{"id":237223,"date":"2023-10-15T09:00:51","date_gmt":"2023-10-15T02:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=237223"},"modified":"2023-10-15T09:19:22","modified_gmt":"2023-10-15T02:19:22","slug":"kenapa-kekerasan-di-pondok-pesantren-jarang-viral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-kekerasan-di-pondok-pesantren-jarang-viral\/","title":{"rendered":"Kenapa Kekerasan di Pondok Pesantren Tak Mudah Viral seperti Kekerasan di Sekolah?"},"content":{"rendered":"<p><em>Kenapa kekerasan di pondok pesantren seakan-akan lenyap dari dunia, dan jarang sekali viral?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sudah sangat menyadari, bahkan bersepakat dengan seksama tentang hukum rimba di negeri Wakanda, yakni \u201cno viral no justice\u201d. Tentang bagaimana hukum bisa ditegakkan, diusut, bahkan diproses kalau viral terlebih dahulu. Entah apa pun itu kasusnya, kalau dah viral duluan ya pasti kok dilirik aparat kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya yakni kasus kekerasan di sekolah yang beberapa waktu lalu banyak diperbincangkan. <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/hukum-dan-kriminal\/d-6934148\/terungkap-alasan-kakak-kelas-colok-mata-siswi-sd-gresik-hingga-buta-permanen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kasus pencolokan mata<\/a> yang dialami siswa SD di Gresik nggak bakal diusut kalau nggak viral dulu. Kasus pembacokan guru di Demak yang baru diusut setelah videonya viral di sosial media. Bahkan kasus bullying di Cilacap juga baru diproses hukum ketika viral. Oke, benar berarti no viral no justice.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pertanyaannya adalah apakah aturan sosial ini juga berlaku di institusi pendidikan yang lain seperti pesantren?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang bahwa kasus kekerasan seksual di pesantren juga beberapa kali viral dan diproses tuntas. Namun, bagaimana dengan model-model kekerasan yang lain? Kekerasan fisik, verbal bahkan simbolik apakah pernah mencuat di publik? Kalau viral saja nggak bisa, bagaimana memprosesnya? Apalagi mendapat keadilan atas berbagai kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pondok pesantren adalah institusi semi militer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sudah tak menjadi rahasia lagi bahwa pesantren itu adalah institusi pendidikan semi-semi militer. Khususnya pesantren tradisional yang masih menerapkan sistem pendidikan klasik, tempo jadul, atau pendidikan yang masih kolot banget, yang apa-apanya mengandalkan fisik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya adalah alumni di salah satu pesantren di Gresik, dan sedikit banyak telah menjelajah di beberapa pesantren tradisional di Jawa Timur dan Jawa Tengah ketika bulan Ramadan. Ketika mendengar pengalaman santri-santri lain di luar pesantren saya, semuanya memiliki keserupaan dengan apa yang saya alami juga, bahwa kekerasan di pesantren adalah hal yang lumrah bahkan dinormalisasi sebagai tradisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada santri yang merokok, digunduli, dipotong nggak karuan rambutnya, bahkan ada yang badannya ditusuk pakek bara rokok. Ketika ada santri yang mencuri, kepalanya disiram air got oleh pengurus, bahkan sebelum itu digebukin oleh santri sampek babak belur. Telat berjamaah satu rakaat bakal kenak satu hempasan rotan. Nggak sekolah, disuruh lari muter lapangan pesantren. Santri senior yang bebas memerintah, mukul, bahkan membully santri yang lebih junior. Bahkan paling mengerikannya ada santri yang membunuh santri lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya boleh membandingkan, kekerasan di sekolah yang kerap viral itu nggak ada apa-apanya dengan kekerasan di lingkungan pesantren. Liat saja kekerasan seksual di pesantren lebih mengerikan bahkan sampai punya anak, merenggut banyak korban, bahkan seperti perbudakan, jika daripada kekerasan seksual di sekolah. Pesantren itu udah nggak hanya sekelas akademi polisi, tapi udah militer yang sangat mengerikan. Taruhannya udah seperti hidup dan mati.