{"id":237309,"date":"2023-10-16T11:02:13","date_gmt":"2023-10-16T04:02:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=237309"},"modified":"2023-10-16T11:39:54","modified_gmt":"2023-10-16T04:39:54","slug":"braga-asyik-buat-nongkrong-tapi-punglinya-bikin-resah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/braga-asyik-buat-nongkrong-tapi-punglinya-bikin-resah\/","title":{"rendered":"Kawasan Braga dan Sekitarnya Itu Asyik buat Nongkrong, asal Nggak Ada Punglinya Aja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, Kawasan Braga, Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung dan wilayah di sekitarnya adalah tempat nongkrong paling asyik di Kota Bandung. Bagaimana tidak, letaknya strategis di jantung bisnis Kota Bandung, puluhan bangunan vintage seperti bangunan pemerintahan, hotel, restoran, hingga perkantoran yang sudah berdiri kokoh sejak Zaman Kolonial Belanda bikin betah buat nongkrong di sore maupun malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saya SMA, kawasan ini nggak cuma jadi kawasan favorit untuk muda-mudi buat pacaran atau nongkrong, tapi jadi kawasan untuk wisatawan mancanegara atau ekspatriat buat nongkrong. Orang tua saya bilang, Braga emang jadi kawasan favorit untuk bule buat nongkrong dari zaman Belanda keindahannya. Saya sendiri tidak menampik hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerarti Braga mahal dong buat nongkrong?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Restoran tempat bule nongkrong sih emang mahal untuk kaum mendang-mending kayak kita. Tapi nggak usah khawatir, di situlah seninya Braga. Kita masih bisa nongkrong di Braga dengan beli jajanan di minimarket atau beli kopi dari akang-akang Starling (Starbucks keliling). Bahkan, kita bisa nongkrong gratis dengan duduk-duduk di kursi yang sudah disediakan pemerintah bagi siapapun untuk duduk di sana sambil menikmati vibes Braga.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pengamen yang bikin nggak nyaman<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, tak ada gading yang tak retak. Kawasan Braga dan sekitarnya punya kekurangan. Baru mau nyeruput kopi, eh disamperin pengamen. Kalau alunan musiknya bagus dan jumlahnya hanya satu atau dua pengamen sih nggak jadi persoalan. Yang jadi persoalan, nggak semua alunan musik pengamen yang ngamen itu bagus. Selain itu, pengamen yang menghampiri pengunjung Braga jumlahnya banyak banget. Hampir setiap beberapa menit sekali selalu ada pengamen baru yang datang menghampiri pengunjung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disclaimer: Saya tidak bermaksud merendahkan mereka yang cari nafkah dengan jadi pengamen kok. Banyak pengamen yang ngamen di braga punya suara yang bagus dan pandai bermain musik. Tidak sedikit dari para pengamen tersebut yang kelak jadi musisi papan atas Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau tiap beberapa menit sekali pengunjung didatangi pengamen ya bisa pengunjung bisa bokek juga atuh. Lagian nggak semua pengamen (maaf) menjaga higienitas mereka sehingga banyak yang bau badan. Nggak semua pengamen mengamen dengan cara yang sopan. Bahkan<\/span><a href=\"https:\/\/prfmnews.pikiran-rakyat.com\/bandung-raya\/pr-131928363\/pengamen-yang-viral-sudah-ditangkap-motifnya-kesal-tidak-diberi-uang-dan-disebut-suaranya-jelek\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ada pengamen yang melakukan aksi kekerasan ketika mengamen<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengamen bukan satu-satunya masalah di Braga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah pengamen adalah satu-satunya masalah yang bikin nongkrong di Braga nggak enak? Sayangnya tidak. Sejak saya SMA, ada banyak pemuda ataupun pemudi yang mendatangi kita dengan kalimat template, \u201cHalo Kakak! Kakaknya asli Bandung bukan? Boleh minta waktunya sebentar?