{"id":23895,"date":"2019-12-31T14:52:42","date_gmt":"2019-12-31T07:52:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=23895"},"modified":"2022-03-09T14:33:28","modified_gmt":"2022-03-09T07:33:28","slug":"saya-usul-pajang-kinder-joy-di-tempat-kapur-barus-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-usul-pajang-kinder-joy-di-tempat-kapur-barus-aja\/","title":{"rendered":"Halo IndoAlfa, Sebagai Ibu Rumah Tangga Saya Usul Pajang Kinder Joy di Tempat Kapur Barus Aja"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai seorang Muslim, saya tentu familiar dan mengimani istilah &#8220;<em>Jihad&#8221;<\/em>, berjuang di jalan Allah. Hanya saja, kalau kebanyakan muslim lainnya memaknai <em>jihad<\/em> dengan berperang di negara muslim yang tengah berkonflik, atau membawa bom di badannya untuk membunuh kaum kafir, saya percaya bahwa jihad bisa ditunaikan dengan hal-hal kecil yang kita alami sehari-hari.<\/p>\n<p>Mengantri di kasir Indomaret yang majang Kinder Joy contohnya. Sudah tidak bisa terhitung berapa kali saya memekikkan takbir \u201c<em>Allaaaaahuakbaaar<\/em>!!\u201d ketika anak saya sudah mulai merengek, menangis, lalu guling-guling di depan kasir, seraya sekencang mungkin <em>ngempit<\/em> Kinder Joy yang sedang berusaha saya kembalikan ke tempat asalnya.<\/p>\n<p>Isu teknik <em>marketing<\/em> dengan memanfaatkan rengekan anak ini sudah seharusnya masuk kedalam agenda kampanye <em>feminism<\/em> dan <em>\u201c<a href=\"https:\/\/www.topresume.com\/career-advice\/why-women-need-to-start-supporting-other-women-at-work\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Women supports women<\/a>\u201d<\/em>. Bagaimana tidak, <em>ngopeni<\/em> anak anteng saja sudah cukup repot. Apalagi <em>ngopeni<\/em> anak yang nangis <em>kejer<\/em> guling-guling di lantai Indomaret, belum mau keluar kalau sajennya belum keturutan. Hal yang tadinya kecil begini akhirnya bisa membuat <em>mood<\/em> kita yang sudah susah payah dijaga sejak bangun jam 3 pagi langsung <em>ambyar<\/em>. Rasanya jadi ingin <em>misuh-misuh<\/em> seharian. Waktu yang seharusnya bisa kita pakai untuk mengerjakan hal lain pun harus terbuang untuk <em>ngeneng-nengke<\/em> anak.<\/p>\n<p>Belum lagi harus menghadapi pandangan-pandangan nyinyir Mbak kasir dan konsumen lain yang walaupun diam tapi matanya seakan berkata \u201c<em>Mbok wis<\/em> tinggal dibelikan saja biar diam. <em>Wong<\/em> cuma 12 ribu ini\u2026\u201d. <em>Ha mung <\/em>12 ribu tapi setiap hari harus masuk Indoalfa, <em>je<\/em>\u2026 Kalau dikalikan sebulan <em>yo<\/em> lumayan Mbak, bisa buat nyepuh kalung emas <em>sing ono nang gulumu, sing saiki wis malih dadi biru. Luntur koyo tresnamu<\/em>. *nyanyi*<\/p>\n<p>Lagipula ya Mbak, tidak semua kepinginan anak itu harus dituruti. <em>Ndak kulino<\/em>. Mending kalau sampai gede nanti yang diminta sehari-hari cuma Kinder Joy. Lha besok-besok kalau tiap iPhone ngeluarin model baru dia minta dibelikan, baligh dikit <em>outfit<\/em>-nya harus <em>hypebeast<\/em>, ulang tahun ke-17 minta Lamborghini, bisa jadi dia baru lulus SMA ginjal saya dan bapaknya sudah habis dijual-jual, Mbak.<\/p>\n<p>Di tengah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-tidak-mereka-katakan-tentang-kapitalisme\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">gempuran masif kapitalisme<\/a> seperti sekarang ini, membekali anak keimanan untuk bisa menahan diri dari keinginan-keinginan yang bersifat materiil adalah wajib. Jika tidak, mereka akan terjebak dalam gaya hidup konsumerisme. Efek buruk konsumerisme ini bukan hanya berimbas pada kondisi keuangan mereka, seperti tidak bisa menabung atau terlilit hutang konsumtif, tapi juga berimbas pada <em>sustainability<\/em>. Kita terbiasa membeli barang hanya sekedar memenuhi nafsu, lalu teronggok begitu saja tidak terpakai, untuk kemudian membeli sesuatu untuk memenuhi hawa nafsu yang baru lagi.<\/p>\n<p>Bumi ini <em>yo<\/em> Mbak, isinya sudah habis dikeruk untuk memproduksi permintaan hawa nafsu kita, lalu kini permukaannya penuh dengan onggokan masa lalu-mu dengan si dia. Yang tak bisa diuraikan kembali ke dalam hati. Eh, ke dalam tanah.<\/p>\n<p>Kalau mau dijabarkan lebih jauh, kebiasaan membeli dan menimbun barang ini juga bisa berpengaruh pada <em>stress-level<\/em> mereka. Tapi bukankah disini sebetulnya kita hanya ingin membahas Kinder Joy?<\/p>\n<p>Kinder Joy adalah salah satu gambaran sempurna pemaparan kapitalisme sedari dini. Harganya 12 ribu, isinya cuma cokelat segede upil <span style=\"text-decoration: line-through;\">genderuwo<\/span> dan mainan yang kita nggak tau bakal dapat apa. Pun palingan hanya bertahan dimainkan sejam dua jam karena anaknya frustasi nggak bisa masangnya. Coba kalau 12 ribu itu saya yang belanjakan. Bisa dapat 1 papan tempe, 10 buah tahu kulit, dan seikat bayam yang bisa disayur bening untuk warga se-kelurahan. Kalau ngrebus kuahnya se-sumur.<\/p>\n<p>Jadi ya Mbak Kasir <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-terlewat-dari-rivalitas-alfamart-dan-indomaret\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Indoalfa<\/a>, sebelum kena <em>pisuhan<\/em> ibu-ibu yang biasanya mujarab, lebih baik kita berkolaborasi dengan cara memajang kembali Kinder Joy di tempat yang sewajarnya. Atau kalau bisa jauh dari jangkauan anak-anak. Di sebelah rak obat nyamuk dan kapur barus, misalnya.<\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><strong>\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-mantra-kunto-aji-lagu-korea-ini-bisa-menyemangati-kamu-di-tahun-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Awas, Bahaya Kinder Joy!<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/rakasiwi-ratih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rakasiwi Ratih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum kena pisuhan ibu-ibu yang biasanya mujarab, pasang Kinder Joy di tempat jauh dari jangkauan anak-anak. Di sebelah rak obat nyamuk dan kapur barus, misalnya.<\/p>\n","protected":false},"author":522,"featured_media":24090,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[5043,4133,1224,785,5042],"class_list":["post-23895","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-alfamaret","tag-ibu-rumah-tangga","tag-indomaret","tag-kapitalisme","tag-konder-joy"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23895","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/522"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23895"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23895\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}