{"id":237421,"date":"2024-02-07T16:05:15","date_gmt":"2024-02-07T09:05:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=237421"},"modified":"2024-02-07T16:00:24","modified_gmt":"2024-02-07T09:00:24","slug":"bekasi-lebih-modern-tapi-cilacap-lebih-bercahaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekasi-lebih-modern-tapi-cilacap-lebih-bercahaya\/","title":{"rendered":"Bekasi Boleh Lebih Modern, tapi Cilacap Jelas Jauh Lebih Nyaman, Lebih Bercahaya, Bolo!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum memutuskan untuk merantau dan menetap ke Bekasi, saya sudah pernah merantau ke Yogyakarta dan Semarang, bahkan saya hampir menghabiskan 10 tahun tinggal di Semarang. Namun, entah mengapa pindah ke Bekasi dari Cilacap menurut saya adalah keputusan paling berat yang saya rasakan. Ya gimana nggak berat, lha wong sampai pindah galaksi wkwkwk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga asli Ngapak yang di tubuhnya mengalir darah Cilacap murni, pindah ke Bekasi dan dinaturalisasi menjadi warga Babelan adalah pilihan terberat dalam hidup. Jika bukan karena mengikuti istri yang asli Bekasi saya enggan untuk menetap di sini. Meskipun fasilitas umum lebih lengkap, mall berjejer, dan akses transportasi umum lebih maju, tetap saja lebih enak tinggal di Cilacap daripada Bekasi. Sumpah dah gue kagak nglombo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa alasan yang menurut saya Cilacap lebih enak untuk ditinggali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Panasnya Cilacap lebih manusiawi daripada Bekasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama saya hidup di Cilacap teriknya matahari masih bisa dimaklumi. Kalau ngomongin panas yang hampir seluruh dunia mengalami peningkatan suhu, lha wong global warming. Tapi selama tinggal di Kroya, saya rasa teriknya matahari masih wajar dan yang paling penting tingkat polusinya tak setinggi Bekasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap saya berangkat kerja jam 5 pagi, tidak pernah merasakan yang namanya udara sejuk, apalagi berkabut, yang ada hanya asap dan debu. Makanya saat mudik ke Kroya saya selalu jalan pagi melihat sawah. Ya hitung-hitung terapi paru-paru merasakan udara sejuk penuh oksigen, bukan asap pabrik dan kendaraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, selama di Kroya saya jarang banget nyalain kipas angin. Tapi tinggal di Bekasi AC selalu nyala, jika tidak ya matang terpanggang di kamar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makanan lebih murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya harga makanan itu tergantung di mana beli dan gaya hidupnya sih. Cuma kalau dirata-rata harga makanan di Cilacap khususnya Kroya masih lebih murah daripada Bekasi. Sseporsi mie ayam di Kroya masih bisa ditebus dengan uang 10 ribu rupiah, nah, di Bekasi, 12 ribu kosongan tanpa topping. Di Bekasi, kalau mau ngopi pun minimal Kopi Kenangan atau Indomaret Point, tapi untuk saya sobat UMR mah mending Starling.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalanan Cilacap lebih ramah untuk pengguna motor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Bekasi, motoran 1 jam itu masih deket bos, orang-orang sini mobilitasnya tinggi banget. Pertama kerja di Jakarta cukup kaget motoran dari Bekasi ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Administrasi_Jakarta_Pusat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta Pusat<\/a> udah kaya melewati area pertempuran Transformers, truk-truk seukuran Optimus Prime biasa berkeliaran bebas. Dan mereka nggak cuma ada di jalan raya Bekasi, tapi masuk ke jalan-jalan kecil juga. Selama ada pabrik di situ pasti ada truk tronton segede gaban. Kita pengguna motor harus waspada. Ya gimana ya, ukuran ban dia aja sebesar motor kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Cilacap, khususnya Kroya jarang banget ketemu ada beginian, paling adanya di jalur tengah, mulai dari Buntu sampai Cilacap kota ke arah pelabuhan atau kawasan industri. Selain itu karena jalan sering dilewati kendaraan dengan bertonase besar ya pasti rusak. Aspal mengelupas, beton hancur, lubang dan jalan bergelombang adalah hal biasa di sini. Sejak tinggal disini perawatan shockbreaker motor harus rutin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda sama Kroya, meskipun jalannya nggak bagus-bagus amat, setidaknya lebih manusiawi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kualitas air sumur lebih baik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi rahasia umum, jika banyak pabrik berdiri pasti akan bertambah tingkat polusinya, baik itu polusi udara, air atau tanah. Padahal ada undang-undang yang mengatur terkait pengelolaan limbah dan AMDAL. Tapi nggak tau pelaksanaanya gimana, wong saya cuma masyarakat kelas umbi-umbian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang jelas, air sumur Bekasi, khususnya di tempat saya tinggal keruh dan ada partikel-partikel seperti debu berwarna kuning, jika dibiarkan mengendap di bak dan gayung akan timbul kerak. Bahkan kran yang mengalirkan air pun ikut terdampak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda dengan Kroya, Cilacap. Air sumurnya bening, segar kalau dipakai mandi enak, nggak kaya tempat tinggal saya Bekasi. Bahkan orang tua saya yang saat ini tinggal di Kroya biasa konsumsi air sumur sebagai air minum dan keperluan memasak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu saja alasan-alasan kenapa saya lebih memilih Kroya daripada Bekasi. Bahkan saya punya impian suatu saat ingin tinggal di kota selain Bekasi. Meski fasilitas umumnya oke, tapi kalo ke mana-mana macet ya mending turu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Aditia Narwan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cilacap-masih-kalah-dari-purwokerto-sebagai-kota-pensiunan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cilacap Masih Banyak Kekurangan sebagai Kota Pensiunan, Lebih Mending Purwokerto<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bekasi, tempat tinggal saya saat ini memang apa-apanya sudah maju. Tapi, tetap kalah dengan tanah kelahiran saya, Cilacap.<\/p>\n","protected":false},"author":2386,"featured_media":236615,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2840,2855,20998,2198],"class_list":["post-237421","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bekasi","tag-cilacap","tag-kroya","tag-polusi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2386"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237421"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237421\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/236615"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}