{"id":229865,"date":"2023-09-03T13:56:21","date_gmt":"2023-09-03T06:56:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=229865"},"modified":"2023-09-03T13:56:21","modified_gmt":"2023-09-03T06:56:21","slug":"rokok-djarum-76-rokok-warisan-bangsa-dengan-desain-bungkus-yang-menarik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rokok-djarum-76-rokok-warisan-bangsa-dengan-desain-bungkus-yang-menarik\/","title":{"rendered":"Bermula pada 1976, dan Bertahan Hingga Kini dan Seterusnya: Melihat Perjalanan Panjang Djarum 76, Rokok Penuh Sejarah dari Desain Bungkusnya yang Berganti Tiap Era"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh bilang, Djarum, khususnya Djarum 76 itu bukan sekadar rokok. Djarum 76 itu semacam heritage, semacam simbol, semacam identitas kultural, khususnya bagi perokok di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Rokok ini menjadi top notes ketika bicara soal rokok, terutama rokok kretek. Dan Djarum 76 tidak hanya sekadar diisap dan dihembuskan saja, melainkan sebuah simbol perjalanan hidup, simbol perkembangan budaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdengar berlebihan memang, tapi memang seperti itulah adanya. Di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, Djarum 76 jadi rokok yang mungkin bisa dibilang paling laku, paling disukai, dan mungkin paling stabil penjualannya. Maksudnya, tak perlu banyak promosi dengan berbagai macam iklan, orang-orang pasti tahu rokok ini, tak perlu diyakinkan lagi, dan pasti akan beli tanpa pikir panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka 76 di belakang nama Djarum merujuk pada tahun di mana produk ini diperkenalkan oleh PT. Djarum. Iya, Djarum 76 pertama kali muncul dan diperkenalkan pada 1976. Sudah 47 tahun usianya. Selama 47 tahun, rokok ini juga sudah mengalami perjalanan yang panjang. Mulai dari perubahan harga, rasa (meski harusnya tidak banyak berubah), penambahan varian (seperti Madu Hitam, Kurma, dan Mangga), dan perubahan dalam desain bungkusnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Desain Djarum 76<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal desain bungkus Djarum 76, yang ada di benak kita pasti selalu tentang warna coklat keemasan, simple, dan konsisten. Iya, sejak pertama kali keluar pada 1976, rokok ini punya desain bungkus yang itu-itu aja, baik yang kretek maupun yang filter. Warnanya juga masih bertahan di spektrum coklat. Kalau pun berbeda, pasti itu sudah beda varian. Misalnya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/manis-madu-di-sebatang-djarum-76-madu-hitam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">.<\/a> yang dominan warna hitam, atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/djarum-76-mangga-rokok-ramah-lingkungan-dan-perut-kosong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">76 Mangga<\/a> yang dominan warna kuning dan hijau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir dari <\/span><a href=\"https:\/\/ejurnal.politeknikpratama.ac.id\/index.php\/jcsr\/article\/view\/1584\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Journal of Creative Student Research<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> (JCSR) Vol. 1, No. 3, Juni 2023, dari tahun 1976, Djarum 76 sudah mengalami berbagai macam perubahan desain bungkus. Pertama kali, rokok ini muncul dengan kemasan simple berwarna cokelat (belum cokelat keemasan), dengan nama Djarum yang miring, serta ada gambar jarum dan logo \u201c76\u201d di atasnya. Saat itu, satu bungkus masih berisi 10 batang per bungkusnya, dan hanya kretek. Desain bungkus ini bertahan dari tahun 1976 sampai sekitar 1990-an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 1990-an, bungkusnya mulai berganti. Era ini adalah era di mana bungkus Djarum 76 mulai memakai warna cokelat keemasan. Selain itu, isi per bungkusnya juga sudah 12 batang. Dari sisi desain, era ini sudah semakin simple dan elegan. Tulisan Djarumnya masih miring, meski lebih tebal. Tidak ada gambar jarum, tapi masih mempertahankan logo \u201c76\u201d di atasnya. Desain ini jadi desain paling fenomenal, dan jadi desain paling banyak ditiru oleh merek rokok lain.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Masuk era modern<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desain ini bertahan cukup lama sampai sekitar 2007-an. Setelahnya, desainnya mulai masuk ke desain yang lebih modern. Fase ini, Djarum 76 mulai meninggalkan gaya lama. Sudah tidak ada lagi tulisan Djarum yang miring. Logo \u201c76\u201d juga sudah berubah menjadi lebih modern. Secara warna juga sudah bertambah, ada spektrum oranye yang berpadu dengan cokelat keemasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada era ini, logo \u201c76\u201d mendapat porsi lebih besar dan berada di bagian tengah tapi lebih menjorok ke arah kiri. Sementara itu, tulisan Djarum juga sudah kecil, berada di bagian sudut kanan bawah bungkus rokok. Yang istimewa, di bungkus rokok ini ada samar-samar logo kecil \u201c76\u201d yang memenuhi latar belakang desain. Desain ini bertahan tidak terlalu lama, hanya sampai tahun 2010-an saja sebelum akhirnya ada perubahan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di tahun 2010-an, desain 76 memang berubah, meski tidak terlalu banyak perubahan. Desainnya masih sama, logonya sama, penempatannya juga masih sama. Bedanya, bungkus Djarum 76 tahun 2010 ini hanya ada di warna yang semakin gelap saja, tidak secerah edisi 2007.