{"id":237000,"date":"2023-10-13T14:32:41","date_gmt":"2023-10-13T07:32:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=237000"},"modified":"2023-10-15T18:08:06","modified_gmt":"2023-10-15T11:08:06","slug":"fungsi-jas-almamater-siswa-itu-apa-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fungsi-jas-almamater-siswa-itu-apa-sih\/","title":{"rendered":"Fungsi Jas Almamater Siswa itu Apa sih? Kan Sudah Ada Seragam? Ini Sekolah atau Butik?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kenapa, beberapa tahun belakangan saya sering banget nemuin siswa sekolah, baik negeri maupun swasta, yang makek jas almamater sekolahnya. Bahkan adik saya yang saat ini duduk di bangku SMP juga makek jas yang serupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya buat apa sih siswa sekolah itu dibikinin jas segala? Kan sudah ada seragam. Kenapa dilapisin jas lagi? Ribet banget dah sekolah hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal saya dulu waktu sekolah tahun 2017-an ke belakang, nggak pernah tuh makek jas segala. Mentok saya menempuh pendidikan makek jas itu ketika kuliah. Sedangkan sekolah ya makek seragam sekolah biasa, putih biru, putih abu-abu, batik, kotak-kotak, dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai saat ini saya masih nggak habis pikir, buat apa coba seorang siswa disuruh makek jas segala. Kalau di kampus kan wajar ya, soalnya di kampus tuh nggak ada seragamnya selain jas almamater kampus itu. Jadi kalau ada acara tertentu yang memaksa berseragam ya mahasiswa makek jas itu. Lah, kalau siswa? Jasnya buat apa? Buat seragam? Lah putih abu-abu, putih biru bahkan putih merah itu apa kalau bukan seragam?<\/span><\/p>\n<h2><b>Niru kampus biar terkesan elite<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir sekolah-sekolah hari ini yang banyak menerapkan penggunaan jas pada siswanya itu hanya sekadar nurutin gengsi doang. Dengan kata lain, mereka mau meniru model kampus dengan cara yang goblok. Biar terkesan elite, biar terkesan waw di mata publik, biar terkesan elegan di mata wali murid, akhirnya sekolah-sekolah menerapkan penggunaan jas sekolah pada siswanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jas sendiri emang asal muasalnya hanya digunakan kalangan ningrat pada kisaran abad 16 atau 17 oleh para bangsawan di Eropa. Bahkan pada 1600-an, oleh <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Charles_II_of_England\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Raja Charles II<\/a> dari Inggris, jas dikenakan untuk kegiatan kebangsawanan. Jadi, sejak sejarahnya, jas sudah sangat elitis. Begitupun dengan saat ini jas digunakan mahasiswa juga menarasikan wacana elitis. Dan, kemudian ditiru oleh sekolah untuk sama-sama menarasikan elitis pada sekolah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat kata mirip dengan wisuda di jenjang sekolah. Wisuda kan asal muasalnya dari jenjang perguruan tinggi pada abad 12 di Eropa. Kemudian ritual akademik ini diterapkan di berbagai kampus di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tapi anehnya, pendidikan jenjang SMA ke bawah di Indonesia ndilalah juga ikut-ikutan melakukan prosesi wisuda yang akar luhurnya di jenjang perguruan tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitupun jas almamater, khususnya dalam konteks Indonesia, yang awalnya dipopulerkan oleh perguruan tinggi. Namun, tanpa akar sejarah yang jelas, sekolah pun ikut meniru penggunaan jas almamater bagi para siswanya. Jangan-jangan kedepan, lama-lama seorang siswa nggak lagi menempuh dan mengerjakan ujian, atau penilaian karakter, tapi mereka disuruh buat skripsi demi kelulusannya.<\/span><\/p>\n<p>Baca halaman selanjutnya<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fungsi-jas-almamater-siswa-itu-apa-sih\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Cari cuan berkedok ketertiban<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Kapitalisasi pendidikan dengan dalih ketertiban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang pelaku pendidikan, khususnya birokrat maupun pimpinan sekolah akan menjelaskan bahwa penggunaan jas itu demi ketertiban siswa. Nggak mungkin dong mereka bilang cuma niru-niru kampus. Pastinya mereka akan berdalih bahwa jas adalah bentuk keindahan, keseragaman, kedisiplinan siswa, pembentukan karakter siswa atau apa pun itu yang bernuansa kebajikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di balik wacana nan elok itu, terselip bumbu-bumbu kapitalistik untuk meraup cuan wali murid sebanyak-banyaknya. Dengan menerapkan penggunaan jas almamater pada siswa, secara tidak langsung juga menambah biaya pendidikan bagi siswa. Awalnya cuma bayar seragam biasa, eh nambah bayar jas almamater.