{"id":240130,"date":"2023-11-04T10:59:03","date_gmt":"2023-11-04T03:59:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=240130"},"modified":"2023-11-04T10:59:03","modified_gmt":"2023-11-04T03:59:03","slug":"tembang-macapat-lagu-bahasa-jawa-memanggil-setan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tembang-macapat-lagu-bahasa-jawa-memanggil-setan\/","title":{"rendered":"Tembang Macapat Adalah Lagu Pemanggil Setan. Sebuah Kesalahan yang Selalu mengiringi Budaya dan Bahasa Jawa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu ketika saya pernah mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa kelas 5 di SD. Temanya ketika itu adalah tembang macapat metrum Dhandhanggula. Nah, ketika saya memberi contoh menembangkan Kidung Sarira Ayu, salah seorang siswi menjerit ketakutan sambil melarang saya meneruskan tembang tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya tanya kenapa sampai histeris dia bilang: &#8220;You will <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susahnya-jadi-mahasiswa-sastra-jawa-nembang-macapat-malah-dikira-manggil-hantu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">invite a ghost by singing that song<\/a>.\u201d Owalah Gusti, salah persepsi macam apa lagi ini. Oh ya, murid-murid di sekolah saya memang sehari-harinya berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, bahkan ketika pelajaran Bahasa Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika itu saya sepenuhnya menyadari, memang banyak salah kaprah yang berkembang perihal tembang macapat. Tapi sebelum saya mengupas tentang salah persepsi tersebut, ada baiknya jika kita ulas tembang macapat ini at a glance.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tembang macapat adalah salah satu jenis tembang dalam budaya Jawa yang terikat pada 3 aturan dasar berupa (1) guru lagu, (2) guru gatra, dan (3) guru wilangan. Tembang macapat ini terdiri dari 11 metrum, yaitu: Maskumambang, Mijil,\u00a0 Kinanthi, Sinom,\u00a0 Asmarandana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pucung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada 3 hal pokok di mana masyarakat salah memahami. Berikut penjelasannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Macapat adalah tembang pemanggil setan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti pengalaman yang saya ceritakan di awal tadi, banyak rekan guru bahasa jawa yang mengalami hal yang sama ketika mengajar. Begitu juga ketika jagongan dengan sesama orang dewasa, banyak yang beranggapan bahwa tembang macapat adalah lagu pemanggil setan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk salah kaprah ini kita patut berterima kasih kepada insan perfilman Indonesia. Cobalah sampeyan ambil 10 saja sample <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/film-horor-indonesia-dan-primbon-menistakan-budaya-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">film horor<\/a> yang bersetting Jawa. Saya yakin 5 di antaranya akan menampilkan orang tua yang berpakaian surjan lurik sedang duduk bersila sambil mengumandangkan tembang macapat. Kemudian tiba-tiba muncul berbagai jenis hantu; pocong, gendruwo, kuntilanak, ilu-ilu, banaspati, jin, setan, peri prayangan, danyangan koruptor, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal selama bertahun-tahun mengkaji tembang macapat di paguyuban Sekolah Budaya Tunggulwulung, belum pernah saya jumpai sebuah lirik yang isinya untuk memanggil setan. Justru mayoritas tembang macapat dari kitab-kitab kuno berisi pitutur luhur, nasehat untuk menjadi pribadi yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba sampeyan baca kitab Wedhatama, Wedhapurwaka, Pustaka Raja Purwa, Wulangreh, dan lain-lain. Semua berisi ajaran hidup yang mulia. Kalau tidak paham bahasanya, sampeyan bisa kok googling terjemahannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perihal salah kaprah ini, saya jadi ingat kutipan dari Juri Lina dalam buku \u201cArchitects of Deception\u201d. &#8220;Ada 3 cara melemahkan dan menjajah suatu negeri yakni, kaburkan sejarahnya, rusaklah hancurkan situs bersejarahnya, dan putuskan hubungan leluhurnya dengan sebutan primitif, kuno dan sesat&#8221;. Fix, ada semacam penggiringan opini agar kita menganggap tembang macapat sebagai produk budaya yang primitif, kuno dan sesat.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Karangan Sunan Anu atau Wali Eta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah kaprah yang kedua adalah adanya anggapan bahwa metrum tertentu dari tembang macapat merupakan anggitan atau karangan seseorang. Saya sering mendengar klaim sepihak seperti <a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2023\/01\/27\/160033878\/mengenal-tembang-dhandhanggula-makna-watak-dan-aturan?page=all#:~:text=Jika%20diartikan%20secara%20keseluruhan%20tembang,yang%20berupa%20simbol%20kabar%20duka.