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemuda atau pemudi yang mengucapkan kalimat template tersebut adalah tim sales dari sejumlah NGO yang ngajakin kita untuk donasi. Mulai dari donasi ke panti asuhan, hingga menyelamatkan satwa liar yang terancam punah dengan feedback berupa voucher diskon makan di sejumlah restoran, hingga voucher diskon menginap di sejumlah hotel. Ada juga dari pemuda yang mengucapkan template tersebut mengaku sebagai mahasiswa dan meminta kita untuk membeli barang dagangannya sebagai tugas kuliah wirausaha dari kampusnya. Saya tegaskan ya, saya tidak merendahkan mereka karena mereka hanya berusaha cari nafkah, tapi hal tersebut bikin banyak pengunjung tidak nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada tiga pilihan ketika kita berhadapan dengan pemuda dan pemudi tersebut. Pertama, dengarkan penjelasan mereka sampai akhir dan bantu mereka dengan berdonasi atau beli dagangan mereka. Kedua, dengarkan penjelasan mereka sampai akhir dan minta maaf karena tidak bisa membantu mereka. Ketiga, cuek dari awal, baik dengan langsung balik badan, pura-pura nelpon, atau tegas menolak secara langsung.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pungli berkedok parkir<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan di atas sih masih remeh temeh ya? Ada hal lain yang bikin nggak nyaman untuk nongkrong di Braga dan sekitarnya, yakni pungli! Beberapa waktu yang lalu,<\/span><a href=\"https:\/\/prfmnews.pikiran-rakyat.com\/jawa-barat\/pr-137200017\/bandung-dijuluki-kota-pungli-akibat-viral-karcis-parkir-rp10-ribu-bey-machmudin-kita-malu\"> <span style=\"font-weight: 400;\">viral kasus tarif Rp10 ribu untuk satu sepeda motor di kawasan depan Museum Konferensi Asia Afrika<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Sudah mahal, kalau ada kerusakan atau kehilangan juga juru parkirnya tidak bertanggung jawab. Parkirnya pun nggak ditata dengan rapi sehingga bikin macet. Selain itu, nggak jelas juga uang parkir tersebut larinya ke mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sih berharap, Pemerintah Kota Bandung atau Pemerintah Jawa Barat bisa segera menyelesaikan masalah di atas yang sudah terjadi sejak saya masih duduk di bangku sekolah. Bukannya apa-apa, kalau masalah tersebut tidak diselesaikan pasti nama Kota Bandung jadi jelek. Jumlah wisatawan bisa berkurang yang ujung-ujungnya bikin roda perekonomian Kota Bandung jadi terhambat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dengan menempatkan sejumlah personil kepolisian atau Satpol PP untuk standby 24 jam untuk menertibkan pengamen, pungli, hingga meminimalisir risiko kriminalitas di Braga dan sekitarnya. Bisa juga dengan membuat Perda khusus yang mengatur pengamen di satu lokasi dengan aturan tertentu supaya terbit, atau membuat parkir resmi biar nggak ada lagi pungli juga bisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh sebentar, kok saya juga yang disuruh mikir? Harusnya Pemerintah yang mikirin solusinya dong! Pemerintah juga yang juga eksekusi. Kalian kan dibayar dari uang pajak rakyat untuk mikirin solusinya!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raden Muhammad Wisnu<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/braga-menjelang-kumuh-julukan-yang-pantas-disematkan-pada-jalan-tertua-di-bandung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Braga Menjelang Kumuh, Julukan yang Pantas Disematkan pada Jalan Tertua di Bandung<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kawasan Braga Bandung dan sekitarnya punya kekurangan. Baru mau nyeruput kopi, eh disamperin pengamen. Kalau ga ya, kena pungli.<\/p>\n","protected":false},"author":272,"featured_media":237384,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,13986,20991,452,12737],"class_list":["post-237309","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-braga","tag-ngo","tag-pengamen","tag-pungli"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237309","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/272"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237309"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237309\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/237384"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}