<\/span><\/p>\n<h2><b>Beberapa pesantren tidak diperbolehkan membawa HP<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya adalah mengapa berbagai kekerasan di pondok pesantren itu sulit untuk viral, bahkan rasanya sulit menjadi perbincangan publik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf ya di pesantren saya itu pernah ada kasus pengeroyokan santri hingga babak belur. Bahkan pihak korban keluarga itu sempat melaporkan polisi, dan sampai aparat sudah datang di pesantren. Tapi, sayangnya kasus itu lagi-lagi tidak sampai viral, bahkan nggak sampai diproses hingga tuntas. Lagi-lagi diselesaikan secara kekeluargaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata pertanyaan tentang kenapa kok kekerasan di pesantren nggak sampai viral itu salah satunya jawabannya cukup sederhana. Sebab, di beberapa pesantren itu nggak memperbolehkan santrinya membawa HP. Boro-boro mau ngeposting dan ngeviralin, lah wong main medsos aja nggak pernah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mentok yang boleh membawa HP ya pengurusnya doang. Dan, nggak mungkin juga dong selaku pengurus ngevideoin kekerasan di pesantren. Lah wong dia pelakunya, apalagi pengurus memiliki beban yang lebih dari kiai untuk merawat pondok pesantren, termasuk menjaga nama baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Unsur kepatuhan berlebih demi barokah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di titik yang paling substantif dari kenapa kekerasan di pesantren nggak seviral di sekolah adalah karena ada relasi kuasa yang sangat tinggi, antara kiai, pengurus dan santri. Dan, dari relasi ini menciptakan kepatuhan yang sangat berlebih dari hierarki tertinggi hingga ke bawah dengan dalih barokah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percaya nggak percaya, sepatuh-patuhnya seorang siswa, itu masih patuhan santri. Siswa kalo disuruh aneh-aneh pasti ada berontaknya, meskipun dikit-dikit. Lah, kalo santri, diperintah A ya A, B ya B, masuk jurang ya masuk jurang. Dalihnya adalah barokah. Seolah-olah fungsi otak seorang santri itu dinonaktifkan dan diganti dengan kebarokahan. Dikit-dikit berkah, dikit-dikit berkah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu sabetan rotan dianggap barokah, dua kali berarti dua barokah. Disiram air got dianggap mandi barokah. Dibuanting dianggap dibanting keberkahan. Digunduli dianggap merontokkan kesialan dan diganti dengan keberkahan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Diskursus wacana<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang kemudian oleh filsuf kondang Michel Foucault disebutkan bahwa kekuasaan dan penundukan itu berlangsung melalui diskursus wacana. Jadi, para santri diberi pengetahuan bahwa apa pun yang dilakukan padanya oleh pesantren adalah kebaikan, keberkahan, apa pun itu, jadi harus nurut dan nerima begitu saja, tanpa mempertanyakan bahkan menentangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, gimana ya, patuh sih boleh, tapi goblok jangan. Santri itu boleh dan sah-sah saja patuh, nurut, tapi tolong otaknya difungsikan, jangan seperti otak udang. Karena manusia dilahirkan untuk berpikir, bukan menjadi robot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepada para pengurus maupun pelaku pesantren, plis, jadikan pesantren lebih ramah pada santri. Apa pun itu bentuk pesantrennya, kekerasan sudah nggak relevan lagi bagi santri. Pesantren bukan akademi militer, ia adalah akademi ilahiah yang tidak membenarkan kekerasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sekolah nggak boleh ada kekerasan, pesantren pun juga nggak boleh ada kekerasan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Mohammad Maulana Iqbal<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/sisi-gelap-pondok-pesantren\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sisi Gelap Pondok Pesantren, dari Maling Kutang hingga Menyukai Sesama Jenis<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa kekerasan di pesantren seakan-akan lenyap dari dunia, dan jarang sekali viral?<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":237236,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1003,505,359,1094],"class_list":["post-237223","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-kekerasan","tag-pondok-pesantren","tag-sekolah","tag-viral"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237223","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237223"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237223\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/237236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}