{"id":233072,"date":"2023-09-09T09:37:55","date_gmt":"2023-09-09T02:37:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=233072"},"modified":"2023-09-10T06:12:25","modified_gmt":"2023-09-09T23:12:25","slug":"susahnya-jadi-anak-kabupaten-lamongan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susahnya-jadi-anak-kabupaten-lamongan\/","title":{"rendered":"Susahnya Menjadi Anak Kabupaten Lamongan: Bikin Iri sama Anak Surabaya, Malang, dan Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEffort banget ya jadi anak kabupaten.\u201d Begitu kira-kira pesan singkat seorang teman setelah tahu kalau saya ini habis nonton konser di Surabaya. Fyi, saya tinggal di Kabupaten Lamongan. Dan jarak ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-semarang-superior-malang-remahan-peyek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surabaya<\/a> sekitar 3 jam perjalanan darat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih tersinggung, saya malah baru sadar betapa susahnya nyari hiburan di daerah sendiri. Sebab, urusan nonton konser saja harus berjuang menempuh 3 jam perjalanan. Itu baru berangkatnya saja. Kalau sekalian pulang, totalnya 6 jam perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maklum, saya tinggal di kabupaten yang jarang ada event besar semacam konser. Kalau ada, lebih mirip panggung rakyat dengan skala kecil dan mungil. Bintang tamunya local pride banget. Beda kalau di kota besar. Tiap bulan pasti ada event yang seru. Entah festival, konser, pameran, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perbedaan Kabupaten Lamongan dengan daerah lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa mengatakan demikian karena sempat merantau 4 tahun di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/maba-um-universitas-negeri-malang-capek-disuruh-duduk-berjam-jam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malang<\/a> dan 2 tahun di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-warung-nasi-rames-jogja-yang-melegenda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>. Sehingga saya bisa membandingkan kesenjangan antara kota besar dengan kabupaten sendiri. Boro-boro ada konser, GrabFood saja belum sampai sini, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain infrastruktur, hiburan di Kabupaten Lamongan memang minim. Bayangin, tidak ada toko buku di sini. Mungkin ada, tapi semacam buku-buku bekas, pelajaran sekolah, atau buku-buku ngaji. Mau cari Gramedia atau Togamas? Bersiaplah untuk kecewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk orang yang suka hedon, mohon maaf, di sini nggak ada mall. Paling mentok, ya, plaza. Dan percayalah, jumlah ruko yang kosong lebih banyak ketimbang yang terisi. Semacam slogan \u201chidup segan, mati tak mau.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, iya, jangan membayangkan kalau plaza ini ukurannya gede. Mungkin nggak jauh beda dengan Mirota di Jogja atau Sardo di Malang. Lebih gede dikit, lah. Karena itu, buat yang mampir ke kabupaten, khususnya Lamongan, nggak usah ngarep mau cari Pizza Hut atau McD.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/susahnya-jadi-anak-kabupaten-lamongan\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Susah menjadi anak kabupaten, hiburannya aneh pula.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Ngidam hiburan? Kudu ke daerah lain!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus kalau memang ngidam gimana? Tentu saja harus keluar daerah. Paling dekat, ya ke Gresik, yang jarak tempuhnya sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau cari kafe dengan konsep CoWorking space kayak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minuman-starbucks-yang-jarang-dipesan-padahal-rasanya-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Starbuck<\/a>? Yah, harapan yang terlalu tinggi ini. Sebab, kebanyakan kafe di sini konsepnya full tawa. Sangat jarang ada kafe dengan nuansa tidak berisik. Kalau ada, bakal jadi \u201csarang\u201d orang pacaran (baca: mesum). Duh, angelll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, tapi di Lamongan kota, ada kok kafe yang estetis.\u201d Memang ada, sih. Tapi jumlahnya nggak banyak. Itu saja hanya ada di sekitar sana saja. Fyi, di daerah kami, penyebutan daerah pusat kabupaten adalah Lamongan kota. Meski saya lebih suka menyebutnya Lamongan Pusat. Sebab, sangat jauh dari definisi kota. No debat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, iya, sebenarnya, di Kabupaten Lamongan ada beberapa pantai yang cukup punya potensi. Tapi, mungkin karena tidak ada dana lebih untuk mengelola, alhasil pantainya biasa saja. Ini mungkin lho, ya. Sebab, pantai di sini sangat bersahabat dengan sampah, jadi terkesan kotor. Padahal harusnya bagus, lho.