{"id":236886,"date":"2023-10-12T13:18:17","date_gmt":"2023-10-12T06:18:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=236886"},"modified":"2023-10-12T13:18:17","modified_gmt":"2023-10-12T06:18:17","slug":"tutorial-bertani-di-situbondo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tutorial-bertani-di-situbondo\/","title":{"rendered":"Tutorial Bertani di Situbondo, Mulai dari Harga Sewa Lahan sampai Pengelolaannya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya beberapa teman di Situbondo yang seringkali punya keinginan untuk terjun untuk ikut bertani. Mereka sering nanya, dan saya seolah dapat tugas wajib untuk menjelaskannya. Meskipun saya bukan petani tulen, tapi paling tidak ada satu dua hal yang bisa saya ketahui dari profesi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar nggak nanya-nanya mulu dan saya nggak capek jawabnya, saya bikin tutorial yang nggak lengkap-lengkap banget biar jadi semacam buku panduan sebelum menjalani profesi yang penuh lumpur dan emang lumpur beneran ini. Terutama, bagi orang Situbondo yang mau jadi petani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-temanku, begini tutorialnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sewa lahan di Situbondo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, di tahap pertama harus sewa lahan dulu. Soalnya jarang banget ada anak muda yang langsung diberi kepercayaan untuk mengelola lahan sendiri dan lebih banyak lagi anak muda nggak dapet warisan sawah yang bisa dikelola sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi buat yang masih muda dan belum dapet sawah warisan, saya saranin untuk sewa lahan aja. Di Situbondo, sebatas pengalaman saya, harga sewa lahannya nggak mahal-mahal banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk empat petak lahan yang masing-masing petaknya seluas 1000 meter persegi, harga sewanya Rp3 jutaan aja untuk sekali tanam atau 3-4 bulan. Tapi, jangan nyediain Rp3 jutaan aja karena banyak pemilik lahan di Situbondo yang ogah menyewakannya dalam sekali tanam. Paling minim 3 kali musim tanam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi paling nggak, buat modal sewa lahan sediain kurang lebih Rp9-10 juta. Ini udah jadi estimasi modal paling aman buat sewa lahan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cari panglako alias buruh tani<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, yang mau ikut bertani itu kadang cuma mau untungnya aja dan enggan buat panas-panasan membalik tanah sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang paling krusial selain sewa lahan adalah \u201cpanglako\u201d atau buruh tani yang bakal membajak, menanam, sekaligus merawat tanaman yang nantinya bakal dipilih. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saran saya, cari buruh yang ada di sekitar lokasi lahan yang disewa. Tujuannya biar nggak perlu modal transport dan biar bayarnya nggak kemahalan. Di Situbondo banyak kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat biayanya, biasanya sehari saya hitung rata-rata Rp35.000-50.000. Biar lebih mudah, tinggal kalikan dengan satu musim tanam yakni 3-4 bulan. Hasilnya jadi Rp3.150.000-4.500.000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini cuma estimasi aja. Biaya buat buruh ini nggak bakal dipake semua. Tapi paling nggak, sediain aja dulu segitu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pilih komoditas yang cocok di Situbondo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau buruhnya udah nemu, selanjutnya tinggal pilih komoditas yang mau ditanam. Kalau di Situbondo, umumnya komoditas yang dipilih itu kalau nggak jagung, padi, cabai, dan bawang. Ini yang paling banyak saya temukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana nentuin komoditasnya? Pertimbangkan aja budget yang dimiliki. Biar lebih jelas, gini aja:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jagung cocok buat yang punya budget Rp5-10 juta. Padi cocok untuk yang punya budget sama kek jagung. Cabe, cocok kalau punya budget Rp10-25 jutaan. Bawang, cocok untuk yang budgetnya di range Rp25-50 jutaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, range budget ini nggak include dengan sewa lahan di Situbondo, ya. Soalnya biaya di atas ini untuk kebutuhan operasional mulai dari beli pupuk dan bayar buruh tani untuk mengelola lahan dari awal sampai panen.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penggunaan pupuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau penggunaan pupuk, biasanya tiap komoditas itu berbeda-beda. Jika menanam padi dan jagung, mending pakai pupuk subsidi aja. Lebih murah meskipun kadang dapetnya sulit dan ngerusak tanah. Ya, mau nggak mau emang harus pakai pupuk kimia. Soalnya mau mbonek bertani organik juga percuma. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya nggak jauh dari lahan yang kamu sewa, rata-rata masih pakai <a href=\"https:\/\/www.mertani.co.id\/post\/jenis-jenis-pupuk-yang-wajib-petani-ketahui\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pupuk kimia<\/a>, tanamanmu akan terpengaruh juga. Kata mahasiswa pertanian emang gitu, saya udah nanya soalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu kalau padi dan jagung. Kalau milih cabai dan bawang? Jauh lebih baik untuk pakai pupuk non-subsidi. Harganya lebih mahal, tapi kalau bertaninya MaxWin, kembalinya berkali-kali lipat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum tahu milihnya? Ya belajar, dong. Banyak kok petani di komoditas yang sama dan bakal share ilmunya. Kan di Situbondo juga banyak. Bisa belajar dari YouTube juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cari pembeli sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini dikit aja sih saran, mending cari pembeli sendiri. Di Situbondo itu banyak banget tengkulak untuk berbagai komoditas di atas, kadang ya nguntungin, tapi seringnya sih nggak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, saya saranin buat cari sendiri aja. Cara nyarinya tuh gampang. Coba sering-sering kumpul dengan petani di dekat lahan yang disewa. Bisa juga dengan datang ke tempat penggilingan padi dan jagung. Di sini biasanya nyebut tempat itu sebagai \u2018selep\u2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, si pemilik \u2018selep\u2019 itulah yang bakal memborong komoditas pertanian milikmu yang udah panen.<\/span><\/p>\n<h2><b>Selamat mengadu nasib!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, cuma itu aja yang perlu \u2018dikantongin\u2019 waktu mau bertani di Situbondo. Kalau total biayanya tentu bervariasi. Jika dihitung dengan sewa lahan, sekali tanam paling nggak kamu harus modal Rp6-50 jutaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan range biaya ini, kamu udah bisa menanam komoditas pilihan dalam empat petak sawah dalam satu kali musim tanam. Kalau keuntungannya, beda-beda juga. Tergantung cara perawatan dan nasibmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika nasib baik ya bisa buat makan bahkan foya-foya, kalau nasibnya kurang baik ya bersyukur aja, paling nggak sudah mencoba. Semoga beruntung!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Firdaus Al Faqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/situbondo-tempat-tinggal-terbaik-dan-kota-sederhana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya bikin tutorial yang nggak lengkap-lengkap banget bagi orang Situbondo yang mau jadi petani. <\/p>\n","protected":false},"author":585,"featured_media":236952,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[695,10709,1412],"class_list":["post-236886","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-petani","tag-situbondo","tag-tutorial"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/236886","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/585"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=236886"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/236886\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/236952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=236886"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=236886"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=236886"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}