{"id":238567,"date":"2023-10-25T10:10:37","date_gmt":"2023-10-25T03:10:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=238567"},"modified":"2025-11-24T15:29:45","modified_gmt":"2025-11-24T08:29:45","slug":"sate-kere-kuliner-solo-yang-sekarang-jadi-primadona","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sate-kere-kuliner-solo-yang-sekarang-jadi-primadona\/","title":{"rendered":"Sate Kere: Kuliner Khas Solo yang Dulu Dipandang Sebelah Mata, Sekarang Jadi Primadona"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Solo adalah salah satu kota di Indonesia yang kaya akan warisan kuliner. Di kota ini kita bisa dengan mudah menemukan berbagai makanan dan minuman khas yang tak hanya lezat, tapi juga sarat akan cerita dan budaya. Salah satu kuliner yang menarik perhatian khalayak adalah sate kere. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin bagi sebagian orang, nama sate kere kurang familier di telinga. Akan tetapi saat ini sate kere telah menjadi primadona kuliner di kota ini. Sate kere adalah sate yang terbuat dari tempe gembus. Tempe gembus sendiri merupakan jenis tempe non-kedelai yang cukup unik karena bahan bakunya dari ampas tahu. Tekstur tempe gembus lembut dan lebih rapat dibandingkan tempe <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/kedelai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kedelai<\/a> biasa<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sate kere menggantikan sate daging yang dulunya tak mampu dibeli orang pribumi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal-usul nama sate kere memiliki akar dalam bahasa Jawa yang mengacu pada kata &#8220;kere&#8221; yang berarti miskin atau nggak memiliki uang. Jadi, kuliner khas ini dinamakan demikian bukan asal-asalan, melainkan terkait dengan masa penjajahan Belanda di mana orang-orang pribumi yang miskin dan nggak mampu menjadi penikmat dari kuliner ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, orang pribumi mengganti daging dengan tempe gembus dan jeroan untuk dijadikan hidangan karena mereka nggak sanggup membeli daging. Makanya hidangan ini diberi nama sate kere. Sate ini biasanya disajikan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/lontong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lontong<\/a> dan sambal kacang dengan cita rasa khas. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, tempe gembus yang digunakan untuk membuat sate juga harus diolah terlebih dulu dengan proses bacem. Hal ini bertujuan agar tempe gembus memiliki rasa yang lebih nikmat dan menggugah selera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate Kere pernah dipandang sebelah mata karena julukannya yang merujuk pada orang miskin. Namun seiring berjalannya waktu, hidangan satu ini makin populer karena cita rasanya yang lezat. Nama dan asal-usulnya tak menjadi masalah bagi para pencinta kuliner di Solo. Bahkan kini penikmat kuliner ini datang dari berbagai kalangan, termasuk orang-orang dari kelas menengah dan atas.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jadi alternatif orang-orang yang menghindari makan daging-dagingan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran terbuat dari tempe gembus, sate kere menjadi alternatif bagi orang-orang yang menghindari daging dalam makanan mereka. Meskipun biasanya kuliner ini disajikan dengan jeroan daging seperti kikil, babat, atau usus, kita tetap bisa memesan versi yang hanya mengandung tempe gembus, kok. Selain jadi menu alternatif bagi vegetarian, tempe gembus rupanya memiliki sejumlah manfaat yang baik bagi kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari website <a href=\"https:\/\/gizi.fk.undip.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro<\/a>, tempe gembus bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung, meningkatkan pencernaan, dan mengatur kadar gula darah. Sebab, tempe ini rupanya memiliki kandungan asam amino esensial, enam jenis asam amino non-esensial, dan serat yang tinggi. Selain itu, tempe gembus kaya akan antioksidan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran terbuat dari tempe gembus, harga sate kere jadi sangat terjangkau. Makanya kuliner khas ini menjadi primadona siapa pun yang berwisata ke Kota Solo. Wisatawan tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk bisa menyantap kuliner khas ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita bisa menjumpai kuliner ini dengan mudah di tiap sudut Kota Solo. Banyak restoran dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/warung-makan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warung makan<\/a> yang telah menjual hidangan ini selama puluhan tahun. Rasa yang autentik dan harga yang ramah di kantong memang begitu memikat siapa pun yang ingin mencicipinya. Sate kere adalah contoh sempurna bagaimana makanan yang dulunya dianggap sebelah mata, kini telah menjadi kuliner primadona yang dicari banyak orang.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nurul Fauziah<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-kuliner-khas-solo-yang-terancam-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Kuliner Khas Solo yang Terancam Punah<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sate kere adalah kuliner khas Solo yang dulu identik dengan orang miskin. Akan tetapi kini sate kere jadi primadona dan diburu banyak orang.<\/p>\n","protected":false},"author":1860,"featured_media":238727,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_comment_section":"1"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[16228,462,2460,16231,21123],"class_list":["post-238567","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-khas-solo","tag-makanan","tag-sate","tag-sate-kere","tag-tempe-gembus"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/238567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1860"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=238567"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/238567\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/238727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=238567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=238567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=238567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}