{"id":235256,"date":"2023-09-29T09:30:04","date_gmt":"2023-09-29T02:30:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=235256"},"modified":"2023-09-28T23:18:12","modified_gmt":"2023-09-28T16:18:12","slug":"lika-liku-profesi-pengolah-arsip-yang-upahnya-nggak-sip","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lika-liku-profesi-pengolah-arsip-yang-upahnya-nggak-sip\/","title":{"rendered":"Lika-liku Profesi Pengolah Arsip yang Upahnya Nggak Sip"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seumur hidup, saya nggak pernah nyangka akan ketiban profesi pengolah arsip. Lepas dari profesi jurnalis, belok ke pengolah arsip ini rasanya cukup masuk akal. Saya jebolan jurusan Pendidikan Bahasa Jawa. Arsip-arsip yang butuh diolah ini berbahasa jawa dan beraksara jawa pula. Linear lah ya. Saya merasa beruntung karena saya senang ngulik aksara Jawa, meskipun konsentrasi saya dulu di bidang linguistik bukan filologi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tambah amazed lagi ketika melihat wujud arsip-arsipnya yang vintage abis. Kayak perkamen-perkamen di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Harry Potter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu wujud arsipnya. Ya gimana nggak, wong arsip-arsip itu udah dari 1800-an sampai 1900-an. Sepuh, kudu sungkem dulu sama artefak yang mengagumkan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiap hari, saya bermain dengan mereka. Baca-baca aksara yang ditulis tangan dengan tinta. Uaapik tenan tulisan tangan orang zaman dulu. Tapi nggak jarang juga saya nemu yang tulisannya kayak cacing, nggak bisa dibaca blas. Macam-macam karakter penulisan aksara ini, mau nggak mau membuat saya membiasakan diri, niteni karakter penulisan aksaranya. Ini seru. Tenin!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berurusan dengan arsip ini tak ubahnya bermesraan dengan masa lalu. Berkawan dengan debu masa lalu, literally. Ya gimana, kadang arsipnya begitu berdebu dan masir, bahkan ada yang kondisinya sudah koyak, jadi serpihan-serpihan masa lalu. Kadang juga nemu fosil serangga entah apa yang nempel di kertas arsip. Amazing~ Kudu hati-hati banget memperlakukan arsip-arsip ini. Dipegang alon-alon, dibuka lembar per lembar dengan lemah-lembut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Emang isi arsipnya apa? Berhubung ini arsip \u201cnegara\u201d, jadi saya nggak bisa spill detail isinya. Kategori arsip berdasar isinya ini juga ada banyak. Yaaa ada soal ekonomi sampai hukum juga. Begitu kira-kira. Selalu ada hal baru setiap hari di sepanjang dua tahun saya berteman dengan arsip-arsip ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya, selain berkawan dengan arsip, saya juga (dipaksa) belajar untuk meratapi nasib.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apresiasi tinggal mimpi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengolah, merawat, berkas-berkas bersejarah ini saya rasa mirip seperti <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Arkeologi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">arkeolog.<\/a> Bedanya, mengolah arsip yang dipegang ya kertas-kertas rapuh berdebu. Nggak ada romantisme pegang-pegang arca, terus diisik-isik, disikat pakai kuas halus dll. Tapi tetep, bagi saya, profesi saya sekarang ini juga nggak kalah romantis dari arkeolog.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat orang kasmaran, jatuh cinta, merasakan betapa romantisnya hubungan saya dengan arsip-arsip kuno ini, saya jadi abai dengan logika. Sama tidak logisnya dengan para guru honorer yang diupah sak encrit untuk effort-nya yang gede-gedean. Saya bisa bilang begitu karena memang upahnya UMR alias under minimum region.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, jumlah upah sudah jadi kesepakatan sejak awal melamar kerja. Saya nggak masalah, yang penting saya suka, enjoy, dan ada pemasukan rutin. Tapi gimana nih kalau yang under tadi tidak diberikan tepat waktu? Saya mau pakai jurus mendang-mending. Mendingan jika sudah wayahe dibayarkan haknya, ya segera ditunaikan wkwkwk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesederhana ungkapan &#8220;Bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya&#8221;. Sudah tiba waktunya ya ditunaikan. Kalau belum sanggup menunaikan tepat waktu, ya baiknya ada komunikasi dari awal. Jadi bisa buat bahan pertimbangan, yay or nay. Lebih ke nay sih kalau terlambat diberi upahnya sampai hampir dua bulan. Untung ya, upah bulan kemarin sudah dibayar. Jadi agak plong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin saya mengelus dada ya selalu saja ada alasan atas terlambatnya upah turun. Kadang juga yang disalahin saya, kami ini yang cuma tenaga harian lepas, telat ngumpulin laporan bulanan sama presensi. Ya udah lah ya, toh kami nggak bisa apa-apa.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pengolah arsip atau pengusung arsip?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga momen yang bikin saya kadang meragukan profesi pengolah arsip ini. Soalnya, saya beberapa kali mengerjakan hal yang\u2014jujur saja\u2014aneh dan tidak seharusnya saya kerjakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti gotong-gotong kardus arsip dari satu gedung ke gedung lain. Ikut angkat-angkat lemari, meja, dll. Sik, iki ra mlebu jobdesc, sluuurr. Di awal rekruitmen tidak ada penjelasan jobdesc seperti itu. Mana sebagian besar dari kami adalah perempuan, yang secara tenaga nggak seprima laki-laki, kalau disuruh usung-usung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kita ini kerja apa dikerjain sih?&#8221; celetuk salah satu rekan kerja saya. Kami hanya bisa tersenyum getir. Saya cuma bisa berharap, profesi yang saya gemari ini bisa terus saya tekuni, tanpa ada drama menunggu upah kerja yang tak kunjung ada kejelasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kayak kuda, sebelum disuruh lari atau nggeret kereta kan dikasih suket dulu ya. Lha saya dikasih apa? Dikasihani?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Amalia Nurul Fathonaty<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-tempat-arsip-sumber-sumber-primer-selain-anri-buat-skripsian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rekomendasi Tempat Arsip Sumber-sumber Primer selain ANRI buat Skripsian<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ya kadang ngolah arsip, kadang yo usung-usung.<\/p>\n","protected":false},"author":2325,"featured_media":235574,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[17265,18468,72,20799],"class_list":["post-235256","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-definisi","tag-lika-liku","tag-pekerjaan","tag-pengolah-arsip"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/235256","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2325"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=235256"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/235256\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/235574"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=235256"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=235256"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=235256"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}