{"id":235836,"date":"2023-10-02T09:00:54","date_gmt":"2023-10-02T02:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=235836"},"modified":"2023-10-01T21:42:12","modified_gmt":"2023-10-01T14:42:12","slug":"titoti-wonogiri-warung-mi-ayam-yang-wajib-kalian-kunjungi-sebelum-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/titoti-wonogiri-warung-mi-ayam-yang-wajib-kalian-kunjungi-sebelum-mati\/","title":{"rendered":"Titoti Wonogiri, Warung Bakso dan Mi Ayam yang Wajib Kalian Kunjungi Sebelum Mati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana orang Wonogiri pada umumnya (di zamannya), Slamet Riyanto memilih merantau ke Jakarta dan jadi pedagang bakso (atau mi ayam, terserah). Kisah suksesnya klise: ia memulai dari titik paling awal, berjuang, punya pelanggan, lalu jadi bos besar. Kesuksesan Bakso Titoti, sebenarnya klise. Amat klise.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kalian merasakan sendiri betapa nikmatnya semangkok mi ayam dan bakso Titoti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama Titoti memang sudah begitu menancap di khazanah bakso dan mi ayam Nusantara. Cabangnya yang tersebar di banyak kota dan selalu ramai menunjukkan bahwa nama Titoti tidak pernah sepele. Warung makan (atau resto, terserah enaknya yang mana) ini tidak bergantung pada formula zaman sekarang: viral, meledak, lalu redup. Dia tidak butuh foodvlogger. Orang tahu bahwa datang ke Titoti, pulang akan merasa puas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecuali ia menghitung sisa uang di dompet. Semata karena memang menunya lumayan mahal untuk ukuran bakso dan mi ayam. Tapi enak, jadi ya nggak usah protes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, seenak apa sih rasanya hingga <a href=\"https:\/\/food.detik.com\/info-kuliner\/d-4888450\/dari-gerobak-jadi-18-rumah-makan-kisah-bakso-titoti-yang-legendaris\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">punya banyak cabang<\/a> dan ramai terus?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaiknya, kalian pegang dompet kalian sekarang juga. Sebab, saya nggak yakin kalian tidak lapar setelah baca ini.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Mengunjungi Titoti dan tradisi yang mengalir dalam nadi<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari yang lalu, saya, istri, dan anak saya menyambangi Titoti. Entah apa yang ada di pikiran Arwen, tiba-tiba dia minta mi saat badannya sedang dalam masa pemulihan setelah beberapa hari lalu pilek. Tentu dengan bahagia saya turuti, dan dalam hati saya bergumam, \u201cCah iki wis ndeso tenan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. ada tradisi aneh yang dipegang di kampung saya: kalau sakit macam pilek, demam, dan sejenisnya, makanlah mi ayam atau bakso yang pedes. Niscaya sembuh. Tentu saja ini tak bisa dibuktikan dengan medis, tapi kok ya beneran manjur. Dan ini nggak terjadi sekali-dua kali, berkali-kali. Ingin rasanya saya mengajak WHO ke sini dan meneliti mi ayam Wonogiri, apakah memang mengandung obat dari leluhur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika tiba di Titoti, tanpa berlama-lama saya langsung memesan mi ayam dua. Kenapa nggak sama baksonya? Secara singkat, saya hanya mau bilang, baksone dijamin enak. Udah. Nggak usah direview, itu sia-sia. Tak mungkin warung ini menghabiskan tiga puluh kilogram daging jika baksonya tidak enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak menunggu lama, makanan datang. Saya pandangi betul mi dan kuahnya. Dari tampilan, sudah terlihat bahwa mi ayam Titoti ini pasti enak. Tapi, saya melihat ada yang janggal. Minyaknya mana ya?<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_235839\" aria-describedby=\"caption-attachment-235839\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-235839\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31.jpg 1200w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31-300x200.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31-768x512.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31-750x500.jpg 750w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Untitled-design-31-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-235839\" class=\"wp-caption-text\">Semangkuk mi ayam Titoti.<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ibu, kunci mi ayam itu ada di minyaknya. Jika kalian perhatikan, bakul mi ayam itu pasti punya satu botol berisi minyak yang bakal disemprotkan ke minya. Nah, itulah kunci mi ayam Wonogiri, minyaknya. Jika kalian lihat bakul mi ayam (mengaku) Wonogiri, tapi nggak pake minyak, wajar kalau kalian ragu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segera saya tuang kuahnya. Barulah minyaknya terlihat. Oh, ternyata memang begini mainnya. Minyaknya baru bisa saya temukan di bawah mi, jadi ya, maaf..