{"id":238906,"date":"2023-10-27T09:40:06","date_gmt":"2023-10-27T02:40:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=238906"},"modified":"2023-10-27T09:07:57","modified_gmt":"2023-10-27T02:07:57","slug":"apoteker-dituntut-sat-set-dan-multitalenta-tapi-minim-apresiasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apoteker-dituntut-sat-set-dan-multitalenta-tapi-minim-apresiasi\/","title":{"rendered":"Apoteker: Dituntut Sat-Set dan Multitalenta, tapi Minim Apresiasi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apoteker merupakan salah satu dari tenaga kesehatan yang ada. Kami, para apoteker, sama dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/dokter\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dokter<\/a> dan perawat. Walaupun sama-sama tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan pada masyarakat atau langsung kepada pasien, belakangan ini saya menyadari kalau profesi yang saya geluti ini masih minim apresiasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua orang tahu kalau mendiagnosis penyakit adalah tugasnya dokter. Kemudian yang membantu dan merawat cedera pasien adalah tugas dari perawat. Lantas gimana dengan apoteker? Nah, masyarakat kita kebanyakan tahunya profesi ini hanya bertugas memberikan obat. Sebuah kegiatan yang dianggap bisa dilakukan semua orang tanpa harus memiliki kompetensi tertentu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara inilah yang akhirnya membuat profesi apoteker kurang mendapat apresiasi dari masyarakat. Kami hanya dilihat sebagai penjual obat dan menyerahkan obat, tak lebih dan tak kurang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran kerap mendapat label seperti itu, beberapa rekan sejawat, bahkan termasuk saya, sempat mengamini hal tersebut. Karena dianggap seperti itu, kami hanya melakukan apa yang dilabeli masyarakat pada kami. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya urusan minim apresiasi ini wajar. Kita nggak bisa memaksakan orang lain untuk memperlakukan kita sebagaimana yang kita inginkan. Lagi pula, minimnya apresiasi pada apoteker biasanya terjadi karena memang interaksi antara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/pasien\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasien<\/a> dan apoteker sendiri sangat minim. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh apoteker, lho. Kompetensi kami cukup mumpuni untuk mengoptimalkan terapi bagi para pasien<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Edukasi dan konseling obat itu penting<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan insulin mungkin menjadi salah satu contoh yang paling tepat dalam hal ini. Insulin adalah salah satu golongan obat yang digunakan secara khusus untuk terapi pasien<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/diabetes\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> diabetes melitus.<\/a> Pasien harus tahu cara menyimpannya, menggunakannya, kapan mengganti jarumnya, bagaimana cara menyimpannya, lokasi suntik insulin yang tepat, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hal tadi jika dilemparkan atau diserahkan kepada tenaga kesehatan lainnya mungkin beberapa ada yang bisa membantu pasien. Tapi, bukan tak mungkin ada juga yang tidak bisa menjelaskan hal-hal tersebut. Bukannya saya meremehkan profesi lainnya ya, tapi memang bukan ranah mereka untuk mengetahui seluk-beluk obat-obatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dokter memang mengetahui jenis obat-obatan seperti apoteker. Mereka memahami kandungan, indikasi, dan nama-nama obat yang sejenis. Akan tetapi jika edukasi obat diserahkan pada dokter, tentu saja pelayanan kesehatan menjadi kurang optimal dan kondusif. Makanya tenaga kesehatan perlu berbagi peran untuk mengoptimalkan terapi pasien.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apoteker memang sudah mendapatkan materi kuliah yang cukup banyak dan melalui proses panjang, makanya kami yakin mengenai apa yang kami sampaikan pada pasien. Edukasi dan konseling pada obat menjadi penting dan salah satu pilar utama kesembuhan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi yang terjadi kebanyakan pasien sudah kelelahan menghabiskan waktu untuk diagnosis dan kontrol ke dokter. Saat menebus obat pun pasien biasanya hanya fokus pada mengambil obat dan pulang. Padahal tiap obat memiliki aturan sendiri, contohnya golongan obat pemakaian khusus tadi. Seperti cara penggunaan <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/kesehatan\/insulin\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">insulin<\/a> yang baik dan benar, cara penyimpanan, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Cekatan dan cepat jadi tuntutan utama<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kemajuan teknologi di mana kita tinggal scroll layar hape dan klik tombol ini itu hingga terbentuk pola pikir semua hal bisa dipesan dan instan, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/obat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">obat-obatan<\/a> nggak demikian. Golongan obat tertentu nggak bisa dipesan secara daring.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, seorang apoteker yang bertugas juga dituntut untuk sat-set saat menyiapkan obat lantaran banyak orang yang menganggap mengambil obat saja lama. Padahal nyatanya, proses menebus obat harus melalui berbagai fase. Mulai dari skrining resep, konfirmasi pada pasien untuk ditebus atau tidak, mengecek stok obat, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">memberikan etiket pada tiap obat, mencatat kartu stok, sampai akhirnya obat bisa diserahkan pada pasien. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum obat sampai di tangan pasien, ada juga pelayanan informasi obat. Kami harus memberi tahu aturan minum obat dan cara minum obat (dikunyah atau ditelan, dilarutkan, atau bahkan ditempel). <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Semua proses itu perlu waktu banyak wahai masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Apoteker juga dituntut harus tahu banyak hal<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"color: #333333; font-size: 15px;\">Selain minim apresiasi, apoteker juga harus tahu segalanya tentang obat. Hal ini wajar karena memang sudah tugas kami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rekan sejawat saya kerap bertemu pasien yang mau membeli obat tapi hanya menunjukkan kemasan yang tidak utuh. Tidak ada nama obatnya, zat aktifnya, bahkan mereknya. Dan yang bikin bingung lagi, pasien sendiri tidak tahu nama obatnya. Kalau sudah begini, apoteker seolah dituntut menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/dukun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dukun<\/a> yang harus punya indra keenam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai apoteker, kami tentu siap dan rela meluangkan waktu kami untuk memberikan pelayanan terbaik bagi kesembuhan pasien. Jadi, kami sangat berharap masyarakat juga bisa bekerja sama dengan baik. Berikan kami kesempatan untuk menjalani kompetensi kami sebagai ahli obat dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan kami<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nabial Chiekal Gibran<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tipe-konsumen-apotek-yang-menghiasi-hidup-apoteker\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Tipe Konsumen Apotek yang Menghiasi Hidup Apoteker<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seorang apoteker dituntut sat-set dan tahu banyak hal. Sayangnya, profesi ini kurang mendapat apresiasi di masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"author":2181,"featured_media":239037,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[9245,5094,426,9191],"class_list":["post-238906","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-apoteker","tag-apresiasi","tag-obat","tag-pasien"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/238906","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2181"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=238906"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/238906\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/239037"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=238906"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=238906"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=238906"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}