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Aturan baru yang mengubah segalanya<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan baru terlihat setelah tahun 2014, ada aturan bahwa rokok harus memperlihatkan gambar peringatan bahaya merokok. Barulah terlihat perubahannya. Desain rokok yang tadinya memakan semua area bungkus, kini hanya mendapat 3\/4 bungkusnya saja. Logo \u201c76\u201d semakin ke bawah, dan tulisan \u201cDjarum\u201d semakin mojok ke sisi kanan bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2017, desain akhirnya berubah. Perubahan yang cukup signifikan, perubahan yang akhirnya menjadi wajah dari Djarum 76 sampai sekarang. Tahun 2017, desain kembali ke bentuk yang sederhana tapi tetap elegan. Warnanya masih cokelat keemasan, lalu logo \u201c76\u201d berwarna cokelat dan emas berada tepat di tengah, diikuti oleh tulisan Djarum tepat di bawahnya dengan warna emas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah-tengah era itu, ada juga desain yang berbeda. Djarum 76 muncul juga dengan desain bungkus berwarna oranye, dengan logo \u201c76\u201d di tengah, tulisan Djarum di bawahnya. Bedanya, ada semacam ukiran atau aksen yang ada di latar belakang desainnya. Ada juga Djarum 76 Filter Gold yang punya desain yang tidak jauh berbeda. Warnanya oranye keemasan, penempatan logo dan tulisan Djarum masih sama. Bedanya mungkin hanya di penambahan tulisan \u201cfilter gold\u201d saja.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Desain Djarum 76 edisi Peringatan Kemerdekaan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah desain paten dari bungkus rokok Djarum 76. Selain itu, masih ada desain bungkus yang lain, salah satunya adalah bungkus edisi kemerdekaan Indonesia yang ke-76 pada tahun 2021. Desain edisi ini menarik, karena berkolaborasi dengan Temusiku, seniman pembuat bungkus rokok dengan kayu. Gambarnya juga menarik, dengan gambar motif lukisan bunga yang dibuat sedemikian rupa. Sayang, edisi ini terbatas dan mungkin sudah tidak dijual lagi sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sekarang pertanyaannya, dari sekian banyak desain bungkus Djarum 76, mana yang terbaik?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini mungkin akan subjektif, tapi saya akan memilih desain tahun 2007-2010. Alasannya sederhana saja. Pertama, masih tidak ada gambar peringatan bahaya merokok. Kedua, karena desainnya bagus sekali. Paduan logo \u201c76\u201d yang estetik, tulisan Djarum di sisi bawah yang berwarna cokelat gelap, lalu ada samar-samar logo \u201c76\u201d kecil yang memenuhi latar belakang desain bungkus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya, desain 2007 itu masih relevan di era sekarang. Dibilang vintage juga ada unsur vintage-nya, tapi dibilang modern juga bisa. Jadi, apa ya istilahnya, oh iya, evergreen. Buat saya, desain tahun 2007 itu adalah desain terbaik. Sekarang, rokok 76 dengan desain itu memang sudah tidak dijual. Tapi, kalau kalian mau ngoleksi bungkusnya, sepertinya ada yang jual bungkusnya saja di marketplace. Coba cari saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desain Djarum 76 tahun 2007 adalah yang terbaik buat saya. Kalau kalian, desain mana yang terbaik?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Iqbal AR<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merindukan-djarum-black-tea-rokok-enak-yang-kini-sudah-tiada\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Merindukan Djarum Black Tea, Rokok Enak yang Kini Sudah Tiada<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bicara soal desain bungkus Djarum 76, yang ada di benak kita pasti selalu tentang warna coklat keemasan, padahal sempat ganti beberapa kali.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":229867,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[14280],"tags":[9387,3174,14289,20474,1944],"class_list":["post-229865","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sebat","tag-desain","tag-djarum","tag-djarum-76","tag-rokok-djarum","tag-sejarah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229865","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229865"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229865\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/229867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229865"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229865"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229865"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}