{"id":239943,"date":"2023-11-02T11:39:31","date_gmt":"2023-11-02T04:39:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=239943"},"modified":"2023-11-02T10:29:50","modified_gmt":"2023-11-02T03:29:50","slug":"jalan-mergan-lori-malang-bikin-frutasi-tapi-masih-dibutuhkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-mergan-lori-malang-bikin-frutasi-tapi-masih-dibutuhkan\/","title":{"rendered":"Jalan Mergan Lori Malang Macetnya Bikin Frustasi, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Mergan Lori Malang sudah tidak asing bagi mereka yang kerap wara-wiri di jalanan Kota Malang, khususnya di sekitar Sukun. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan ini adalah jalur alternatif terfavorit menuju area Mergan dan Raya Langsep. Jalur alternatif Mergan Lori jauh lebih dekat dan nggak banyak<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menghindari-razia-polisi-yang-aman-dan-manjur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> razia polisi<\/a> dibandingkan jalan utama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, kemacetan di Jalan Mergan Lori sudah meresahkan. Memang sih nggak semacet jalanan di Jakarta, tapi cukup padat untuk standar Kota Malang. Walau berhasil bikin frustasi siapa pun yang melintas, masih banyak pengendara yang tetap memilih melewati Jalan Mergan Lori. Memang warga Malang ini stok kesabarannya sangat banyak ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Salah satu titik macet di Kota Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menilik asal-usulnya, Jalan Mergan Lori adalah bekas jalur kereta lori milik pabrik gula Kebon Agung. Beberapa bagian lori masih bisa terlihat hingga sekarang, tapi sebagian besar lainnya sudah terkubur aspal. Dari sini nama Mergan Lori berasal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan Mergan Lori tidak begitu lebar mengingat dulunya berfungsi sebagai jalur kereta lori. Lebar jalannya hanya sekitar lima meter saja. Bentuknya menyempit menuju perempatan Mergan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak masuk akalnya, jalur sempit itu tidak hanya dilewati sepeda motor. Mobil, bahkan terkadang truk juga melintasi jalan ini. Sebalnya lagi, jalan kecil ini punya dua arah jalur. Jadi harus dempet-dempetan banget ketika berpapasan dengan kendaraan-kendaraan besar. Benar-benar menguji emosi, apalagi kalau hari kalian sedang capek-capeknya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kemacetan yang menguji kesabaran<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari yang menghiasi Jalan Mergan Lori. Puncak kemacetan biasa terjadi di jam berangkat dan pulang kerja. Titik paling macet berada di dekat perempatan yang menghubungkan Jalan Mergan Lori, Jalan Ir. Rais, Jalan Jupri, dan Jalan Raya Langsep.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nggak penting-penting amat, mending nggak usah lewat jalan ini deh. Apalagi kalau hari sedang panas-panasnya. Nggak ada pepohonan yang menaungi, sangat kontras dengan Jalan Raya Langsep yang terbentang di depannya. Rindangnya Jalan Raya Langsep benar-benar bikin iri pengguna Jalan Mergan Lori saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kegiatan-yang-orang-lakukan-saat-nunggu-lampu-merah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">terjebak lampu merah<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, ruas Jalan Mergan Lori tidak terlalu panjang, hanya beberapa kilometer saja. Jalan menyempit yang membuat jalan ini menjadi langganan kemacetan. Lampu hijau di simpang empat juga tidak bisa mengurai kemacetan karena volume kendaraan yang terlampau banyak. Pengendara harus mengantre untuk dapat keluar dari Jalan Mergan Lori yang seperti mimpi buruk itu. Kondisi semakin kacau kalau ada kendaraan besar melintas dari arah sebaliknya. Jalan raya harus dikondisikan sedemikian rupa agar tidak semakin ruwet.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong><b>Jalan Mergan Lori Malang t<\/b>idak ramah pejalan kaki<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kanan-kiri sepanjang Jalan Mergan Lori terdapat pemukiman penduduk. Macetnya Jalan Mergan Lori menjadi permasalahan tersendiri bagi mereka. Jalan yang super sempit itu tidak memungkinkan untuk keberadaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sayang-indonesia-tidak-ramah-pedestrian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">trotoar pejalan kaki<\/a> yang memadai. Sehingga warga setempat harus ekstra berhati-hati untuk sekedar pergi ke warung terdekat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sewaktu\u00a0 kelas 1 SMP, saya pernah punya teman yang tinggal di area Mergan. Suatu ketika setelah kerja kelompok, saya memutuskan untuk pulang jalan kaki. Semua berjalan lancar sampai akhirnya saya tiba di Jalan Mergan Lori. Kendaraan sangat padat. Beberapa kali saya nyaris terserempet dan dihujani bunyi klakson. Berjalan di sini tidak cukup dengan modal berhati-hati, saya juga harus menepi pol-polan kalau mau selamat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu saya kapok jalan kaki di sepanjang Jalan Mergan Lori. Saya nggak berani membayangkan jadi warga sekitar, pasti kerepotan sekali untuk sekadar mobilitas sehari-hari. Apalagi orang tua yang punya anak-anak kecil, pasti was-was sekali dengan kondisi jalan yang super padat di dekat rumah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekalipun bikin frustasi, nyatanya keberadaan Jalan Mergan Lori masih diandalkan warga <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Malang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Malang<\/a>. Entah bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan di jalur ini yang seolah-olah sudah abadi. Apapun caranya, saya harap pemerintah bisa segera menemukan solusi yang tepat untuk mengurai kemacetan di Jalan Mergan Lori.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Erma Kumala Dewi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mati-tua-di-jalanan-kota-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mati Tua di Jalanan Kota Malang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\"> Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Mergan Lori Malang, jalur alternatif yang macetnya bikin frustasi. Kalau benar-benar tidak terpaksa, lebih baik cari jalan lain saja.<\/p>\n","protected":false},"author":1752,"featured_media":239957,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[21256,21255,10740,4489,985],"class_list":["post-239943","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-alternatif","tag-jalan-mergan-lori-malang","tag-kota-malang","tag-macet","tag-malang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/239943","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1752"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=239943"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/239943\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/239957"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=239943"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=239943"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=239943"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}