{"id":2308,"date":"2019-05-27T20:00:51","date_gmt":"2019-05-27T13:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2308"},"modified":"2021-10-05T13:27:05","modified_gmt":"2021-10-05T06:27:05","slug":"keuntungan-naik-bis-bersama-ibu-ibu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keuntungan-naik-bis-bersama-ibu-ibu\/","title":{"rendered":"Keuntungan Naik Bis Bersama Ibu-Ibu"},"content":{"rendered":"<p>Setiap kali hendak ke Yogyakarta, saya harus pergi ke Terminal Boyolali terlebih dahulu. Lalu ke Solo dan naik kereta ke Yogyakarta. Untuk sampai ke Terminal Boyolali, saya mesti naik bis dari Pasar Cepogo.<br \/>\nBis itu kecil dan biasanya bertuliskan &#8220;Duta Sayur&#8221; atau &#8220;Sayur Gunung&#8221;. Biasanya digunakan untuk mengantar ibu-ibu dari Selo ke Cepogo dan Cepogo <a href=\"https:\/\/mojok.co\/sua\/esai\/lahir-di-boyolali-tapi-ngaku-asli-solo\/\">ke Boyolali atau sebaliknya<\/a>. Pokoknya untuk mengantar ibu-ibu pasar guna jual beli hasil tanam.<br \/>\nBerada dalam bis yang sama dengan ibu-ibu itu menjadi cerita tersendiri bagi saya. Ada beberapa hal yang saya rasa menjadi keuntungan bagi penumpang. Berikut ini saya tuliskan beberapa di antaranya. Cekidot~<\/p>\n<p><strong>1. Bis berjalan dengan santuy<\/strong><br \/>\nSaya termasuk orang yang tidak suka kebut-kebutan. Mau itu sepeda <em>onthel<\/em>, motor, mobil, truk, ataupun bis. Jadi, saya tidak suka kalau disuruh naik bis Sumber Kencana yang kesetanan itu. Mau sih, tapi tidak suka aja. Lah saya ini kagetan. Bisa-bisa nanti jantungan. <em>Amsyong dong~<\/em><br \/>\nUntungnya, bis pasar kecil ini memuat ibu-ibu\u2014yang sebagian besar sudah berumur. Jadi ya, sopirnya nancap gas tipis-tipis saja. Selaju dengan jalan kaki ibu-ibu di karnaval desa\u2014<em>santuy<\/em> tiada terkira.<br \/>\nDengan laju seperti itu, saya bisa dengan nikmat memandangi jalanan. Pohon-pohon di kiri-kanan jalan\u2014yang seperti kilatan ingatan\u2014melintas begitu bersahaja\u2014pelan-pelan saja. Kalau begini kan, saya bisa leluasa mengingat momen-momen bersamanya.<br \/>\nMenyenangkannya lagi, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/bus-listrik-siap-menyapa-jakarta-apa-plus-minusnya-dkWu\">perjalanan bis<\/a> kecil ini biasanya pagi hari\u2014perjalanan dari Barat ke Timur. Ditambah, letak geografis Cepogo lebih tinggi dari Boyolali. Jadi bisa kamu bayangkan, betapa indah pemandangan.<\/p>\n<p><strong>2. Pertunjukan story telling<\/strong><br \/>\nLaju bis yang nyaman buat ibu-ibu membuat mereka leluasa untuk bercerita. Saya suka memperhatikannya dengan seksama. Setiap ibu akan bergilir untuk bercerita. Meski terkadang <em>chaos<\/em> dan tumpang-tindih, semua mendapat bagiannya masing-masing. Biasanya yang tujuannya lebih dekat, bercerita lebih dulu.<br \/>\nFenomena saling cerita seperti ini saya sebut sebagai pertunjukan s<em>tory telling<\/em>. Sebab dari setiap ibu, saya mendapat cerita yang berbeda. Entah cerita tentang anak-anaknya atau terkadang tetangga-tetangganya.<br \/>\nMungkin memang lebih tepat disebut gosip sih. Tapi kan nanti gak jadi keuntungan. Makanya saya bahasakan dengan <em>story telling<\/em>\u2014bak sebuah pertunjukan.<br \/>\nSelain alasan tidak mutu ini, kalau diperhatikan cara ibu-ibu bercerita mirip dengan pementasan drama. Satu ibu bercerita sambil duduk, tapi gestur tubuh dan mimik wajahnya ikut berbicara. Ibu-ibu lain menyimak dan sesekali menimpali. Setiap melihat ini, saya ingat penghancuran dinding ke empat (<em>breaking the fourth wall<\/em>) dalam pentas drama.