{"id":239592,"date":"2023-10-31T12:18:13","date_gmt":"2023-10-31T05:18:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=239592"},"modified":"2023-11-04T08:39:28","modified_gmt":"2023-11-04T01:39:28","slug":"istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/","title":{"rendered":"11 Istilah Bahasa Jawa yang Susah Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Denny Caknan, Guyon Waton, dan Ndarboy Gank berhasil membuat lagu-lagu bahasa Jawa bangkit dari mati suri. Apalagi setelah lagu \u201cKartoyono Medot Janji\u201d yang dinyanyikan Denny Caknan meledak 2019. Jauh sebelum itu, <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Didi_Kempot\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">God Father of Broken Heart Didi Kempot<\/a> sudah terlebih dahulu mempopulerkan bahasa Jawa melalui tembang-tembang ambyarnya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering wara-wiri di platform musik, banyak orang kemudian penasaran dengan bahasa Jawa. Sayangnya, tidak semua istilah dalam bahasa Jawa bisa dengan mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berikut 11 istilah bahasa Jawa yang susah ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#1 Gemati<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini mungkin sering kalian dengar di lirik lagu bahasa Jawa. Sekarang, coba saya tanya, apa arti kata gemati? Kalau kalian mengira gemati adalah perhatian, jawaban kalian kurang tepat. Gemati bermakna lebih besar dari itu.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah gemati digunakan ketika kalian memberikan perlindungan, kasih sayang dan perhatian sepenuhnya khusus untuk seseorang. Hanya memberi dan tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia. Eh, kok saya malah nyanyi!<\/span><\/p>\n<h2><strong>#2 Siwilen<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian pernah tidak, saat potong kuku, kulit di bagian tepi kuku sedikit terkelupas? Jika kulit tersebut ditarik, sakitnya bikin meringis. Dalam bahasa jawa, kulit bagian tepi kuku yang terkelupas (tapi belum lepas, hanya mencuat sedikit) itu disebut siwilen. Sejauh ini, belum ada kata dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/komen\/versus\/kata-paling-indah-dalam-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Indonesia<\/a> yang bisa menjadi padanan dari kata siwilen. Kabari saya kalau kalian ada yang menemukan padanannya ya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>#3 Kewer-kewer<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kewer-kewer biasanya digunakan saat ada seseorang yang membawa kain atau sejenisnya ke sana kemari. Membawanya bukan dalam konteks seperti membawa baki ya. Kewer-kewer adalah membawa sesuatu (biasanya kain atau baju) dengan kondisi tangan santai dan lurus ke bawah, sehingga ujung kainnya melambai-lambai dan nyaris atau sampai menyentuh lantai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sampai pusing menemukan padanan kata kewer-kewer. Semoga cukup penjelasan di atas cukup jelas ya. Kalau mau digunakan dalam konteks kalimat yang tepat, kurang lebih akan seperti ini \u201cKlambi kok dikewer-kewer ngunu, to?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><i><\/i><strong>#4 Ngempit<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata dalam bahasa Jawa selanjutnya yang susah diartikan dalam bahasa Indonesia adalah ngempit atau dikempit. Contoh kalimatnya begini, \u201cYu Sum ngempit dompet lungo menyang pasar.\u201d Kalimat tersebut tentu kurang tepat kalau diterjemahkan menjadi Yu Sum membawa dompet pergi ke pasar. Betul sih sama-sama membawa, tapi caranya kan berbeda. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ngempit itu bukan sembarang membawa. Suatu tindakan bisa dikatakan ngempit ketika kalian menghimpitkan sesuatu. Kalau dalam konteks kalimat tadi, maksudnya adalah Yu Sum meletakkan dompetnya di ketiak, lalu mengempitnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#5 Srakat<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Dadi bocah ojo srakat,\u201d pesan simbok pada anaknya yang berumur tujuh tahun. Lantas, apakah srakat berarti nakal dalam bahasa Indonesia? Tidak. Srakat itu bukan nakal. Bukan pula liar ataupun rusuh. Srakat adalah ketika seseorang seneng panjatan sana sini. Ketemu sofa dipanjat, ketemu lemari, pagar, dan pohon pun dipanjat.