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dhandhanggula<\/a> adalah karya Kanjeng Sunan A, Sinom adalah karangan Wali B, Kinanthi adalah masterpiece dari Sunan C, dan semacamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menganggap salah kaprah ini tidak terlalu signifikan namun cukup menyebalkan. Ini bisa terjadi karena orang gagal memahami konsep dasar tembang macapat. Mereka yang salah kaprah tersebut tidak bisa membedakan antara sebuah judul tembang dengan metrum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Praktisnya begini, misalkan ada yang beranggapan bahwa Kidung Sarira Ayu adalah karangan Kanjeng Sunan Rois Pakne Sekar. Itu masih bisa dipahami. Sebab yang diklaim adalah satu judul tembang, bukan metrum Dhandhanggula secara keseluruhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun akan sangat tidak masuk akal jika dikatakan bahwa metrum Dhandhanggula diciptakan oleh seseorang dari abad ke-17. Sementara itu, telah ada kitab yang berisi tembang Dhandhanggula yang ditulis 3 abad sebelumnya. Salah kaprah ini jika sampai dimuat di buku pelajaran Bahasa Jawa pasti akan semakin kacau.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Mengaitkannya dengan siklus hidup manusia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah kaprah berikutnya adalah mengaitkan tembang macapat dengan siklus hidup manusia. Bahasa Jawa, nasibmu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menganggap tembang macapat merepresentasikan perjalanan hidup manusia Jawa. Mulai dari metrum Maskumambang yang mewakili masa hidup di dalam kandungan, Mijil sebagai representasi kelahiran, kemudian dilanjutkan dengan tembang Sinom sebagai perlambang masa muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelahnya secara berturut-turut adalah Sinom yang melambangkan kehidupan masa muda, Asmaradana sebagai lambang masa pencarian cinta, Gambuh yang disebut sebagai saat ditemukannya jodoh, Dhandhanggula sebagai masa berumah tangga yang serba manis, Durma sebagai masa-masa melakukan darma, Pangkur sebagai masa memungkuri gebyar duniawi, Megatruh sebagai masa kematian, dan Pucung sebagai masa setelah kematian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal itu semua hanya uthak-athik gathuk, sekadar mencocok-cocokkan saja.\u00a0 Tujuannya semula adalah untuk mempermudah kita menghafalkan 11 tembang macapat tersebut. Maka, disusunlah padanan kata dari masing-masing metrum tersebut dengan urutan siklus hidup manusia. Dan agar lebih meyakinkan, banyak yang membumbuinya dengan aneka macam falsafah hidup. Untuk urusan beginian, menyisipkan hal-hal filosofis melalui jarwa dhosok kata, orang Jawa adalah masternya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari saya beri sebuah contoh nyata. Jika mengikuti \u201cfalsafah macapat sama dengan siklus hidup manusia\u201d tadi, maka tembang Asmaradana akan melulu berkisah tentang asmara. Lalu coba njenengan cek kitab Wedha Purwaka pupuh IX. Di situ sampeyan akan menjumpai 28 bait Asmaradana yang menceritakan kematian. Iya, kematian para ksatria dalam perang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pelajaran-berumah-tangga-dari-sinetron-mahabharata-di-antv\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bharatayudha<\/a>, alih-alih kisah cintanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup, berikut saya haturkan sebuah tembang pangkur yang mengajak kawula muda untuk beraktualisasi diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prayogane pra taruna<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedah bhekti marang Ibu Pertiwi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Netepi pakarti luhur<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seneng ngrukti budhaya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepati anggeguru ngupadi elmu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anglampahi margatama<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ra kendhat labuh nagari<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karangan siapakah tembang pangkur tersebut? Rahasia!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rois Pakne Sekar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">11 Istilah Bahasa Jawa yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sampai sekarang, ada saja yang menganggap tembang macapat adalah lagu untuk memanggil setan. Duh, Bahasa Jawa. Nasibmu sungguh malang. <\/p>\n","protected":false},"author":1965,"featured_media":240380,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,2895,21298,21297,21295,21296,6406],"class_list":["post-240130","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-budaya-jawa","tag-horor-jawa","tag-lagu-film-horor","tag-lagu-memanggil-setan","tag-macapat-memanggil-setan","tag-tembang-macapat"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/240130","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1965"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=240130"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/240130\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/240380"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=240130"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=240130"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=240130"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}