<br \/>\nSaya membayangkan, ibu-ibu ini benar-benar sedang pentas di dalam sebuah gedung kecil bernama bis. Pentas yang mengandalkan ibu-ibu sebagai aktor seutuhnya. Tanpa memperhatikan tata panggung, rias, kostum, ataupun tata cahaya. Kurang lebih, seperti Teater Miskinnya Simbah Jerzy Grotowski. Yang terpenting adalah peristiwa pertemuan antara ibu-ibu sebagai aktor dan sekaligus penonton.<br \/>\nNah, kalau sudah dibahas sampai segitu, sudah bisa disebut pertunjukan, bukan? <em>hehe<\/em><\/p>\n<p><strong>3. Info harga di pasar<\/strong><br \/>\nDi antara sekian naskah yang dipentaskan ibu-ibu tersebut, pasti terselip isu pasar. Paling jamak dibicarakan adalah perkara naik-turunnya harga yang sering mendebarkan.<br \/>\nBerkat ibu-ibu yang pulang dari pasar, saya jadi mengerti harga-harga terkini. Tidak jarang mereka mengeluhkan kondisi ini. Tapi toh dapur tetap harus dihidupi. Jadi sebisa mungkin mereka menyiasati.<br \/>\nBagi anak kecil seperti saya\u2014yang tidak tahu apa-apa selain bucin semata\u2014info harga-harga tersebut tidak begitu berarti. Saya juga tidak belanja ke pasar setiap hari. <em>Pol mentok, <\/em>ya jajan dawet ayu yang harganya tetap lima ribu dari dulu. Jadi, saya senyum, nyengir, ikut terkejut, dan ekspresi lain menyesuaikan tangga dramatik emosi ibu-ibu.<br \/>\nTapi untuk ibu-ibu lain yang sedang dalam perjalanan ke pasar\u2014entah jualan atau belanja\u2014info ini penting sekali. Fungsi pertama adalah sebagai patokan harga. Jangan sampai jauh dari harga yang seharusnya. Namanya juga pasar, harga kan sering manipulatif agar terjadi tawar-menawar. Perkara itu, setiap ibu mesti pintar.<\/p>\n<p><strong>4. Ada pasar dadakan<\/strong><br \/>\nPoin terakhir ini memang jarang terjadi. Tapi kalau kamu sempat menemuinya, pasti untung sekali. Kamu bisa jadi pembeli tangan pertama dari ibu-ibu yang menjajakan dagangannya.<br \/>\nSebagai pembeli pertama, kamu akan dapat harga lebih murah dan barang lebih bagus. Pembeli lain sebagai saingan tawar-menawarmu pun tidak sebanyak di pasar besar. Apa ya tidak menggoda hasrat jajan?<br \/>\nSaya sih sering menemui ini. Kalau pas cocok dagangannya, saya pun ikut membeli. Lumayan buat teman di perjalanan. Daripada beli di pedagang asongan yang sering gila dalam mematok harga. Ibu-ibu yang berjualan di bis ini jadi solusi paling <em>hokya~<\/em><br \/>\nNah, itulah beberapa keuntungan buat kamu kalau naik bis bersama ibu-ibu. Tapi ya itu, bisnya yang kecil saja. Bis yang memberi ruang untuk berbagi cerita. Bukan bis yang cuma memberi waktu kita berbicara dengan kondektur saja.<\/p>\n<p>Selamat mencoba!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berada dalam bis yang sama dengan ibu-ibu itu menjadi cerita tersendiri bagi saya. Ada beberapa hal yang saya rasa menjadi keuntungan bagi penumpang.<\/p>\n","protected":false},"author":46,"featured_media":2380,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[453,622,621,620,509],"class_list":["post-2308","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-bis","tag-emak-emak","tag-ibu-ibu","tag-sumber-kencono","tag-yogyakarta"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2308","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/46"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2308"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2308\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2380"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}