{"id":234058,"date":"2023-09-16T15:01:36","date_gmt":"2023-09-16T08:01:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=234058"},"modified":"2023-09-16T15:01:36","modified_gmt":"2023-09-16T08:01:36","slug":"tak-ada-lagi-carok-di-madura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-ada-lagi-carok-di-madura\/","title":{"rendered":"Tak Ada Lagi Carok di Madura, Kalau Ada yang Bilang Masih Ada, Itu Jelas Bohong!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adakah di antara kalian yang beranggapan kalo carok itu masih eksis di Madura? Kalo ada, sebaiknya dari sekarang buang jauh-jauh anggapan itu. Ini saran langsung dari saya, orang Madura tulen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah, bukannya carok itu emang tradisi orang Madura ya, kenapa kok disuruh ngilangin anggapan itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya tahu kalo carok emang tradisi orang Madura waktu dulu. Saya ulangi, waktu dulu. Saking dulunya, saya sampai menganggap bahwa tradisi carok hanya ada dalam cerita saja, tapi nggak pernah ada di kehidupan nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar, kalo emang udah nggak ada, terus kenapa kata itu masih sering disebut-sebut sama orang Madura sendiri? Nggak dapat dimungkiri juga kan, ketika ada foto atau video pembunuhan di Madura pasti selalu ada narasi carok di sana. Gimana coba?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk pertanyaan ini, saya nggak menafikan kebenarannya. Namun bukan berarti saya menyepakati kalo tradisi carok masih ada. Itu salah kaprah sebagian orang Madura saja. Masak iya saya sepakat dengan salah kaprah. Salah kaprah itu dilurusin, bukan disepakatin.<\/span><\/p>\n<h2><b>Salah kaprah yang dipelihara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam tulisan ini, saya nggak mau ngewanti-wanti orang luar Madura untuk menghilangkan salah kaprah tentang carok. Saya hanya memberi saran. Diterima atau nggak itu urusan nanti. Yang penting untuk saya tuliskan kali ini yaitu bagaimana orang Madura sendiri bisa menghilangkan salah kaprahnya tentang carok. Itu dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, saya sering dibuat bingung oleh tingkah orang Madura ketika dikit-dikit kata carok keluar dari mereka. Emosi dikit, carok. Ada pembunuhan secara tiba-tiba, carok. Perkelahian pakek sajam, carok. Seakan carok dijadiin produk mulut paling laris dan konsumsi kuping yang nggak habis-habis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini yang saya maksud salah kaprah. Pada dasarnya carok bukan hanya sekadar kelahi atau ngebunuh orang pakek sajam, melainkan sebuah peristiwa sakral yang tentu punya aturan!<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesakralan yang orang nggak tahu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, penyebab dari terjadinya carok udah nggak asing lagi didengar. Yap betul, demi mempertahankan harga diri dengan berduel secara kesatria satu lawan satu menggunakan celurit. Namun perlu diingat, jalan ini dapat ditempuh ketika udah nggak menemukan solusi dengan cara kekeluargaan lagi. Dalam tanda kutip, duel ini adalah jalan paling akhir untuk menyelesaikan masalah yang menyenggol harga diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak cuma sekadar berduel secara kesatria menggunakan celurit. Ada syarat nggak tertulis yang harus dilakukan sebelum terjadinya duel itu sendiri. Seperti, meminta restu dan harus direstui sama keluarga. Sebab orang yang akan menempuh jalan ini, udah tentu sadar kalo di antara mereka nantinya akan ada yang meregang nyawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, mereka akan menentukan tempat dan waktu, kapan mereka bertemu untuk menentukan siapa di antara mereka yang masih layak dipelihara Tuhan. Pernah saya dengar dari salah seorang mantan <a href=\"https:\/\/kyotoreview.org\/issue-11\/social-origin-dan-politik-kuasa-blater-di-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Blater<\/a> di rumah, bahwa orang yang berangkat menempuh jalan carok ini biasanya akan berpesan terlebih dulu. Pesannya cukup membuat bulu kuduk merinding.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJika jam 2 saya tak pulang, berarti saya sudah mati, jemput mayat saya di tempat ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah proses yang perlu dijalani terlebih dahulu untuk bisa menamai sebuah peristiwa dengan carok.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak ada lagi carok di Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, serangkaian proses di atas itulah yang menjadi pembeda antara carok dan pembunuhan biasa. Lalu yang menjadi pertanyaan, masihkah proses itu dijalankan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan tegas saya akan berkata, nggak! Dan saya yakin orang Madura kebanyakan akan memiliki jawaban yang sama, karena emang gitu kenyataannya. Terkait masih adanya penyematan kata tersebut, itu beda lagi. Udah saya jelaskan kan, kalo itu merupakan bentuk salah kaprah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini orang Madura itu biasa menyematkan suatu hal karena menurut gampang mereka untuk menyebutkannya. Kata carok dirasa gampang disebutkan untuk semua perkelahian atau pembunuhan yang menggunakan sajam. Sama halnya kata Soklin, nama merek sabun cuci yang berlaku untuk semua merek sabun cuci yang lain. Alasannya? Ya karena lebih gampang aja nyebutinnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sampai sini mungkin udah dapat dipahami, kalo pada kenyataannya carok itu udah nggak ada lagi di Madura. Adanya cuma salah kaprah yang dibiasakan. Dan saya sadar untuk mengubah kebiasaan yang udah lama mengakar ini sesusah nahan buang air besar saat mencret.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Faris Al Farisi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meluruskan-pandangan-tentang-carok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Meluruskan Pandangan tentang Carok: Sisi Humanis di Balik Tindakan yang Dianggap Sadis<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada dasarnya carok di Madura bukan hanya kelahi atau ngebunuh orang pakek sajam, melainkan sebuah peristiwa sakral yang tentu punya aturan!<\/p>\n","protected":false},"author":2061,"featured_media":214869,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[20661,3288,5020,1243],"class_list":["post-234058","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-berita-bohong","tag-carok","tag-madura","tag-salah-kaprah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234058","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2061"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=234058"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234058\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/214869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=234058"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=234058"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=234058"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}