{"id":239332,"date":"2023-10-30T10:45:49","date_gmt":"2023-10-30T03:45:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=239332"},"modified":"2023-10-30T10:52:05","modified_gmt":"2023-10-30T03:52:05","slug":"bunga-tabebuya-magelang-indah-tapi-merepotkan-penyapu-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bunga-tabebuya-magelang-indah-tapi-merepotkan-penyapu-jalan\/","title":{"rendered":"Bunga Tabebuya di Magelang Memang Indah, tapi Merepotkan Penyapu Jalan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bunga tabebuya yang bermekaran di beberapa jalan di Magelang viral di media sosial baru-baru ini. Banyak orang membicarakan suasana jalannya yang mirip dengan jalanan di Jepang. Bunga tabebuya yang berwarna merah muda dan putih itu memang seperti bunga sakura yang tengah bermekaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bunga tabebuya ditanam ketika <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sigit_Widyonindito#:~:text=Ir.%20H.%20Sigit%20Widyonindito%2C,Magelang%20dan%20bendahara%20KONI%20Magelang.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Walikota Magelang Sigit Widyonindito<\/a> menjabat dalam dua periode kepemimpinannya (2011-2021). <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Penanamannya untuk mewujudkan program Magelang Kota Sejuta Bunga. Selain indah, jenis tanaman ini dipilih karena membuat jalanan menjadi lebih rindang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanaman asal Brasil itu memang berhasil mempercantik beberapa ruas jalan di Magelang. Kalian yang penasaran dan ingin menyaksikan keindahannya bisa berkunjung ke depan Kantor Pemerintah Kota Magelang di Jalan Sarwo Edi Wibowo. Bunga tabebuya juga bermekaran di deretan kios PJKA Kebonpolo di Jalan Ahmad Yani dan Jalan Sutoyo, Kejuron.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keindahannya menarik banyak orang untuk<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-dan-tips-memotret-panorama-dengan-kamera-mirrorless\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> berfoto<\/a>. Apalagi, tidak setiap hari bunga tabebuya mekar. Bunga ini hanya mekar setahun dua kali, yakni di bulan Maret dan Oktober.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Bunga tabebuya bermekaran, penyapu jalan kerepotan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, dibalik keindahan bunga tabebuya yang bermekaran, ada penyapu jalan yang harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras dari biasanya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bunga ini biasanya mekar di tengah cuaca panas dan berangin seperti saat ini. Angin yang cukup kencang menggugurkan bunga hingga bertebaran ke mana-mana, sulit untuk dibersihkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tidak segera dibersihkan, bunga-bunga yang yang berguguran tadi menjadi sampah yang mengganggu pemandangan. Lebih buruk lagi, bisa membahayakan pejalan kaki dan pengendara. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, bunga tabebuya\u00a0 bertekstur lembut. Tekstur itu memudahkan kelopak-kelopaknya menempel di alas kaki maupun roda kendaraan. Alas kaki dan roda kendaraan pun menjadi licin dan berisiko menimbulkan kecelakaan. Bunga yang terlindas kendaraan biasanya juga akan menempel di jalan. Akibatnya, jalanan juga menjadi licin dan sulit dibersihkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, siapa pun yang melihat bunga tabebuya, jangan hanya terpukau akan keindahannya. Kalian juga harus berterima kasih kepada para penyapu jalan yang bersedia mencurahkan lebih banyak energi untuk membersihkannya. Syukur-syukur, kalian bisa mengungkapkan terima kasih secara langsung kepada para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-pikiran-orang-yang-suka-buang-sampah-sembarangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penyapu jalan<\/a> dalam bentuk ucapan maupun hal lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-saatnya-magelang-menjadi-daerah-istimewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sudah Saatnya Magelang Menjadi Daerah Istimewa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bunga Tabebuya yang bermekaran di Magelang memang indah. Namun, dibalik keindahan itu, ada para penyapu jalan yang harus bekerja lebih keras. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":239418,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3281,21186,1213,21187,8599,21188],"class_list":["post-239332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bunga-sakura","tag-bunga-tabebuya","tag-jepang","tag-kota-sejuta-bunga","tag-magelang","tag-penyapu-jalan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/239332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=239332"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/239332\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/239418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=239332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=239332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=239332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}