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf nih ya, saya yang ngurus pendaftaran adik saya masuk SMP itu sempat kaget dengan biaya daftar ulangnya yang cukup meroket. Lah setelah saya cross<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">check ternyata termaktup dengan rapi tulisan biaya jas almamater seharga dua ratus ribu rupiah. Mungkin sedikit bagi beberapa orang, tapi bagi rakyat jelata itu adalah biaya fantastis, apalagi kalau dibuat beli buku udah bisa dapat banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dipikir-pikir lagi, ternyata sekolah hari ini itu nggak hanya menjual pendidikan, tapi juga ternyata menjual baju juga. Jas misalnya, dengan dalih kebutuhan pendidikan, pakaian jas dapat diperjualbelikan demi mendapatkan keuntungan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jas almamater nggak digunakan maksimal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akui saja, jas almamater bagi siswa itu nggak ada gunanya. Ketika saya nyambang adik saya di pesantren, saya sempat menanyakan jas almamaternya di mana dan digunakan waktu kapan saja. Katanya, jasnya tersimpan dengan rapi di lokernya, dan hanya digunakan kalau ada acara doang. Misal, ada tamu istimewa sekelas pejabat mampir ke sekolah, ketika ada kegiatan besar di sekolah, atau mentok hanya digunakan ketik ada ujian semester berlangsung. Sedangkan selebihnya cuma sebagai pajangan di lemari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya, buat apa sih buang-buang uang hanya untuk persoalan beginian doang. Hanya untuk pencitraan doang intinya, biar orang-orang tuh kagum dengan sekolah itu. Apalagi beberapa sekolah itu ada yang ngemodel aneh-aneh jas almamater siswanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu sekolah atau EO fashion show?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pada duit dipakek begituan, mending dibelanjain buat beli buku nggak sih, untuk memperkaya perpus sekolah. Bahkan dibuatkan program satu siswa membaca satu buku tiap minggu. Kan lebih baik begitu biar perpusnya nggak hanya jadi gudang buku, tapi benar-benar menjadi jendela ilmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudahilah wahai pengelolah pendidikan, kembalilah ke fitrah pendidikan untuk mencerdaskan para siswa. Persoalan yang eksistensial coba dipinggirkan, dan lebih mementingkan hal-hal yang mengasah otak siswa. Seragam aja sudah problematis sebagai penundukan dan pengurungan kreativitas siswa. Apalagi nambah-nambah jas almamater yang malah nggak ada urgensinya sama sekali dalam pendidikan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Mohammad Maulana Iqbal<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-tk-hanyalah-pembelokan-sejarah-dan-pemborosan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wisuda TK Hanyalah Pembelokan Sejarah dan Pemborosan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebenarnya buat apa sih siswa sekolah itu dibikinin jas almamater segala? Kan sudah ada seragam. Ribet banget dah sekolah hari ini.<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":237088,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[14398,785,19531,176],"class_list":["post-237000","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jas-almamater","tag-kapitalisme","tag-pemborosan","tag-siswa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237000","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237000"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237000\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/237088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237000"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237000"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237000"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}