{"id":232577,"date":"2023-09-05T09:59:26","date_gmt":"2023-09-05T02:59:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=232577"},"modified":"2023-09-05T14:46:45","modified_gmt":"2023-09-05T07:46:45","slug":"kediri-mengubah-slogan-adalah-sebuah-kesalahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-mengubah-slogan-adalah-sebuah-kesalahan\/","title":{"rendered":"Mengubah Slogan \u201cKediri Lagi\u201d Menjadi \u201cKediri Berbudaya\u201d Adalah Blunder Pemkab. Milih Slogan, kok, Nggak Punya Keunikan!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah melakukan branding untuk kota atau suatu daerah memang hal yang wajar. Kebijakan seperti itu merupakan usaha untuk menunjukkan kekhasan serta identitas. Belum lama ini, pemerintah Kediri juga melakukan branding. Namun, sayangnya, menurut saya, kebijakan tersebut adalah sebuah kesalahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemkab sendiri pernah membuat slogan yang menurut saya unik, yaitu \u201cKediri Lagi\u201d. Slogan tersebut lahir pada pemerintahan Hj. Haryanti Sutrisno (2015). Hj. Haryanti memulih slogan tersebut karena memiliki makna menarik wisatawan atau siapa saja yang pernah singgah ke sini untuk datang lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, pada Maret 2023, Mas Bupati, Hanindhito Himawan Pramono, mengubah slogan menjadi \u201cKediri Berbudaya\u201d. Perubahan itu dilakukan secara resmi dalam acara Launching Destination Branding yang bertempat di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-bukan-hanya-tentang-simpang-lima-gumul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Monumen Simpang Lima Gumul<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bupati yang akrab disapa Mas Dhito ini mengungkapkan alasannya. Katanya, slogan \u201cKediri Berbudaya\u201d menggambarkan sebuah kabupaten yang memiliki kekayaan budaya. Hal itu didasari dari banyaknya peninggalan sejarah, kurang lebih 509 peninggalan sejarah berupa situs dan arca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, mengubah slogan ini baik adanya. Bahkan Mas Dhito sudah memberi bukti. Mulai dari meresmikan pakaian khas Ken dan Wdihan hingga merawat situs-situs bersejarah. Namun, mohon maaf sebelumnya, sebagai warga saya masih merasa berat dengan perubahan slogan tersebut. Saya merasa lebih cocok dengan slogan \u201cKediri Lagi\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Slogan \u201cKediri Berbudaya\u201d terlalu mainstream dan nggak unik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomongin slogan, artinya ngomongin makna simbolik sebuah kata. Bagi saya, slogan \u201cKediri Berbudaya\u201d itu terlalu mainstream dan tidak mencirikan kekhasan budaya yang spesifik. Kata \u201cberbudaya\u201d sudah terlalu umum sehingga tidak memunculkan keunikan. Selain itu, makna dari \u201ckebudayaan\u201d terlalu luas sehingga tidak menunjukkan kekhasan dari daerah sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-mengubah-slogan-adalah-sebuah-kesalahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Slogan akan lebih menarik jika membawa kata yang spesifik&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, idealnya, slogan akan lebih menarik minat orang jika membawa kata yang spesifik. Sehingga terdengar unik dan menggambarkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rindu-jogja-karena-di-kediri-tidak-ada-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ciri khas suatu daerah<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tidak membawa ciri kekhasan yang spesifik, tagline \u201cKediri Lagi\u201d lebih memiliki keunikan dari segi bahasa. Kata \u201clagi\u201d memiliki keunikan, sebab jarang ada yang menggunakannya untuk branding tempat tujuan wisata. Selain itu, kata \u201clagi\u201d juga mengandung makna ajakan kepada wisatawan agar kembali lagi mengunjungi Kediri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Slogan lama telanjur akrab di telinga banyak orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, slogan \u201cKediri Lagi\u201d itu sudah sangat akrab di telinga warga sendiri atau pendatang. Orang-orang luar juga telah terbiasa dan lebih enak mengucapkan \u201cAyo, Kediri lagi\u201d saat mengajak berkunjung ke sini untuk kedua atau ketiga kalinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, slogan yang lama juga sudah menancap betul di kabupaten ini. Sosialisasi lewat media sosial, kegiatan pemerintah, sampai berdirinya tugu Kediri Lagi di Simpang Lima Gumul sukses menguatkan slogan yang lama. Oleh sebab itu, sangat eman-eman bila <a href=\"https:\/\/biz.kompas.com\/read\/2023\/03\/26\/104648728\/kediri-berbudaya-jadi-tagline-destination-branding-baru-kabupaten-kediri#:~:text=%E2%80%9CTagline%20destination%20branding%20yang%20semula,menjelaskan%20alasan%20penggantian%20tagline%20tersebut.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">slogan yang sudah unik malah diganti<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Shelfin Bima Prakosa<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-pahing-kediri-pasar-tertua-dan-spot-kulineran-di-kediri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan-jalan ke Pasar Pahing Kediri, Pasar Tertua dan Spot Kulineran di Kediri<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai warga asli, saya merasa perubahan slogan dari &#8220;Kediri Lagi&#8221; menjadi &#8220;Kediri Berbudaya&#8221; adalah sebuah kesalahan dari pemkab.<\/p>\n","protected":false},"author":2163,"featured_media":232617,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2501,20486,6470,20489,20488,20485,6739,20487],"class_list":["post-232577","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-jawa-timur","tag-kabupaten-kediri","tag-kediri","tag-kediri-berbudaya","tag-kediri-lagi","tag-pemkab-kediri","tag-simpang-lima-gumul","tag-slogan-kediri"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/232577","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2163"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=232577"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/232577\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/232617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=232577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=232577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=232577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}