{"id":229882,"date":"2023-09-05T15:15:50","date_gmt":"2023-09-05T08:15:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=229882"},"modified":"2023-09-05T15:15:50","modified_gmt":"2023-09-05T08:15:50","slug":"nggak-semua-orang-pare-ngerti-bahasa-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-semua-orang-pare-ngerti-bahasa-inggris\/","title":{"rendered":"Nggak Semua Orang Pare Ngerti Bahasa Inggris, Bro! Kau Pikir Semua Orang Pare Hidup di Kampung Inggris?!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ditanya berasal dari mana, saya tentu menjawab dari Pare, sebuah kota kecil di Kabupaten Kediri. Saya kira bakal biasa saja. Tapi, respons yang saya dapatkan justru stereotip dari orang luar terhadap warga Pare yang pasti mahir bahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">He, tak kandani, ora kabeh arek Pare iso Enggres, Cak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya memang, kebanyakan pendatang baik dari luar kota ataupun luar pulau itu singgah di Pare, Kediri, untuk kursus bahasa Inggris. Tapi apakah semua warga Pare pernah kursus di Kampung Inggris? Jelas tidak, wong warga lokal saja biasanya mampir hanya untuk sekadar ngopi di warung Ketan Susu (Tansu) kalau tidak ya ngegame di warnet Ova Gaming.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hiperbolik pedagang asongan speak English fluently<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Respons lanjutan dari orang-orang yang menanyakan asal saya adalah, \u201cDi sana penjual pentol pake bahasa Inggris, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seumur-umur, saya telah puluhan atau ratusan kali melanglang buana di daerah Kampung Inggris, dan tentu saja saya pernah membeli pentol atau cilok di daerah tersebut. Tapi, saya belum pernah sekal ipun mendapati penjual yang berbahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga dalam pikiran saya muncul asumsi liar bahwa memang ada tendensi pilih kasih dalam aspek kebahasaan dari penjual terhadap warga lokal dan pendatang. Ucapan \u201cbeli berapa mas?\u201d dan \u201chow much do you want, sir?\u201d tentu memiliki kadar afeksi secara implisit yang jelas berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman yang menarik juga pernah saya dapatkan sewaktu masih berada dalam salah satu lembaga bimbingan belajar matematika yang saat itu lokasinya masih di jalan Asparaga, Kampung Inggris. Pada saat jam istirahat, saya membeli minuman dingin di warung yang jaraknya tidak sampai 100 meter dari lokasi bimbel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bertanya kepada pemilik warung, \u201cHow much for this, maam?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, respons yang saya dapatkan justru sangat membagongkan, yaitu \u201cnggak usah kemenggres, Mas. Jowoan ae\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam lubuk hati yang terdalam, saya bertanya, apakah karena tampang lokal saya yang tidak cocok keminggris?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wes, mboh!<\/span><\/p>\n<h2><b>Predikat yang seharusnya tidak mengikat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Pare, bukan berarti kami mahir dalam berbahasa Inggris. Sama halnya dengan Kota Tembagapura yang berjuluk negeri di atas awan, apakah semua warganya ada di langit? Kan tidak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan anggapan masyarakat luar Kediri yang sedemikian rupa, saya beserta kawan-kawan lain yang merupakan warga Pare, sebenarnya ingin bebas dari stereotip-stereotip yang mengharuskan kami mahir dalam berbahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beban psikologis tentu saja terasa jika muncul pertanyaan \u201ckamu kan orang Pare, deketnya Kampung Inggris, kenapa kok nggak lancar bahasa Inggris?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian keberadaan Kampung Inggris pun juga karena terdapat lembaga-lembaga kursus Bahasa Inggris yang berdiri di daerah tersebut. Bukan karena warga lokal yang jago bahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aduh, capek, bro!<\/span><\/p>\n<h2><b>Pare nggak cuma tentang Kampung Inggris<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pare memanglah kota kecil, tapi tidak sesempit itu. Dengan jarak yang tak begitu jauh, cobalah sekali-kali eksplorasi kuliner di sekitar Pare. Nasi Pecel Bu Dewi di timur kawasan <a href=\"https:\/\/www.tiktok.com\/@kulinerkediri\/video\/7012038995421056283?lang=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pemandian Corah<\/a> merupakan salah satu nasi pecel yang patut dikunjungi berulang kali. Tidak hanya itu, Soto Daging Ringin Budho di wilayah alun-alun Thamrin juga merupakan salah satu kuliner yang melegenda bagi sebagian warga Pare.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ingin ngopi santai di angkringan, jalanan W.R Supratman merupakan tempat yang cocok untuk singgah di malam hari. Terdapat beberapa angkringan yang memang bermarkas di deret jalan tersebut. Dengan situasi jalan yang tidak macet, tempat ini memang cocok untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu hanya beberapa sneak peek tentang rekomendasi kuliner di wilayah Pare, Kediri. Sebenarnya terdapat banyak sekali harta karun tersembunyi di kota kecil penuh cerita tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, saya ingin berpesan kepada para pembaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diingat bahwa tidak semua warga Pare mahir berbahasa Inggris. Jangan memberikan beban mental terhadap mereka mengenai kefasihan dalam berbahasa asing. Daripada memberikan stereotip mahir berbahasa Inggris terhadap orang Pare, lebih baik memberikan stereotip bahwa nasi pecel di Pare itu enak-enak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Hillbra Naufal Demelzha Gunawan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampung-inggris-dan-stigma-pare-jahat-yang-disematkan-padanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampung Inggris dan Stigma Pare Jahat yang Disematkan Padanya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya kasih tahu ya, nggak semua orang Pare itu bisa bahasa Inggris. Iya ada Kampung Inggris, tapi itu bukan jaminan!<\/p>\n","protected":false},"author":2316,"featured_media":209249,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[361,5791,6470,5790,20500,19048,4772],"class_list":["post-229882","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-inggris","tag-kampung-inggris","tag-kediri","tag-pare","tag-pecel-pare","tag-stereotipe","tag-stigma"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229882","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2316"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229882"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229882\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/209249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229882"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229882"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229882"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}