{"id":2396,"date":"2019-05-28T11:00:45","date_gmt":"2019-05-28T04:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2396"},"modified":"2021-10-05T13:23:04","modified_gmt":"2021-10-05T06:23:04","slug":"memanusiakan-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memanusiakan-manusia\/","title":{"rendered":"Memanusiakan Manusia"},"content":{"rendered":"<p>Pernah dalam suatu obrolan, ada satu orang teman saya yang sedang curhat tentang masalah yang sedang dihadapi. Lalu dengan niat ingin membantu\u2014paling tidak meringankan beban\u2014saya menawarkan untuk menjadi tempat berbagi cerita. Sampai akhirnya temannya yang lain berkata, \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/sudah-tahu-bakal-sakit-hati-malah-masih-kepo-mantan-berulang-kali\/\">Ih, mau tau aja deh\u2014<em>k<\/em><\/a><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/auk\/ulasan\/pojokan\/sudah-tahu-bakal-sakit-hati-malah-masih-kepo-mantan-berulang-kali\/\">epo<\/a>. D<\/em>asar!\u201d<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut masih saya ingat dengan jelas. Bukan karena baper, tapi niat ingin membantu harus lebur hanya karena ucapan seperti itu. Saya cukup yakin, bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Jangan hanya karena kata <em>kepo<\/em> (<em>knowing every particular object<\/em>)\u2014niat tulus dari orang lain untuk membantu menjadi batal.<br \/>\nHal itu menjadi gambaran di masa sekarang, memanusiakan manusia itu perlu. Sebagaimana hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial, kita semua perlu berinteraksi dengan baik. Manusia perlu saling tolong menolong\u2014karena suatu saat di posisi yang tidak diduga kita semua akan butuh pertolongan dari orang lain\u2014yang seringkali tidak terduga dari mana dan siapa yang menolong.<\/p>\n<p>Perlakukan manusia sebagaimana mestinya, berarti juga harus menghargai perasaan yang dimiliki oleh setiap orang. Beberapa kali saya melihat secara langsung, bagaimana pelayan di suatu kafe atau mereka yang bekerja di bagian pelayanan pelanggan, mendapat makian dari <em>customer<\/em> dan dilakukan di muka umum\u2014banyak orang yang melihat.<\/p>\n<p>Jika memang kecewa atau tidak merasa puas dengan pelayanan yang diberi, sebaiknya bicara secara personal atau tidak perlu sampai marah-marah\u2014bahkan memaki di kerumunan. Hal tersebut tentu tidak dibenarkan karena lebih kepada mengintimidasi dan merendahkan harga diri orang lain. Bahkan tidak jarang yang memaki pun akan merasa malu pada akhirnya\u2014setelah tersadar. Tidak perlu merengek sampai seakan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/memahami-tantrum-pada-anak-cvHp\">tantrum seperti anak-anak<\/a> pada masanya.<\/p>\n<p>Awal bekerja, sebagai <em>freshgraduate<\/em> yang masih canggung berada di lingkungan perkantoran, saya pun pernah mengalami hal demikian. Dimarahi di depan <em>customer<\/em>, seakan saya tidak becus dalam meng-<em>handle<\/em> apa yang menjadi tanggung jawab saya oleh senior di lingkungan kerja.<\/p>\n<p>Saya menyadari hal tersebut tidak dibenarkan. Setelahnya saya langsung memberi saran, jika memang salah saya lebih baik diberi tahu secara personal dibanding harus dimarahi di depan orang banyak. Paling tidak, itu lebih memanusiakan saya karena lebih dihargai secara individu.<\/p>\n<p>Begitu pula dalam hal pertemanan. Memanusiakan manusia bisa dilakukan dengan meminimalisir penggunaan ponsel saat berkumpul. Baru-baru ini ada yang beda saat saya mengikuti acara buka puasa bersama dengan teman-teman\u2014bukan karena yang datang selalu orang yang sama atau sedikit. Tapi saat di meja makan\u2014dibanding mengobrol atau bernostalgia\u2014teman-teman yang lain justru lebih memilih fokus ke ponsel masing-masing.<\/p>\n<p>Pikir saya, untuk apa buka bersama jika nilai kebersamaan justru berkurang dengan cara dipaksa menunduk melihat ponsel masiing-masing. Apa bedanya buka puasa di rumah\u2014sambil santap menu berbuka kita semua mengobrol di grup yang memang sudah dibuat sebelumnya?<\/p>\n<p>Hal lain yang biasa ditemui adalah saat seseorang membuang sampah di tempat umum, sedangkan petugas kebersihan tetap melaksanakan tugasnya memungut sekaligus menyapu sampah yang ada. Juga petugas kebersihan di bioskop yang seringkali kewalahan dalam membersihkan sampah yang tidak diangkut kembali oleh para pengunjung.<\/p>\n<p>Secara profesional, memanusiakan para petugas kebersihan pun bisa dilakukan dengan cara membawa kembali sampah yang dibawa ke dalam bioskop dan juga membuang di tempat sampah yang sudah disediakan. Hal itu akan lebih memudahkan sekaligus sangat mungkin dilakukan dalam rangka menjaga kebersihan lingkungan.<\/p>\n<p>Memanusiakan pasangan pun bisa dilakukan, dengan cara memberi kabar dan tidak menghilang begitu saja saat dibutuhkan juga dirindukan\u2014siapapun itu, baik pria maupun wanita. Bagi saya, tidak ada kesibukan secara mutlak sampai dengan tidak bisa memberi kabar sama sekali, yang ada hanya mau atau tidak untuk menyempatkan diri memberi kabar kepada pasangan. Toh, memberi kabar via telepon atau <em>chat<\/em> tidak membutuhkan waktu yang lama.<\/p>\n<p>Semua hal itu, sangat mungkin dilakukan dalam rangka memanusiakan manusia\u2014tujuannya adalah menghargai keberadaan satu sama lain agar dapat lebih memahami. Toh, nantinya yang kita petik adalah hasil dari apa yang ditanam. Paling tidak lakukan hal tersebut atas dasar untuk diri sendiri, sebab kita tidak tahu kapan kita perlu diperlakukan seperti manusia sebagaimana mestinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memanusiakan manusia itu perlu. Sebagaimana hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial\u2014perlu berinteraksi dengan baik dan perlu saling tolong menolong.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":2403,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[619,401,199,628],"class_list":["post-2396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-hubungan-sosial","tag-kritik-sosial","tag-manusia","tag-memanusiakan-manusia"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2396"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2396\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}