{"id":237518,"date":"2023-10-17T10:42:33","date_gmt":"2023-10-17T03:42:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=237518"},"modified":"2023-10-17T10:43:16","modified_gmt":"2023-10-17T03:43:16","slug":"jalan-re-martadinata-bandar-lampung-menjebak-pengendara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-re-martadinata-bandar-lampung-menjebak-pengendara\/","title":{"rendered":"Kerusakan Jalan RE Martadinata Bandar Lampung Membuatnya Menjadi Salah satu Jalanan Problematik di Provinsi Lampung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJalan yang menggunakan nama pahlawan nasional itu banyak yang problematik,\u201d kata teman saya sekitar 4 tahun di Lampung. Kalimat random itu muncrat secara tiba-tiba dari mulutnya. Sungguh tanpa konteks dan penjelasan lebih lanjut. Sebuah kesadaran yang membawa saya ke sebuah lokasi bernama Jalan RE Martadinata Bandar Lampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, kalimat teman saya berputar-putar di kepala saya. Ia menghasilkan pertanyaan di kepala. Misalnya: \u201cJalan mana, sih, yang dimaksud?\u201d atau \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-kusumanegara-wujud-ruwetnya-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kategori problematik itu yang bagaimana<\/a>?\u201d, dan kenapa Jalan RE Martadinata Bandar Lampung layak masuk ke dalam daftar problematik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum melanjutkan, mari kita menyamakan pemahaman tentang definisi problematik dulu. Menurut KBBI, problematik adalah \u2018masih menimbulkan masalah\u2019 atau \u2018hal yang masih belum dapat dipecahkan\u2019. Setuju dong? Oke lanjut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan rusak di Lampung sudah seperti \u201csaudara sendiri\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini saya sedang merantau di Jogja, tapi Bandar Lampung tetap rumah saya. Dan, setelah saya mengingat semuanya, kebanyakan jalan utama di sana menggunakan nama pahlawan. Mungkin belum masuk kategori problematik, tapi cukup banyak jalan di sana yang bikin jengkel.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya perempatan Jl. Imam Bonjol dan Jl. Teuku Cik Ditiro yang masih menyulitkan pengguna jalan walaupun pemerintah sudah membangun flyover. Atau pertigaan rumit yang mempertemukan Jl. Ki Maja dan Jl. Urip Sumoharjo di Kecamatan Kedaton. Ada juga lampu merah di perempatan yang mempertemukan Jl. Tamin, Jl. Cut Nyak Dien, dan Jl. H. Agus Salim. Masih ada berbagai jalan di mana jalur kereta api bara rangkaian panjang melewatinya. Jalan rusak di Lampung dan Bandar Lampung sudah seperti saudara sendiri karena di mana-mana kok ya ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari sekian banyak jalan dengan nama pahlawan, ada 1 jalan yang kategori problematik versi saya sendiri. Gimana nggak, jalan itu membentang sepanjang 6 kilometer ke arah selatan sebagai jalur alternatif penghubung Kota Bandar Lampung dan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Pesawaran\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Pesawaran<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan itu sempit, penuh lubang, plus volume kendaraannya sangat tinggi. Terlebih lagi, ini adalah jalur utama menuju kawasan wisata pantai di Pesawaran. Saat musim sepi liburan saja, sebagian ruas jalan ini sudah pasti macet oleh angkutan umum, warga, dan mobil pengangkut ikan. Maklum, karena jalan ini memang tepat berada di pesisir kampung nelayan, dan kendaraan besar lainnya. Jalan itu bernama Jalan RE Martadinata di Bandar Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan RE Martadinata Bandar Lampung yang memprihatinkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana kondisi Jalan RE Martadinata Bandar Lampung ketika high-season? Kamu akan menemukan kemacetan dan kepadatan yang merayap sepanjang 21 kilometer. Kemacetan itu terjadi dari pangkal Martadinata sampai pintu masuk Pantai Mutun. Panjang kemacetan yang terjadi bisa lebih panjang dari perhitungan saya. Maklum, sejak ada tol lintas Sumatera yang menghubungkan Lampung-Palembang, volume wisatawan melonjak drastis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruwetnya tuh kayak gini. Coba kamu membayangkan sedang berjalan dari pangkal Jalan RE Martadinata Bandar Lampung yang terhubung dengan Jl. Banten, melewati permukiman warga sepanjang 300 meter ke arah tenggara. Coba ukur lebar jalan ini di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-fitur-rahasia-google-maps-yang-jarang-diketahui-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google Maps<\/a> dan hitung ada berapa jumlah polisi tidurnya. Kamu akan menyimpulkan bahwa jalan ini lebih cocok disebut gang, ketimbang jalur lintas kabupaten-kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah berkendara di \u201cgang\u201d tadi, keluar menuju pertigaan Jl. Ikan Sebelah, di wilayah administrasi kelurahan Kota Karang, kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung itu kamu akan berkendara sepanjang 1 kilometer yang melelahkan. Jalan yang membentang lurus ke arah barat daya itu dijejeri ruko dan perumahan. Sudah tentu melelahkan karena aspal yang nggak pernah mulus dan macet mendominasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama belasan tahun tinggal di Lampung, paling tidak sebulan sekali, saya melintas di Jalan RE Martadinata. Saya selalu terjebak macet dan terjeblos di lubang besar. Sebab, setelah menambal 1 lubang, lubang lain akan muncul dan \u201cmenjebak\u201d pengendara awam seperti saya yang jarang lewat sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi selepas hujan, persis kayak kondisi jalan di bagian Lampung lain yang sempat viral kemarin, yaitu menjadi kubangan. Sebab, metode tambal sulam masih menjadi andalan pemerintah daerah untuk menanggulangi aspal rusak, termasuk Jalan RE Martadinata Bandar Lampung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Solusi menghindari jalan rusak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu, viral konten dari Bima TikTokers. Jalan rusak yang menjadi konten Bima adalah jalan lintas provinsi atau jalur perkebunan jadi kayak terabaikan. Sementara itu, beberapa titik di Jalan RE Martadinata Bandar Lampung yang rusak itu masih berada dalam wilayah administrasi kota, ibu kota Provinsi Lampung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah di 2023 masih layak ada kubangan di jalan raya kota besar? Terlebih ini provinsi dengan julukan \u201cSai Bumi Ruwa Jurai\u201d atau gerbang Pulau Sumatera, terdekat dari Pulau Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tenang, lupakan keruwetan tadi. Kamu mempunyai opsi lain supaya tidak melewati jalan problematik itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran saya, dari Jl. Ikan Sebelah, putar balik ke arah timur. Kamu cukup berkendara sejauh 400 kilometer untuk sampai di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ranjau-paku-di-jalanan-jakarta-masalah-yang-tak-pernah-usai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a>, pusat semesta Indonesia, yang jalannya mulus-mulus. Nggak usah ke Lampung, lah. Ngapain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Razi Andika<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/brebes-lampung-versi-jawa-tengah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alasan Brebes Layak Disebut Lampung Versi Jawa Tengah<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n<div class=\"diperbarui\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan RE Martadinata Bandar Lampung penuh dengan kubangan yang &#8220;menjebak&#8221; pengendara. Sebuah ruas jalan di tengah kota yang problematik. <\/p>\n","protected":false},"author":2387,"featured_media":237523,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[9020,21002,21001,6303,21003],"class_list":["post-237518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bandar-lampung","tag-jalan-re-martadinata","tag-jalan-re-martadinata-bandar-lampung","tag-lampung","tag-provinsi-lampung"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2387"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237518"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237518\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/237523"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}