{"id":2306,"date":"2019-05-27T18:45:56","date_gmt":"2019-05-27T11:45:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2306"},"modified":"2022-04-04T13:19:36","modified_gmt":"2022-04-04T06:19:36","slug":"emapat-malam-tidur-di-penjara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/emapat-malam-tidur-di-penjara\/","title":{"rendered":"Empat Malam Tidur di Penjara"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai manusia mungkin saya punya pengalaman yang agak komplit dibanding dengan kebanyakan orang. Mengapa? Karena saya pernah merasakan tidur di penjara. Lumayan bangga tentunya walaupun cuma di penjara kepolisian.<\/p>\n<p>Di masa awal kuliah di Bandung, aura rasa keberanian selalu terasa mengepul di setiap pori saya. Walaupun badan saya tak termasuk besar, tetapi kalau berjalan selalu saya buat dengan gaya jagoan dan mata yang disangar-sangarkan. Mungkin mirip Dursasana ataupun Burisrawa bila di cerita-cerita wayang Mahabarata\u2014sesosok <em>kemlinthi<\/em> dan sok jagoan. Walaupun kemudian selalu kalah di semua pertempuran. Hal tersebut adalah sebuah deskripsi sempurna mengenai diri saya di masa-masa akhir SMA dan residunya masih terbawa hingga masa awal kuliah.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebagai sosok <em>kemlinthi<\/em>, saya terlibat dengan beberapa perkelahian di masa SMA. Beberapa saya menangkan dan lebih banyak yang berakhir dengan saya menjadi korbannya. Seringkali kekalahan itu berasal dari jotosan dari banyak tangan yang datang pada saat bersamaan. Kalah karena menjadi korban pengeroyokan.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Mungkin karena naluri <em>kemelinthi<\/em>, saya selalu menabukan diri untuk menghindari musuh yang datang berombongan. Jadi walaupun keberanian menghilang tetapi saya cenderung untuk tetap menjadi sok jagoan. Maju terus walaupun di depan ada serombongan musuh yang jelas-jelas sangat membenci saya yang kemelinthi tersebut.<\/p>\n<p>Dan hasilnya mudah tertebak. Saya menjadi bulan-bulanan pukulan yang menyisakan muka <em>bengep<\/em> yang berlanjut hingga seminggu ke depan.<\/p>\n<p>Karena banyaknya musuh yang saya punyai, akhirnya kemanapun pergi saya terbiasa untuk membawa obeng yang telah dilancipkan. Sebuah alat yang menjadi <em>booster<\/em> keberanian.\u00a0Mirip King Arthur dengan pedang saktinya. Hingga akhirnya suatu hari kesaktian saya diuji.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Di sebuah sore saya berjalan dengan gaya <em>adigang-adigung-adiguna<\/em> di pelataran alun-alun Bandung. Sebuah tempat di mana mahasiswa kere seperti saya bisa bergaya. Karena nyaris tempat itu tak membutuhkan dana apapun untuk menikmatinya. Cukup dengan menaiki bis kota yang selalu kepayahan mengangkut penumpang dan sedikit berjalan kaki untuk memasukinya.<\/p>\n<p>Alun-alun Bandung di awal tahun 90-an adalah sebuah tempat yang merana. Sungguh tak pantas disebut sebagai alun-alun karena tak adanya sebuah ruang lebar yang terbuka. Disana cuma terdapat taman yang selalu terlihat muram dan dipadati oleh tukang obat dan pedagang kaki lima. Ditambahi oleh pengunjung kelas murahan seperti saya tentunya.<\/p>\n<p>Sebagai pemuda jagoan, saya mempunyai mata yang sangat sensitif. Sebuah mata yang haram untuk beradu dengan pandangan yang menantang. Terutama bila bertatap pandang dengan pemuda yang seumuran.<\/p>\n<p>Dan hari itu pandangan mata burung Condor saya menemukan lawan.<\/p>\n<p>Tak lama memasuki alun-alun, mata saya ber-<em>sirobok<\/em> dengan 2 orang laki-laki yang tampak seumuran. Pandangan kami berkait, dan seperti yang terjadi di film-filmnya Steven Chow, ada banyak arit yang berloncatan dari mata kami bertiga.<\/p>\n<p>\u201c<em>Naon siah melongan aing!<\/em>\u201d<\/p>\n<p>(Ngapain elu melototin gue)<\/p>\n<p>Bentakan salah satu dari jeger kampung itu langsung mendidihkan darah \u201cjagoan\u201d saya. Tanpa berpikir panjang saya dekati mereka, dan obeng \u201csakti\u201d kebanggaan saya segera saya keluarkan dari saku celana.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebuah detik yang terasa seperti adegan di film 80-an, saat Conan the Barbarian mengeluarkan pedang saktinya. Kalaupun bukan Conan pastilah<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0 <\/span>He Man tentunya. (Kalian yang bukan generasi 80-an pasti perlu gugling dulu untuk mengartikannya).<\/p>\n<p>Kemudian perkelahian singkat terjadi dengan hasil salah satu tangan dari dua <em>jeger<\/em> kampung tersebut terluka. Saya yang (sok) jagoan ini cuma merasakan nyeri dari bibir yang pecah tergoco oleh salah satu dari mereka.