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bikin saya iri dengan daerah lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, saya memang iri dengan kota-kota besar yang dikelola dengan baik. Yah, meski ada sisi abu-abu, tapi paling tidak tinggal di kota nggak akan kesusahan mencari hiburan. <a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/citizen6\/read\/3894943\/8-tempat-menangis-terbaik-di-jogja-versi-netizen-cocok-buat-yang-galau\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Misal orang Jogja. Minimal, mereka ini bisa keliling ringroad kalau bosan dan galau<\/a>. Nah, kami nggak bisa. Sebab, kondisi jalan di kabupaten ini untuk ukuran jelek saja masih belum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, saking jarangnya, jalan mulus di Kabupaten Lamongan itu cuma mitos. Saya sempat menulisnya di Terminal Mojok, kok. Maka dari itu, solusi rasional kalau pengin cari hiburan, ya keluar daerah. Melipir sebentar. Kemudian kembali lagi dengan melewati jalan-jalan yang bergelombang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang nggak mau keluar daerah, satu-satunya hiburan paling realistis adalah maido atau rasan-rasan (baca: bergunjing). Sudah, itu saja.. Standar kebahagiaan anak kabupaten emang receh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hiburan yang memang aneh khas Kabupaten Lamongan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan akhir-akhir ini kami punya hiburan baru, atau lebih tepatnya bahan baru buat rasan-rasan. Yakni, foto bupati kami yang cukup mentereng di berbagai acara-acara desa dan kecamatan. Foto tersebut selalu didesain dengan ukuran yang lebih besar ketimbang nama acaranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan kemarin ketika diadakan bupati cup untuk cabang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-sepatu-futsal-ortuseight-lebih-baik-dibanding-specs\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">futsal<\/a>, desain photo booth ini 70% adalah wajah bupati. Yah, lebih mirip foto profil, sih, sebenernya. Oke, saya paham memang ini bupati cup, tapi apa harus banget pasang foto bupati dengan ukuran ugal-ugalan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, bupati kami ini memang rajin sekali mengunjungi acara-acara desa dan kecamatan. Mengisi sambutan di sana, serta menyapa warga sekitar. Beliau ini biasanya datang lengkap dengan tim dokumentasinya guna diunggah di sosial media.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak tahu kenapa beliau ini lebih rajin melakukan kunjungan ke acara yang dampaknya jangka pendek, ketimbang membuat proyek jangka panjang untuk kesejahteraan warga Kabupaten Lamongan. Tapi saya menduga hal ini diniatkan untuk hiburan rasan-rasan warga sekitar. Sungguh mulia sekali niat beliau ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir kata, saya selalu berharap Kabupaten Lamongan ini dikelola dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Sebab, ada banyak potensi yang bisa dikembangkan. Mulai dari dari wisata alam sampai sejarah. Tentu saja dengan catatan memang mau mengembangkan. Yah, semoga saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mencoba-berprasangka-baik-terhadap-gelapnya-jalan-raya-pantura-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mencoba Berprasangka Baik terhadap Gelapnya Jalan Raya Pantura Lamongan<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya selalu berharap Kabupaten Lamongan dikelola sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Sebab, ada banyak potensi yang bisa dikembangkan.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":233080,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2501,115,20552,2250,20553,985,405],"class_list":["post-233072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jawa-timur","tag-jogja","tag-kabupaten-lamongan","tag-lamongan","tag-lamongan-kota","tag-malang","tag-surabaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=233072"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/233072\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/233080"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=233072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=233072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=233072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}