<\/span><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-bahasa-jawa-yang-susah-diartikan-ke-bahasa-indonesia\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca halaman selanjutnya: #6 Ndlosor<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"cls_pro-ss\" data-src=\"Voucher\" data-url=\"https:\/\/shopee.co.id\/m\/cashback-voucher?utm_campaign=-&#038;utm_content=92672-hxw0dKc3NJSXyy69HbAK1YTxRFq0k8UnjgayGx361biD1hac-https%3A%2F%2Fmojok.co-4e0cb6fb5fb446d1c92ede2ed8780188-&#038;utm_medium=affiliates&#038;utm_source=an_11146330000&#038;utm_term=a3z376vkjj1q\"><\/div>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>#6 Ndlosor<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ndlosor adalah salah satu kata dalam bahasa Jawa untuk menjelaskan jatuh dengan posisi tertentu. Jatuh yang bagaimana spesifiknya? Ndlosor untuk menggambarkan jatuh secara tiba-tiba ke depan hingga bagian tubuh terseret ke depan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>#7 Pera<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pera digunakan untuk menggambarkan kondisi nasi yang dimasak dengan menggunakan air yang terlalu sedikit. Alhasil, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tingkat-kematangan-nasi-yang-dipermasalahkan-dan-menyesuaikan-selera\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasinya tidak pulen<\/a> dan teksturnya masih seperti beras ketika dimakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>#8 Ayang-ayangen<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayang-ayangen tidak ada kaitannya sama sekali dengan kata sayang atau kata dari dunia percintaan lainnya. Ayang-ayangen adalah perasaan tidak nyaman di bagian kemaluan karena tidak bisa kencing dengan lancar. Biasanya, ayang-ayangen ini terjadi pada mereka yang suka menahan kencing.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>#9 Dlaweran<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata dlaweran dalam bahasa Jawa biasanya disandingkan dengan lambe atau mulut menjadi lambene dlaweran. Konteks penggunaannya yaitu untuk menggambarkan seseorang yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ya-tuhan-mengapa-ghibah-itu-menyenangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">suka gibahin<\/a> orang lain.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#10 Keslomot<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keslomot adalah kondisi saat salah satu bagian tubuh terkena api. Hanya terkena api ya, tidak sampai terbakar. Umumnya bagian tubuh yang sering keslomot adalah ujung-ujung jari. Saat keslomot, kalian memang terkena api, tapi hanya sepersekian detik. Bunga api tidak sempat membara karena kalian keburu menarik ujung jarimu.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#11 Mobat-mabit<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mobat-mabit adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan seseorang yang sangat sibuk. Pokoknya mobilitasnya sangat tinggi, kesana-kemari mengurus hal-hal duniawi. Ora kober ngentut pokoke!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 11 istilah bahasa Jawa yang susah diartikan dalam bahasa Indonesia. Tapi tenang saja, yang susah hanya bahasanya saja, kok. Kalau orang jawanya sudah pasti spek mantu idaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Kenia Intan<\/p>\n<div class=\"cls_pro-ss\" data-src=\"Voucher\" data-url=\"https:\/\/shopee.co.id\/m\/cashback-voucher?utm_campaign=-&#038;utm_content=92672-hxw0dKc3NJSXyy69HbAK1YTxRFq0k8UnjgayGx361biD1hac-https%3A%2F%2Fmojok.co-4e0cb6fb5fb446d1c92ede2ed8780188-&#038;utm_medium=affiliates&#038;utm_source=an_11146330000&#038;utm_term=a3z376vkjj1q\"><\/div>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-dasar-bahasa-jawa-yang-solo-banget\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Panduan Dasar Bahasa Jawa yang Solo Banget<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa istilah dalam bahasa Jawa sulit diartikan ke bahasa Indonesia. Perlu konteks yang rinci agar penerjemahannya tepat. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":239605,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1164,763,17456,21214,13098,21213],"class_list":["post-239592","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-jawa","tag-highlight","tag-lagu-bahasa-jawa","tag-pilihan-redaksi","tag-translate"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/239592","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=239592"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/239592\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/239605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=239592"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=239592"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=239592"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}