<\/p>\n<p>Perkelahian dihentikan oleh beberapa orang dewasa disana, dan sebuah adegan besar terjadi. Saya mendapatkan gelang sakti dari pak polisi yang secara ajaib tiba-tiba ada di sana. Gelang sakti berupa borgol yang terasa sakit menggigit pergelangan tangan yang terikat di belakang badan.<\/p>\n<p>Dengan dibonceng dan tangan diborgol ke belakang, saya dibawa Pak Polisi menuju Polsek Regol. Sebuah pos polisi yang terletak tak jauh dari alun-alun Bandung.<\/p>\n<p>Tak memerlukan pendataan, mungkin karena hari sudah menjelang malam, saya segera dimasukkan ke ruang tahanan. Sebuah ruang dimana terdapat dipan besar yang menempel di tembok pada kedua sisinya dan dipenuhi oleh sekumpulan manusia bermuka bromocorah.<\/p>\n<p>Mendengar kunci pintu dibuka, para penghuni sel tersebut reflek memberi penyambutan dengan menegakkan badan mereka yang sudah rebahan di dipan besar tersebut.<\/p>\n<p>\u201cNgapain elu bisa masuk kesini?\u201d tanya seorang tahanan dengan badan besar yang belakangan saya tahu bahwa dirinya adalah \u201cpemimpin\u201d tak resmi dari kelompok tahanan disana.<\/p>\n<p>\u201cGelut, Kang.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBaju kamu bagus, buka gih, tukeran sama baju saya,\u201d tambah si badan besar tersebut.<\/p>\n<p>Bak Lionel Messi dan Ronaldo, kami segera membuka kaus masing-masing dan segera bertukar memakainya. Sebuah penukaran yang segera memperkecil lubang hidung saya, karena baju tersebut meruapkan bau ketek yang luar biasa.<\/p>\n<p>\u201cSepatu kami bagus kayaknya, coba buka.\u201d<\/p>\n<p>Sebuah suara lain memberikan perintah dengan nada yang terdengar lebih liar.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>\u201cPunten, A\u2019. Sepatu saya sudah sobek.\u201d<\/p>\n<p>Sepatu saya buka dan saya tunjukkan sebuah sobekan yang terlihat mengiris hati kepada tahanan yang sungguh bermuka preman tersebut. Dia cuma nyengir dan menunjukkan muka tak berminat kepada sepatu butut saya.<\/p>\n<p>Kemudian tiga hari saya jalani. Sebuah proses rutin tidur di kamar tahanan beramai-ramai dengan badan berdekatan untuk menahan dingginnya udara Bandung saat malam. Dilanjutkan keluar saat pagi untuk sekedar mengobrol dan menggerakkan badan. Ditambah mengambil tugas menyapu kantor polisi sambil mengumpulkan puntung rokok untuk kemudian dilinting kembali dengan mempergunakan kertas papir. Sebuah acara rokok bersama dengan para tahanan yang sama-sama kerenya.<\/p>\n<p>Walaupun rata-rata penjahat yang ditahan disana adalah sekedar penjahat kelas \u201ccere\u201d, tetapi saya belajar brotherhood dengan mereka. Sebuah hal yang jarang saya dapati di dunia luar dimana semua bersaing memperebutkan dunia. Petualangan di dalam penjara kepolisian itu berakhir saat saya merasa bahwa saya tak akan bisa keluar dengan begitu saja.<\/p>\n<p>Pada hari ke-4 saya menitipkan pesan kepada keluarga salah seorang tahanan untuk menghubungi salah seorang sepupu saya.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span>Pesan itu sampai dan kemudian meledakkan sebuah berita besar di kantor polisi tersebut. Kapolsek disana mendapatkan sebuah telepon dari hakim dan kemudian pejabat Mahkamah Agung. Mereka berdua adalah om dan tante saya.<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebuah hal besar di jaman orde baru, saat pejabat Mahkamah Agung adalah seorang yang bisa memindahkan seorang kapolsek di Bandung ke Papua dengan tiba-tiba. Tanpa banyak persyaratan, saya segera ditendang keluar dari penjara oleh<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/rame\/kilas\/amien-rais-tuduh-polisi-pki-yang-tembaki-umat-islam-polri-punya-fakta-apa\/\">polisi-polisi yang mendadak ketakutan<\/a> tersebut.<\/p>\n<p>Kemudian saya kembali ke dunia nyata, setelah terlepas dari dinginnya jeruji penjara. Sebuah dunia yang kemudian saya pandang dengan mata yang berbeda. Mata yang tak lagi terlalu <em>kemelinthi<\/em> karena sudah ada rasa takut di dalamnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>kemelinthi : sok (sok jagoan, sok tahu dan sok yg lain&#8230;.tergantung konteks)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai manusia mungkin saya punya pengalaman yang agak komplit dibanding dengan kebanyakan orang. Mengapa? Karena saya pernah merasakan tidur di penjara.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":100,"featured_media":2366,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[34,544,616,615],"class_list":["post-2306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-mahasiswa","tag-masa-lalu","tag-pengalaman","tag-penjara"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/100"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2306"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2306\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2366"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}