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">By the way, saya nyoba kuahnya. Penasaran, kuahnya bisa bening, nggak butek kayak mi ayam kebanyakan. Rasanya sih, kayak kuah bakso. Kata Istri saya, itu kaldu. Apalah itu, pokoknya segar.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Saatnya mencoba<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah diaduk-aduk, saya cicipi dulu minya tanpa campuran saos dan sambal. Ini penting, karena saya harus tahu rasa originalnya seperti apa. Setelah suapan pertama masuk, saya merasakan hal-hal menyenangkan yang ada di dunia ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayamnya nggak manis banget, jelas berbeda dengan gagrak Jogja yang selama ini saya konsumsi (dengan berat hati). Minya begitu mudah dicerna, tapi nggak lembek. Perpaduan semuanya begitu pas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tertelan, ada rasa yang tertinggal, rasa gurih yang begitu nendang. Bagian ini yang sebenarnya begitu saya sukai. After taste yang menyenangkan seakan jadi khas yang hanya bisa Anda dapat di Titoti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Porsi semangkok mi ayam Titoti ini pas. Tapi kalau Anda merasa kurang, itu wajar, karena bumbunya begitu kuat. Jadi ya, bakal merasa kurang. Tapi jangan tertipu, bisa jadi kalau kalian nambah, malah merasa enek. Lagi-lagi, itu mi. Jelas bakal gampang bikin enek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi penyuka mazhab Jogja, saya yakin rasanya masih bisa diterima. Tapi ya, mengingat cabang Titoti yang begitu banyak, artinya rasanya bisa diterima banyak pihak.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Harga seporsi mi ayam Titoti<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Putri saya tak henti-hentinya bilang enak. Meski dia hanya makan sedikit, tapi saya yakin dia begitu suka dengan mi ayam ini. Sudah lengkap jiwa Wonogirinya. Saya nggak kaget kalau suatu saat nanti putri saya jadi snob mi ayam. Wajar, kau lahir di tempat di mana mi ayam ternikmat diciptakan, ya standarnya jadi nggak masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Titoti sudah mulai ramai. Saya lama-lama tak betah, juga istri dan anak saya udah kelar makan. Maka, tak butuh waktu lama, kami berkemas dan segera membayar. Mi ayam dua porsi dan es teh dua gelas, kami cukup membayar 32 ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, seporsi mi ayam dibanderol 13 ribu rupiah (ya memang segitu harganya). Harga ini, bagi saya, MAHAL. Tapi ya, wajar, rasanya endul mantulity fatality. Selama harganya tak menyentuh 30 ribu semangkok, ya masih wajar lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c13 ribu kok mahal bang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf, di Wonogiri, buanyak banget mi ayam enak dibanderol tak sampai 9 ribu rupiah. Jadi ya, paham lah kenapa saya bilang begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang berkunjung ke Wonogiri, rasanya begitu percuma kalau kalian tak mencicip bakso dan mi ayam Titoti. Bahkan jika kalian tak pernah punya keinginan berkunjung ke Wonogiri pun, saya sarankan untuk segera berkunjung, biar tahu rasanya. Atau, ya, kalau ada outlet Titoti di kota Anda, gas aja. Nanti bakal tahu, kalau saya nggak mengada-ada.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Penutup<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau itu mengerikan. Berkarib dengan sepi, terpaksa berkawan dengan kemuraman. Kita berusaha begitu keras untuk menghilangkan itu dengan banyak hal: parfum yang mengingatkan harum ibu, melihat peta rumah, kadang juga mengingat betapa konyolnya masa kecil. Beberapa orang, memilihnya dengan makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bagi saya, Titoti adalah tempat yang tepat untuk menghilangkan rasa kangen bagi para perantau dari Kota Gaplek. Rasa-rasa yang familiar tercecap di lidah, bikin kita mengingat bahwa terkadang rumah itu jaraknya hanya dari hati ke lidah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wonogiri-tempat-terbaik-untuk-hidup-dan-lari-dari-kecemasan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wonogiri, Tempat Terbaik untuk Hidup, Tempat yang Tepat untuk Lari dari Kecemasan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum membaca, pastikan pegang dompet.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":235838,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[936,6346,95,20831,783],"class_list":["post-235836","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bakso","tag-mi-ayam","tag-review","tag-titoti","tag-wonogiri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/235836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=235836"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/235836\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/235838"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=235836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=235836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=235836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}