{"id":234805,"date":"2023-09-22T09:50:34","date_gmt":"2023-09-22T02:50:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=234805"},"modified":"2023-09-22T09:30:25","modified_gmt":"2023-09-22T02:30:25","slug":"kosakata-bahasa-bali-sehari-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-bahasa-bali-sehari-hari\/","title":{"rendered":"25 Kosakata Bahasa Bali yang Biasa Digunakan Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p><em>Kosakata bahasa Bali yang bisa kamu pakai saat liburan ke Pulau Dewata, nih.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah bukan rahasia lagi bila Bali menjadi salah satu tujuan favorit untuk traveling bagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/wisatawan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisatawan<\/a> asing maupun domestik. Ada banyak destinasi wisata menarik dan kebudayaan masyarakat Bali yang mampu menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke sana. Buat kamu yang ingin mengunjungi Bali, nggak ada salahnya belajar bahasa Bali supaya makin akrab dengan orang Bali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, pada kesempatan kali ini, saya sudah merangkum beberapa kosakata bahasa Bali sehari-hari yang bisa dipelajari dan diharapkan dapat berguna buat kamu jika suatu saat berkesempatan mengunjungi pulau seribu pura ini. Berikut beberapa di antaranya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Rahajeng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata bahasa Bali yang biasa digunakan sehari-hari adalah rahajeng. Rahajeng berarti selamat. Kamu bisa menggunakan kata ini ketika akan menyapa orang. Misalnya, rahajeng semeng artinya selamat pagi, rahajeng tengai artinya selamat siang, rahajeng sore artinya selamat sore, dan rahajeng wengi artinya selamat malam.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Om swastyastu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Om swastyastu merupakan salam pembuka.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Wastan titiang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mengucapkan salam, kamu bisa memperkenalkan diri. Dalam bahasa Bali, wastan titiang berarti nama saya. Contoh: wastan titiang Dewi (nama saya Dewi).\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Bli\/Mbok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata bahasa Bali selanjutnya yang biasa digunakan sehari-hari adalah bli dan mbok. Jika berada di Bali, kamu dapat menyapa lawan bicaramu dengan sebutan bli untuk laki-laki dan mbok untuk perempuan. Ini mirip dengan panggilan mas dan mbak di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu ingin menyapa seorang laki-laki bernama Made, gunakan Bli Made. Sementara kalau kamu ingin menyapa perempuan bernama Putu, gunakan Mbok Putu.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Numbas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ingin berbelanja, kamu bisa menggunakan kata numbas yang berarti beli. Contoh: titiang pacang numbas nasi lawar asiki (saya ingin membeli satu porsi nasi lawar).<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Aji kuda niki<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata bahasa Bali ini bisa digunakan jika ingin bertanya harga suatu barang. Aji kuda niki berarti berapa harganya ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Jaen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya enak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Matur suksma<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Matur suksma artinya terima kasih. Kamu juga bisa menyingkatnya jadi suksma saja. Jangan lupa katakan ini setelah mendapat bantuan dari orang lain di Bali, ya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Rauh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata bahasa Bali satu ini mirip dengan bahasa Jawa. Rauh memiliki arti datang, tiba, atau sampai. Kata rauh memang dipengaruhi bahasa Jawa dan sama-sama masuk dalam tingkatan bahasa yang tergolong halus. Contoh: titiang wau pisan rauh saking <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a> (saya baru datang dari Jakarta)<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Melali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melali digunakan untuk mengajak atau bertanya pada seseorang hendak jalan-jalan ke mana. Kosakata ini sendiri memiliki arti jalan-jalan atau main. Contoh: jagi melali kija? (mau jalan-jalan ke mana?).<\/span><\/p>\n<h2><b>#11 Ngajeng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngajeng artinya makan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#12 Pasih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasih berarti pantai.<\/span><\/p>\n<h2><b>#13 Kuang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya kurang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#14 Kenken kabare<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bahasa Bali, kenken kabare berarti apa kabar. Kamu bisa menjawab pertanyaan ini menggunakan becik-becik yang artinya baik-baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>#15 Ngudiang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngudiang berarti lagi ngapain. Kosakata bahasa Bali satu ini bisa kamu gunakan untuk berbasa-basi dengan teman.<\/span><\/p>\n<h2><b>#16 Dija<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memiliki arti di mana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#17 Metaken<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Metaken berarti bertanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#18 Mangkin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memiliki arti sekarang. Kosakata bahasa Bali satu ini digunakan untuk mengatakan waktu saat ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#19 Mepamit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya pulang. Digunakan saat ingin pamit pulang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#20 Durung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Durung berarti belum. Kosakata bahasa Bali ini mirip dengan bahasa Jawa, ya?<\/span><\/p>\n<h2><b>#21 Ampura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ampura artinya mohon maaf.<\/span><\/p>\n<h2><b>#22 Luas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Luas merupakan kata kerja yang memiliki arti pergi. Contoh: tiang luas ka<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Surabaya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Surabaya<\/a> (saya pergi ke Surabaya).<\/span><\/p>\n<h2><b>#23 Ten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memiliki arti tidak. Kamu bisa menggunakan kosakata bahasa Bali ini untuk menolak sesuatu atau mengatakan tidak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#24 Semeton<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berarti saudara atau warga Bali.<\/span><\/p>\n<h2><b>#25 Pipis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan bahasa Indonesia yang berarti kencing, pipis dalam bahasa Bali berarti uang. Contoh: tiang ngidih pipis (saya minta uang).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segini dulu ya kosakata bahasa Bali yang biasa digunakan sehari-hari. Setelah mengetahui kosakata di atas, langkah selanjutnya adalah mempraktikannya. Kalau kamu mau tahu lebih banyak tentang Bali, yuk agendakan untuk main ke Pulau Dewata! Ayuh!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ni Putu Roshinta Dewi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/13-kosakata-bahasa-bali-yang-mirip-bahasa-di-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">13 Kosakata Bahasa Bali yang Mirip Bahasa di Jawa<\/a>.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biar bisa cas cis cus saat diajak ngomong sama orang Bali, coba hafalin dulu kosakata berikut.<\/p>\n","protected":false},"author":1615,"featured_media":234826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17568,9507,14669],"class_list":["post-234805","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-bali","tag-bali","tag-kamus-terminal"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234805","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=234805"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234805\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/234826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=234805"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=234805"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=234805"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}