaan secara online, dengan catatan tidak terkendala sinyal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak ada upaya yang serius dari pemerintah setempat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah sudah berapa kali saya menulis tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pemkab-banyuwangi-sibuk-bikin-festival\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bobroknya pendidikan di Banyuwangi<\/a>. Saya gregetan karena Pemkab Banyuwangi seolah sengaja mengabaikan masalah ini. Padahal bidang pendidikan, yang di dalamnya termasuk kemudahan akses buku dan bacaan, sangat penting dalam membangun manusia. Satu-satunya upaya Pemkab Banyuwangi yang bisa diapresiasi dalam bidang ini hanyalah festival literasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara, kehadiran perpusatakaan kota di Banyuwangi hanya sekadar formalitas saja. Masa iya kabupaten seluas puluhan kilometer persegi itu hanya terdapat segelintir perpustakaan saja. Itu baru dari sisi jumlah bangunannya ya, entah dari sisi koleksi bacaannya. Apakah dipikirkan dan dirawat benar-benar? Saya kok sangsi ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, sebagai orang Banyuwangi saya sangat prihatin akan hal ini. Bagaimana tidak, pemerintah setempat lebih peduli meningkatkan jumlah wisatawan daripada kualitas masyarakatnya. Tidak salah sih, tapi bukankah lebih baik kalau sumber daya manusianya juga dibangun secara serius. Aneh bener dah!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rino Andreanto<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perpustakaan-sekolah-sepi-bukan-karena-minat-baca-rendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perpustakaan Sekolah Sepi Bukan karena Minat Baca Rendah, tetapi (Dibikin) Nggak Bisa ke Perpustakaan!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumlah toko buku di Banyuwangi sangat sedikit, begitu juga dengan perpustakaannya. Padahal, keberadaan buku dan bacaan penting untuk membangun manusia berkualitas. <\/p>\n","protected":false},"author":2370,"featured_media":240593,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[6216,2921,115,6402,1422,21338,8699],"class_list":["post-240492","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-banyuwangi","tag-culture-shock","tag-jogja","tag-perpustakaan","tag-toko-buku","tag-toko-buku-di-banyuwangi","tag-toko-buku-online"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/240492","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2370"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=240492"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/240492\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/240593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=240492"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=240492"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=240492"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}