{"id":232946,"date":"2023-09-08T14:30:27","date_gmt":"2023-09-08T07:30:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=232946"},"modified":"2023-09-08T14:30:27","modified_gmt":"2023-09-08T07:30:27","slug":"dialek-semarang-yang-wajib-dipahami-agar-nggak-bingung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dialek-semarang-yang-wajib-dipahami-agar-nggak-bingung\/","title":{"rendered":"5 Contoh Dialek Semarang yang Bisa Kalian Pelajari agar Taunya Nggak Cuma Dialek Jawa Timur Aja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang, tak bisa dimungkiri, memang kota yang amat unik. Ibu Kota Jawa Tengah ini punya banyak hal yang amat menarik, dan tak pernah habis digali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita bisa bicara tempat wisata, kuliner, dan mungkin tentang banjir yang kerap melanda. Selain hal tersebut, kita juga bisa bicara dialek Semarang, beberapa orang menyebutnya dengan Semarangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara keterkenalan, sebenarnya dialek Semarang itu nggak kalah sama Jawa Timuran yang dialeknya udah terkenal banget. Di Jawa Timur, dialeknya bersifat kasar dan keras, nah kalau di Semarang cenderung lebih halus, tapi sama kerasnya. Intinya Semarang juga punya dialek yang nggak kalah mbois.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa saja contoh dialek Semarangan? Nih saya kasih contohnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hooh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama ada hooh, kata ini sering diucapkan warga Semarang. Hooh artinya \u201ciya\u201d. Sehari-hari pun mereka selalu ngucapin ini, nggak boleh ketinggalan. \u201cHooh aku meh metu\u201d, \u201chooh wis meh sore iki\u201d, begitulah kira-kira contoh kata ini diterapin. Tapi jangan pakai kata ini dengan yang lebih tua ya, soalnya nggak sopan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hooh dalam tingkatan bahasa Jawa termasuk banasa yang bisa digunain hanya ke sesama usia, bukan ke yang dihormati atau yang lebih tua. Nah kalau mau pake ke yang lebih tua pakai kata nggih akan jauh lebih sopan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tambahan akhiran \u201c-ik\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang hafal dengan kebiasaan dialek Semarang? Pastinya udah nggak asing dengar kata ik yang diucapkan di akhir kalimat. Saya pribadi juga nggak tahu, gimana awal \u201c-ik\u201d ini digunakan. Tapi ya saya ikut-ikutan aja. Iyo ik, hooh ik kalimat-kalimat itu sering terucap dari mereka. \u201c-Ik\u201d yang terlihat praktis itu memang khas Semarang banget. Selain ik ada juga ok yang turut digunakan di akhir kalimat, \u201cora og\u201d. Terdengar lucu dan unik ya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Meh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dialek Semarang lainnya yaitu meh, yang bisa diartikan mau atau hampir. Padahal ya, ada arep, ameh, tetap saja lebih enak kalau tinggal ngomong meh. Nggak heran, ibu-ibu di sini tinggal ngomong \u201cAku meh nyang pasar\u201d yang artinya aku mau ke pasar. Pakai kata meh atau ameh selain lebih praktis juga efisien waktu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sapaan Ndes<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Jawa Timur nyapa biasa cak-cuk, nah kalau di Semarang biasanya pakai ndes. Ndes yang awalnya dari kata gondes ini akhirnya digunakan sebagai sapaan khas Semarang. Pemakaian sapaan ini ditujukan ke temen dekat aja ya. Jangan ke teman yang belum dekat banget, bisa-bisa mereka kesinggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat ngingetin temanmu kalau belum bayar utang juga bisa. Misal, \u201cUtangmu wis kok bayar rung ndes?\u201d Yakin deh, kalau ngingetinnya beitu, temanmu nggak bakal kesinggung.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Mboh atau mbuh<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi males ngomong kamu juga bisa bales ucapan temanmu dengan males-malesan loh. Pakai kata mboh, yang berarti nggak tahu. Mboh ini sebagai balasan pas ditanya temanmu tapi nggak tahu jawabannya. \u201cWarung cedak kene ngendi yo?\u201d Tinggal bales aja \u201cMboh ra ngerti\u201d. Ini sepertinya bisa mewakili kalau pas ditanya ayangmu mau makan apa, tinggal bilang Mbuh. Intinya mbuh adalah kata terserahnya Semarangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya \u201cmbuh\u201d, \u201chooh\u201d, dan \u201cmeh\u201d ini nggak cuman Semarang yang pakai sih, secara kebanyakan banyak tempat di Jateng juga pakai kata-kata tersebut. Misal, di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Surakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Surakarta<\/a> juga banyak yang pakai. Tapi entah kenapa, logat Semarang mengucapkan ini rasanya beda dengan kalau orang Solo yang bilang. Nggak masuk dialek ya? Yaudah deh ngapapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah contoh dialek Semarang. Pakai itu pas lagi di Semarang biar dikira warga lokal ya hihi. Selain singkat dan lebih efisien, bahasanya juga seru. Tapi itu hanya berupa bahasa tuturan ya bukan bahasa tulis yang tertulis. Kalau tulis ya beda ceritanya lagi, Ndes!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Wulan Maulina<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selamat-tinggal-bekasi-ternyata-semarang-lebih-indah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Selamat Tinggal Bekasi, Ternyata Semarang Lebih Indah untuk Ditinggali<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkara keterkenalan, sebenarnya dialek Semarang itu nggak kalah sama Jawa Timuran yang dialeknya udah terkenal banget.<\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":212166,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[725,20533,4652],"class_list":["post-232946","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-dialek","tag-ndes","tag-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/232946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=232946"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/232946\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/212166"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=232946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=232946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=232946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}